Catatan Sang Petualang

February 27, 2006

Blog Moving

Filed under: Umum

From now, I have managed to move this blog to a more ‘real’ and serious (of couse, does not mean that using a free service like blogsome is not serious) address at http://www.jodyananda.com

Welcome !

Salam dari Sanur

Jody Ananda aka Mas Jabier

February 8, 2006

Kevin’s Birthday

Filed under: Umum, English Section

Today is my son’s birthday. Kevin is getting 2 years old now, you can not imagine the speed of time when you just get there. Simply, just get into the situation.

He was born 2 years ago on this date, on Sunday. I still remembered that day. I was sitting in my father-in-law berugaq (a small sitting are with alang-alang roof made) , doing a chit chat with my wife talking and waiting for our transport driver that would take me to Sumbawa. My lovely wife had already take her maternity leave a week before.

Suddenly she shouted, and the first process of giving birth begin. Kevin was born around 7 o’clock PM.
We name it Kevin, from a Gaelical-AngloSaxon word, which means : handsome and blessed. While Torvaldi comes from my adoration to Linus Torvalds, the Linux creator. (Somehow, when I look at Ubuntu Linux Distribution today, which also cover the Edubuntu, a special project specific to Education using Linux, I saw several attractive educational programs. Maybe I’ll get my Ubuntu for Kevin, later.)

Happy Birthday, Kevin ! We’ve just bought you a new Laptop for you, and Ubuntu will be next :)
Here, you can find some of his pics !

Gitaris On his 1st birthday celebration Sambutan Artis Smiling with his Mom Having a bath With Daddy

Salam dari Sanur,

Jody Ananda

February 6, 2006

(Lagi) Tentang Ahmadiyah

Filed under: Agama, SosBud, Umum

My Wife
Saya membaca dengan seksama peristiwa pembakaran rumah-rumah warga penganut Ahmadiyah di Lingsar, Kodya Mataram Lombok karena dua hal : kebetulan lokasi kejadian masih dalam domain tempat tinggal saya, — dan saya pernah menulis mengenai Ahmadiyah.

Apa yang saya khawatirkan, bahwa nanti pasti terjadi tindakan anarkis dari masyarakat ternyata menjadi kenyataan. Dan sayangnya, pemerintah tidak pernah belajar dari kasus ini (ini sudah kali ketiga, sejak penyerangan Kampus Ahmadiyah di Parung).

Sekali lagi saya tekankan, saya tidak akan membahas Ahmadiyah dari sisi teologis, karena itu bagi saya itu sudah final .(lihat pembahasan saya disini)

Tentu, kita sama-sama menyayangkan aksi pembakaran ini. Agama adalah hak dasar dan asasi dari manusia, dan ketika umat Islam bisa berlaku baik kepada umat beragama lain (Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, atau bahkan orang ateis), mengapa tidak bisa bertindak yang sama terhadap Ahmadiyah, yang notabene masih menjalankan shalat, zakat dan puasa ? Terlepas dari keyakinan i’tiqadiah yang berbeda, bisakah kita memperlakukan mereka sebagai agama yang berbeda ?

Mungkin ini yang seharusnya menjadi peran pemerintah. Berikan tawaran kepada Ahmadiyah jika masih ingin mendapatkan hak-hak seperti agama lainnya :

  • Lepaskan baju Islam dari Ahmadiyah
  • Jadikan Ahmadiyah sebagai agama baru (sama seperti Kong Hu Cu, dll, dan menegaskan bahwa tidak ada kaitan sama sekali antara Islam dan Ahmadiyah

Saya yakin, dua hal ini juga akan memuaskan Ahmadiyah, dan juga bagi warga yang merasakan aktivitas dakwah Ahmadiyah yang mengkhawatirkan akan menggerogoti sendi-sendi dasar Islam.

Labelled enemies are easier to be kept.

Salam dari Sanur,

Jody Ananda

February 1, 2006

Playboy van Indonesie

Filed under: Agama, SosBud, Umum

Demo BBM
Anda sulit mencari majalah Playboy ? Kalau perlu blusukan dulu –mungkin di jalan-jalan daerah Bronx New York sana–, sambil toleh kiri kanan ? Dan si penjual cuman senyum-senyum liat face kita yang Asia banget, dan kalau dia agak curious dia paling bilang “Got any ID, Sir..?? “.

Kalau enggak, ke Singapur, jalan ke Orchad road sana. Atau ya nitip teman yang di Amrik dan beli online di www.playboy.com.

Nah, beberapa waktu lagi, kita beli Playboy di toko pinggir jalan di Indonesia. Luar biasa kan ??

Saya tidak akan bicara polemik mengenai masalah Playboy disini, baik dari sisi teologi maupun fiqh (tafsir-hadits-ushul-dst), maupun sosial budaya. Anda tentu sudah mengerti peta dan pendapat dari kedua sisi tsb, dan itu tidak usah diperdebatkan lagi. Secara fiqh sudah final, jangankan melihat aurat ataupun ’separo’ aurat, memandang muka bukan muhrim dengan syahwat saja sudah masuk kategori haram. Jika anda kaum Adam (normal seperti saya, –maaf buat yang tidak normal) ada yang yakin ketika melihat lekuk tubuh Luna Maya atau Sarah Azhari di Popular — tanpa melibatkan syahwat ? Gak mungkin la yaww.

Dari sisi sosial dan atas nama kebebasan berekspresi pun sudah jelas. Saya tidak akan bicara itu. Saya akan bicara dari sisi sejarah.

Hugh Heffner, sang kreator Playboy –edisi pertamanya keluar di tahun 1953–, adalah seorang pria yang bisa melihat peluang bisnis atas sesuatu yang sudah berjalan ribuan tahun di bumi ini : sebuah pelarian seksual. Oasis. Dengan memuat gambar-gambar syur di majalah tersebut , langsung memantapkan brand image-nya sebagai majalah pria yang paling ‘most wanted’. Tulisan-tulisan di Playboy sendiri, merupakan tulisan-tulisan yang bagus (tidak melulu seks, ada cerpen, report, features, etc), dan bahkan beberapa writer terkenal Amerika pun pernah menulis di Playboy seperti Alex Haley dan Alvin Toffler. Ha ?Alvin Toffler yang nulis “Third Wave” itu ? Ya, iya lah. Do we have another Toffler ?

Heffner hanya memanfaatkan instink purba para pria (yang normal, tentu saja), dan kemudian membungkusnya dengan kemasan yang bagus dan taktik marketing yang oke. Kita masih ingat statemen Sigmund Freud yang terkenal : “libido seksual adalah faktor utama penggerak hidup ini“. Silakan sepakat dan tidak sepakat.

Playboy hanya memanfaatkan sesuatu yang memang sudah ada, dan berjalan ribuan tahun di bumi ini. Anda tahu apa profesi tertua di dunia ini (at least, kalau sempat mendengar, tentu tahu maksud saya ) ? Semuanya berujung pada sebuah kata : seks. Salah satu tafsir kitab suci yang pernah saya baca pun mengatakan bahwa ‘pengetahuan‘ (atau dalam istilah lain “pohon Khuldi” yang dimakan oleh Hawa) yang dilanggar Adam ketika di Surga adalah ‘pengetahuan regeneratif‘ (metode untuk melestarikan spesies), dan dalam kasus manusia itu hanya kembali pada satu kata : seks.

Needles to say, Playboy hanya memanfaat wacana sejarah yang sudah ada.
Jadi Playboy van Indonesie ? Kalau anda punya uang dan suka dengan cover edisi pertama ini, ya silakan beli saja.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

January 23, 2006

Surat Terbuka untuk Rektor ITS

Filed under: Politik, SosBud, Umum

Kepada Yth.
Bpk. Dr. Ir. Muhammad Nuh
selaku Rektor ITS
Di - Surabaya

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mencermati kasus skorsing 14 mahasiswa ITS yang terjadi akhir-akhir ini, sebagai alumni kami tergerak untuk menyatakan sikap kami.

Skorsing terhadap tindakan yang diindikasikan sebagai melanggar, tanpa memberikan peringatan keras dan teguran sebelumnya sungguhlah sangat dzalim. Ditambah lagi apa yang mereka perbuat masih sangat terbuka untuk diperdebatkan sebagai melanggar.

Asas kemandirian organisasi mahasiswa hanya mensyaratkan pertanggungjawaban secara administratif kepada pihak birokrat kampus, baik di tingkatan Jurusan, Fakultas maupun Institut. Pertanggungjawaban mereka adalah kepada konstituen mahasiswa, melalui lembaga-lembaga seperti RUMJ dan atau Rapat Anggota.

Sangatlah tidak masuk akal kalau kemudian pihak birokrat Kampus mencampuri urusan-urusan perekrutan anggota, mekanisme organisasi atau urusan-urusan internal lain. Tindakan ini hanya membalikkan putaran jarum jam kembali ke zaman pra-reformasi, dimana pemerintah bahkan melakukan kooptasi terhadap organisasi pemuda dan mahasiswa.

Jika dahulu kami di tahun 1998 lalu, sebagai mahasiswa kami berteriak dengan kata-kata ‘menuntut’, ijinkanlah kami disini memperhalusnya menjadi ‘meminta’, dengan dilandasi semangat untuk membangun almamater kami,ibu yang luhur ITS.

Pokok-pokok pikiran kami adalah sebagai berikut:

  • Meminta anda, sebagai Rektor ITS untuk meninjau kembali keputusan skorsing yang dijatuhkan kepada 14 mahasiswa ITS dari jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi ITS.
  • Meminta pimpinan ITS untuk membuat aturan yang jelas dalam kaitannya dengan organisasi kemahasiswaan di ITS dan proses kaderisasi di dalamnya dengan melibatkan peran serta penuh mahasiswa dan menghormati asas kemandirian ORMAWA sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku.
  • Meminta pimpinan ITS untuk menghormati kemandirian organisasi mahasiswa ITS, dan sebaliknya mengajak organisasi mahasiswa untuk menjalankan kewajibannya memberikan pertanggungjawaban secara administratif kepada kepada pimpinan ITS, baik di tingkatan Jurusan, Fakultas maupun Institut.
  • Meminta peran aktif Ikatan Alumni ITS untuk dapat menjadi mediator dalam masalah ini. Urusan internal ITS sudah sepatutnya diurus sendiri oleh keluarga besar ITS, bukan oleh orang luar.

Demikian surat terbuka ini kami sampaikan, semoga kita diberi kekuatan oleh Tuhan YME untuk bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik, dalam semangat kekeluargaan dan ke-ITS-an.

Denpasar, Januari 2006

Cc :
Dr. Ir. Achmad Jazidie, PR III ITS
Pimpinan Fakultas Teknologi Informasi ITS
IKA ITS Pusat cq. Bpk. Ir. Kristiono
Media Massa
Milis ITS terkait

Alumni ITS yang memberikan persetujuan dan mendukung Surat Terbuka ini (diurut berdasarkan waktu),

Jody Ananda,S.Kom (T.Informatika ‘94)
Bambang Wiyono,S.Si (Fisika ‘93)
Vivid Devianti,ST,MM (T. Industri ‘92)
Agus Subhan Akbar,S.Kom (T.informatika ‘94)
A. Andi Leon Arkantoro,ST (T. Perkapalan ‘93)
Kurnia KP Pratomo,ST (T. Sistem Perkapalan ‘93)
Heri Setyono,S.Kom (T. Informatika ‘ 95)
Agus Nasruddin, A.Md (D3 T. Kimia ‘ 96)
Dhia M Shahab,S.Kom (T. Informatika ‘96)
Arif Widya,S.Kom (T. Informatika ‘98)
Kusno Mudiarto,S.Kom (T.Informatika ‘94)
Joko Wijoseno WR, S.Kom (T.Informatika ‘94)
Novel S Sidabutar (T. Informatika ‘95)
Teno P Arief, S.Si (Matematika ‘98)
Danang Sumartono, S.Kom (T. Informatika ‘98)
Willi Jensen, S.Kom (T.Informatika 2001)
Nelly Rosidha Arif, S.Si (Kimia ‘99)
Mario CSP, S.Kom (T. Informatika ‘97)
Munawar Kasan, ST (T. Perkapalan ‘92)

October 4, 2005

Jelang Ramadhan

Filed under: Agama, SosBud, Umum

Demo BBM
Saya teringat sebuah baris di puisi-nya KH Mustafa Bisri, ketika mengulas bulan Ramadhan (saya lupa judul puisinya) :

         Ramadhan,
         Orang-orang bilang engkau adalah bulan Suci,
         Tapi apakah aku mengetahu tentang kesucianmu ?

         Ramadhan,
         Orang-orang bilang engkau bulan penuh berkah,
         Tapi seberapa baik aku mengisi hari-harimu ?

Kemudian terjadi monologue di ruang bathin saya :
(Sang Aku-Jody- SAJ) : Engkau tahu makna bulan Suci ?
(Jody-Alter Ego-JAE) : Tentu tahu. Bukankah bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmah, barokah dimana umat Islam melaksanakan kewajiban berpuasa…

(SAJ) : Sebatas itu pengetahuanmu ? Dari teks-teks ayat yang kau baca tanpa makna ? Dari ceramah-ceramah yang kau cerna tanpa kau pahami ?
(JAE) : Tentu, darimana lagi aku dapatkan pengetahuan, kecuali dari yang pernah kubaca dan kudengar ?
(SAJ) : Berarti engkau belum sampai pemahaman yang benar mengenai bulan Suci…
(JAE) : Seperti apakah pemahaman yang benar itu ?
(SAJ) : Pertanyaanmu yang terakhir, dan tindakan-tindakan keseharianmu, membuktikan bahwa engkau belum melihat hakikat bulan Suci.

Astagfirullah.
Kemudian saya berkaca pada sebuah kaca bening, dan disana saya masih melihat betapa diri ini masih diliputi tindakan-tindakan yang tidak rahmah : jarang membaca ‘ayat2′ Allah, masih menyakiti makhluq Allah, masih ‘berbohong’ walaupun dibungkus dengan kemasan professionalisme, tidak mendidik diri untuk lebih baik, masih melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah, etc,etc.

Masihkah saya berani menyebut Ramadhan ini bulan Suci ?

Sebuah ayat muncul di lintasan fikiran saya : “Syahru ramadhaana unzila fiihi ‘l-Qur’an huda ‘lin-naas. ” Bulan Ramadhan dimana (didalamnya) diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi (umat) manusia.

Seberapa besar saya menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk (al-Huda) ? Dan jika kita mengambil skala treshold (batasan) dan saya masuk di 20% saja, masih pantaskah saya menyebut diri dan mengaku-aku diri sebagai bagian orang-orang beriman ?

Lalu saya teringat ujar-ujaran (hadits) Kanjeng Nabi Saw yang mulia : “Man shaama ramadhaana imaanan wah tisaban, gufiralahu maa taqaddama min dzanbihi.” Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan ini dengan (penuh) keimanan dan kesungguhan (perhitungan), diampunkan dosa-dosanya di masa yang lalu.” Dalam ilmu nahwu-sharaf, kata ihtisaban berasal dari akar kata (masdar) hasiba-yahsibu-hisaaban yang artinya (Insya Allah, karena saya sedang tidak memegang kamus al-Munjid) adalah menghitung (verb), menimbang (verb), penuh perhitungan (adj).

Apakah selama ini saya berpuasa dengan penuh perhitungan ? Selama ini, puasa saya baru dalam taklif amal (tindakan), artinya sekedar memenuhi tuntutan syara’, belum sampai pada skema ta’rif (pengenalan) apalagi tafhim (pemahaman).

Saya lalu teringat ujar-ujaran beliau yang lain mengenai Ramadhan, bahwa sepertiga terakhir bulan tersebut, adalah itqun min ‘n-Naar. Sebuah penebusan dari Api Neraka. Duh Gusti, siapa yang tidak takut akan siksa-Mu yang Maha Dahsyhat ? Dan siapa yang tidak ingin mengharapkan surga-Mu, yang Engkau sebutkan dalam Quran : “tidak pernah terpikirkan oleh rasa, budi, daya dan akal manusia ?

Awal dari ibadah adalah kesucian, itulah mengapa bab Thaharah (bersuci) menjadi bab-bab awal pembahasan kitab fiqh manapun. Ijinkan saya dengan rendah hati meminta maaf dari anda sekalian (pembaca, rekan blogggers, saudara, handai taulan, dll) dari segala salah, lupa, khilaf, agar kiranya, mudah2an, dengan kebersihan hati tersebut, bisa memaknai bulan ini dengan lebih baik.

Ilaahi, ahdini wa’fhamni min hadza ’syahrun wa barokati fih.
Tuhanku, beri aku petunjuk dan pemahaman untuk mengetahui keberkatan (kemuliaan) bulan (Ramadhan) ini.
Ditengah cobaan berat yang kami alami : kenaikan BBM, dan tingkah polah makhluq-Mu yang membuat aksi teror di bumi-Mu yang indah;
Ilaahi, Laa tuhammilna, ma la qaatala nabihi, warhamna, wa’fuanna, wansyurna biquwwatika
Tuhanku, janga beri kami cobaan, yang tidak kuat kami menanggungnya; kasihanilah kami, ampunkan dosa-dosa kami, dan berilah kami kekuatan-Mu untuk menghadapinya.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

September 29, 2005

Hanya ada satu kata : lawan ..dan nge-Blog!!

Filed under: Politik, SosBud, Umum

Demo BBM
Mas Wiji Thukul mungkin saat ini sedang bersenda gurau dan berpuisi dengan Tuhan di alamnya, dan dikuburnya yang entah dimana.

Menyikapi kenaikan BBM, saya memperhatikan dan mengamati dengan cermat. Termasuk aksi 40.000 orang (saya dengar sih begitu) dari berbagai komponen masyarakat yang direncanakan hari ini.

Pertamina memang sudah bangkrut, bangkrut dalam artian secara manajemen dan kultur. Dan walau Widya Purnama, eks-Dirut yang kena kick-off, satu almamater dengan saya, saya menganggap memang dia harus turun dari Pertamina, dengan berbagai kasus yang menggelikan kalau tidak memalukan : kelangkaan BBM, korupsi, pencurian minyak, dan menangnya Exxon di ladang Cepu. Tidak fair kalau saya menyebut ini sebagai kesalahan dia seorang, tapi at least, sebagai CEO, tentunya dia yang harus bertanggung jawab. Kalau bukan dia, lalu siapa ?

Kita bisa melihat website berikut, yang mengklaim sebagai FAQ mengenai kenaikan BBM. Setidaknya sebagai referensi anda sebelum berdemo.

Memang sudah terlalu banyak rakyat Indonesia di-tepu oleh penguasa. Jadi, hanya ada satu kata : Lawan !!

Kalau saya tambah satu : ..dan Nge-Blog.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

September 18, 2005

Sebuah Gelang, sebuah Kepedulian

Filed under: Umum

Gelang Solidaritas

Simple things, simple ideas combined with hardworking can become an energy of success.” - Anonymous

Kita sering melihat, bahwa sebuah kerja besar, yang nantinya melahirkan sukses dan menimbulkan perubahan yang sangat berarti, sering dimulai dengan ide-ide yang simpel. Bahkan kita harus bersyukur bahwa vending machine tempat para peneliti ARPA mengambil minuman terletak di lantai bawah, dan itulah yang akhirnya membuat mereka mencari solusi agar mereka tahu apakah vending machine itu masih ada isinya atau tidak, …. dan akhirnya dari sanalah Vinc Cerf menemukan TCP/IP protocol, yang menjadi tulang punggung Internet yang kita nikmati sekarang ini.

Gelang adalah sebuah aksesori simple, dan yang saya pakai ini dikeluarkan oleh Tunas Cendekia, sebuah yayasan yang bergerak untuk membantu pendidikan bagi anak-anak di Indonesia. Ide sederhana, dan seratus ribu perak yang kita sumbangkan akan sangat membantu buat mereka.

Lihat saja gambar saya memakai gelang ini ya, cool enough kan ??


Gelang Solidaritas

Thanks for my friend, Ngurah, for giving me this cool stuff. Not only the stuff, but the great ideas regarding solidarity and social awareness behind that. Besides, it’s red, close to my left ideas…:))

September 2005
Salam Dari Sanur,

Mas Jabier

September 16, 2005

Kaki Lima

Filed under: SosBud, Umum

Kaki Lima
Memori saya masih menyisakan kenangan kejadian ini.
Jum’at, tanggal dan bulan saya lupa di tahun 1992. Seperti biasa, dipagi hari sekitar jam 9, saya sudah meluncur ke Depok untuk sekedar ‘main’ di tempat komputer, dan mengasah sedikit kemampuan komputer saya. Sepulangnya, sebelum Jum’atan, saya mampir ke Kantor Pos Pasar Minggu untuk menge-poskan surat, ah saya lupa buat siapa. Dan pemandangan inilah yang ada di hadapan saya :

“Bu’, minggir bu’…jangan jualan disini…ayo bubar-semua.” Dengan angkuhnya belasan orang berpakaian satpol PP sibuk mengusir kaki lima di Pasar Minggu, yang waktu itu sudah mulai agak semrawut. Saya melihat ibu ini, dengan berkalungkan cabe, jengkol dan pete, membawa bakul, repot mengurusi dagangannya. “Plak, ..plak..plak.. ” Tongkat-tongkat pun mulai beraksi memukuli mereka. Orang-orang ramai mulai berkerumun dan ada yang berteriak-teriak.

“Astagfirullah, bukan begini cara mengajari mereka, mereka cuman cari makan…” batin saya. Pukulan tongkat makin cepat berayun, saya maju ke depan melindungi ibu pedagang tersebut, dan tangan saya pun secara otomatis memberikan tangkisan karate A-gyu-kee, dan menahan tangan sang durjana dibalik seragam satpol. Terjadi debat kusir, saya cuman minta mereka beri sedikit waktu bagi PKL ini untuk berkemas, dan tidak usah pakai main pukul segala.C’mon, they’re just ladies, and your mothers too.

Episode berikutnya dalam hidup saya adalah awal dari pemihakan saya kepada orang-orang tertindas, dimanapun dan kapan-pun. Seperti pedagang2 PKL tersebut.

Ketika beberapa tahun berikutnya saya mampir lagi ke Pasar Minggu, situasinya sudah jauh lebih semrawut. Bahu jalan tidak lagi terambil 1/4, tapi bahkan sudah mengambil satu jalan tersendiri sehingga hanya ada satu jalan yang semestinya satu arah, menjadi dua arah. Efek reformasi di tahun 1998, menambah parah situasi tersebut karena PKL pun bisa menjadi anarkis.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan mereka. Seperti juga PKL di Pancoran, mereka mulai dengan 1-2 orang, dan ada oknum2 PEMDA yang menikmati jasa ‘kebersihan’, dan belum lagi para preman yang memungut jasa keamanan. Secara formal, yang harus bertanggung jawab adalah PEMDA.

PKL,jelas adalah buah dari sistem ekonomi kita yang carut marut. Yang PEMDA lakukan lebih dari sekedar reaksi, ketimbang sebuah solusi cerdas yang mampu menghilangkan masalah. Beri mereka tempat yang layak, beri aturan yang jelas bagi PKL, dan bersihkan bahu jalan dari apapun yang mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Setelah mereka mendapat tempat yang layak, bukankah nanti pembeli juga akan datang ke lokasi yang telah ditetapkan ? Berikan pemahaman kepada PKL bahwa lokasi yang jauh dari jalan tidak akan mengganggu pendapatan, sebab nanti lama kelamaan ketika masyarakat sudah tahu kemana harus mencari mereka, maka situasinya sama, hanya dipindahkan tempatnya saja.

Apakah PEMDA sudah melakukan langkah tersebut ? Saya yakin tidak, sekali lagi mereka hanya melakukan reaksi, bukan sebuah solusi. Ingat ketika di Bogor, para PKL disuruh libur satu hari karena Presiden mantu ? biar bersih jalan katanya… Atau hanya karena Yang Mulia Presiden akan melintas ?

Saya mungkin bukan orang yang tepat untuk membeberkan solusi atas permasalahan PKL di Jakarta. Banyak orang pintar di BAPPEDA, Tata Kota dan lain-lain, mereka yang punya ilmu dan otorisasi untuk melakukan hal tersebut.

Saya hanya rakyat biasa. Dan tulisan ini hanya mencoba memberikan ilustrasi bahwa permasalahan PKL bukan lah sebuah domain, tapi hanya lintasan dari akar-akar permasalahan yang sudah menggurita sebelumnya.

Salam Dari Sanur,

Mas Jabier

August 17, 2005

Kita (masih 1/2) Merdeka !

Filed under: Politik, Umum

Proklamasi
Seperti layaknya sebuah ritus, –yang diagung-agungkan–, kemudian menjelma menjadi tradisi dan kemudian rutinitas, peringatan kemerdekaan tahun 2005 ini mencatat beberapa hal yang baru : 60 tahun, enam dasawarsa, sebuah usia yang tidak lagi muda; sebuah konsep politik baru yang melahirkan presiden yang dipilih langsung oleh rakyat; dan lembaran baru untuk Aceh.

Tidak semua hal baru saya sebut diatas, dan tentu saja tidak selalu hal yang baru itu baik. Memperingati Hari Kemerdekaan sebuah bangsa haruslah menjadi sebuah oase bagi pemenuhan semangat kebangsaan, yang dirintis oleh para founding fathers kita : Soekarno, Hatta, Sjahrir, Dokter Sutomo, Wahidin, Ki Hajar Dewantara dan lain-lain.

Apa sebenarnya makna kemerdekaan yang sejati ?
Merdeka (terambil dari akar kata bahasa Sanskrit ma-har-dhi-ka), bermakna sebuah kondisi atau keadaan dimana seseorang bebas dari segala ikatan yang memasungnya, baik ikatan yang bersifat sosio-kultural, maupun ikatan yang bersifat fisik. Bebas menentukan ke arah mana dia berjalan, menghirup udara bebas yang diberikan oleh Tuhan, dan terbang kemana saja dia suka. Karena itulah, banyak lambang negara yang diasosiasikan dengan burung; entah burung Elang (seperti Amerika), atau Garuda (seperti yang kita miliki). Burung elang yang gagah, terbang dengan cepat kemana saja dia suka; dan memiliki mata tajam ; semuanya analog dengan budaya pembebasan dan kemerdekaan.

Apakah kita sudah merdeka ?
Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu kita definisi kemerdekaan diatas harus sedikit direvisi agar klop dengan identitas negara : Sebuah negara yang mandiri, tidak terikat dengan ancaman dan ketakutan yang mengharuskannya melakukan sesuatu yang memalukan; sebuah negara yang tidak didikte oleh siapapun; sebuah negara yang mampu mencukupi segala kebutuhan warga negara dan memanage semua resource-nya dengan baik; tanpa rasa takut, khawatir dan lain-lain.

Indonesia masih 1/2 merdeka.
Kita lihat saja apa yang dilakukan oleh Indonesia ketika kedaulatannya dicabik oleh tetangga jiran (yang selalu berlindung dibalik “British rules the waves”) ketika terjadi class fisik seperti tahun 60-an. Tidak ada bluffing, tidak ada action yang menunjukkan sebuah dignity sebagai sebuah nation. Apa yang dilakukan Indonesia ketika salah satu nelayannya ditangkap dengan semena-mena di Australia dan kapalnya dibakar ? Nothing, at least I can say that. Australia yang jumlah penduduknya kurang dari 10% penduduk Indonesia, dengan tentara yang pas2an, berani melakukan pelecehan seperti itu. Lihatlah apa yang dilakukan Amerika terhadap warganya : walaupun sudah terbukti bersalah di Singapura dan dikenakan pasal hukum cambuk, mereka teriak dan bluffing dan melakukan segala cara untuk meniadakan hukum cambuk tersebut. But Singapore kept tough, and says no. Itu yang harus kita contoh; baik dari Amerika, maupun sikap Singapura yang tegas dan kokoh pada pendiriannya.

Apa yang kita lakukan pada Singapura yang “menyimpan” belasan koruptor buronan dari Indonesia ? Bagi saya tidak ada jalan lain; ultimatum Singapura bahwa jika mereka melindungi koruptor (yang adalah musuh negara), menahan asset mereka, maka they declare a war against us. Tidak usah berlindung dibalik konvensi ekstradisi yang belum kita tanda tangani; Just give those outlaw bastards to us !

Kita masih setengah merdeka.
Mari kita penuhi yang setengah lagi dengan tegak berdiri dan berkata : “Aku ingin kemerdekaan yang sesungguhnya.”

Entah kenapa, saat-saat seperti ini saya rindu dengan figur Soekarno. Adakah semangatnya menitis dalam jiwa salah seorang pemimpin kita ? Saya ingin mendengar kembali ucapan William Wallace, pahlawan Skotlandia :
They may take our lives,
 But they can’t take our freedom……

teresonansi pada ucapan Indonesia pada Singapura (atau Amerika, atau Malaysia, atau negara lain yang berlagak jago) :
You can take out our bastards, but you can’t take our dignity.”

Indonesia,
Sungguh darah ini adalah darahmu,
Disana mengalir air yang kuminum dari bumimu,
Didadaku, kuhirup udara dan memandang biru langitmu,
Mataku memandang bumi-mu yang indah, seindah zamrud khatulistiwa,

Dan jika sampai ajalku,
‘Kuingin tulang dan darah ini kembali ke bumimu,
menyirami tanahmu yang subur,

Di hari ini, aku ingin berteriak,
MERDEKA !!
untuk yang kedua-kalinya

Salam dari Sanur,
17 Agustus 2005

Mas Jabier
-Indonesia, sungguh darah ini adalah darahmu..

August 12, 2005

Suantika Gets Married, Who’s next ?

Filed under: Umum

Jum’at malam (tanggal 22 Juli 2005 lalu) saya menghadiri resepsi perkawinan one of my first Balinese friends here in Bali, Made Suantika. Maka bersama Newmont Oracle keeper, kang Robert, dan GM i-Connect Bali, Bli Widiana, kami pun meluncur ke sana after office hours.

Ya, suasana sangat meriah. Saya mengenal both the bride and the groom. Yang perempuan (Trisna) malah lebih dulu saya kenal, pada saat saya masih awal di Bali sekitar Desember 2004 lalu.

Seperti layaknya sebuah seremoni di Bali, unsur tarian selalu ada. Disuguhi dengan sebuah tarian (sayang saya lupa judulnya), tapi tetap mengemas sebuah culture funky yang menjadi trends dengan menghadirkan sebuah band : Capsule, yang cukup punya nama di Bali dan sering manggung di cafe-cafe, sebagai stage band yang mengiringi resepsi perkawinan.

Ya, sebuah mixed-culture, just like Bali itself.
So here, I present you the bride and the bridegroom…


With The Bride Gung Wid & Indah Jody  Widi With The Bride Dua Bromocorah

Klik gambar untuk memperbesar

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

July 22, 2005

It’s about memory..

Filed under: Umum


I should name this month as memory month, perhaps.

Iya, begitu banyak hal-hal dan kejadian yang membuat saya shocked, dan pada akhirnya membuat pikiran saya melayang jauh,..5..10 sampai dengan 20 tahun lalu.

Pagi ini kembali saya mendapat telpon. Setelah agak kaget mengangkat (karena kebetulan kondisi fisik saya sedang agak lemah), ternyata dari salah seorang teman yang saat ini nyangkul di Negeri Londo. Winda,–Winda Widyastuti–, after got married with someone with Evers in his last name, kemudian namanya pun berubah menjadi Winda Evers.

Saya pertama kali ketemu Winda tahun 1996, ketika kita sama-sama menjadi utusan dalam acara Simposium Mahasiswa Indonesia di UGM. Saya menjadi utusan dari SM-ITS, bersama dengan Herwan Febriyadi, Fajar Sidik Sidabutar dan Ali Yusa. Acara yang menjadi sangat menarik, karena waktu itu hampir terjadi peristiwa Kaliurang II, dimulai dengan setting forum yang pada akhirnya membawa Fajar Sidik menjadi pimpinan sidang menggantikan utusan UGM (somehow I forgot his name, tapi yang saya ingat dia ini adalah anak dari Adi Sasono, any clues ?). Deklarasi yang dihasilkan pun akhirnya menjadi lebih menggigit dan keras khas Suroboyo, ketimbang semi diplomatis dan halus versi Yogya.

Mas Jabier at Simponas
Saya, saat menjadi utusan SM-ITS. Gondrong dan GPK Tulen..he..he..he..

Disitulah saya bertemu Winda. Berpotongan rambut pendek, agak hitam sedikit (he..he..he..), smart dan teriakan-teriakan dalam sidang kadang membuat kita kecut. Sebagai mahasiswa psikologi, kemampuan membaca psikologi peserta tentunya menjadi keuntungan yang tidak dimiliki peserta lain.

Setelah selesai acara, kami sempat jalan-jalan dengan rekan-rekan peserta lain untuk sedikit refresh setelah agenda acara yang begitu menyita pikiran dan waktu. Kaliurang, dan sepanjang Malioboro menyanyikan lagu “Yogyakarta” Kla-Project. Masuk ke arena Kesodo, dimana Bang Fajar membeli sebuah peralatan baru : pipa cangklong untuk rokok, that makes you a little bit older..ke..ke..ke..

We kept contact. Tahun 1997, Winda sempat ke Surabaya untuk interview, and at that time she told me about her plan to go abroad for master’s degree. Wow, great ! Untuk orang secerdas dia dengan IP diatas 3, that would be a piece of cake (compared to me with a xxx GPA kekekeke). Then she went to Netherlands for MBA.

We still keep contact. I just lost a little bit time, and then she told me that she got married. Wow ! Another shocked. Dan itulah yang membuat namanya berubah menjadi Winda Evers.

Well, now she’s in Bali with a few companies. I am just wonder how she looks like now, and behave. Must be much different, and must be lot of stories that will be told.

And somehow, somewhere in my blacked-greyed-blurred area of my brain, a voice of Reo Speedwagon from a song titled “In My Dreams” comes up :
“And we climb, and climb,
And at the top we fly, let they know ..
We have lost entire, All I know is I love you,
In my dreams. “

Lagu ini sebenarnya mengingatkan saya waktu naik gunung Welirang. I already said, somehow it comes up..he..he..he.. :)

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

July 20, 2005

a 20-year memory

Filed under: Umum


Have you got a called from someone from your past, and made you a 15 seconds shock ? I am sure you’ve got one.

Kemarin, seseorang menelpon saya, mengaku bernama Mawan. Saya bingung, siapa orang ini, dan spontan bertanya apakah dia kolega saya dari Newont ? Radnet ? old fellas from ITS ? some janc**k thinkers from poor community called Kantin ITS ? A unknown geek from underground community that I used to have ? or somebody else ?

Bukan semuanya. Sampai dia cerita bahwa dia adalah anaknya Tante Pop dan Om Iwan. Ah tante Pop, ya saya ingat. Jadi mawan yang ini, dan kemudian memory otak saya berputar ke 15,..tidak 20 tahun yang lalu.

Saya ingat namanya sekarang : Hermawan. Betul dia anaknya Tante Pop (yang kebetulan nama depannya sama dengan nama kakak saya Poppy) dan Om Iwan, yang tinggi besar. Yak, dia memang yang sering kita panggil Mawan, punya kakak perempuan bernama Nana (yang seumuran dengan Poppy kakak saya, tapi jauh lebih jangkung pada waktu itu dan dapat julukan “Galah” di tempat kami karena postur tingginya). Dan dia punya adik perempuan bernama Hera, yang dulu waktu kecil kami sering jodoh2kan dengan adik saya Franky.

Oh, Mawan yang itu. Kami sering bermain kelereng bersama (dan dia harus mengakui keunggulan saya dalam hal ini), layangan, badminton dan lain-lain permainan anak kecil lainnya. Yang masih saya ingat adalah kami pernah berebutan sepotong bambu, saling tarik menarik sampai terluka, sementara orangtua kami tertawa-tawa memperhatikan sampai kami menangis. Well, children never takes revenge (and don’t have that), as we were better friends after that.

Kami berpisah, kalau tidak salah, beberapa saat setelah saya masuk SMP. Om Iwan mendapat pekerjaan baru entah dimana, dan mereka pindah ke daerah lain. So here it comes, he will come to Bali (and meet me of course). Akan sangat banyak cerita yang bisa dishared.

For 20 years memory, that would be a lot
.

Salam,

Mas Jabier

June 24, 2005

Soe Hok Gie

Filed under: Politik, Umum

soe
“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…” - Soe Hok Gie, Zaman Peralihan

Ada beberapa kesamaan antara Soe Hok Gie, dengan saya. Kami sama-sama berbintang Sagitarius, sama-sama menyukai petualangan dan mendaki gunung, sama menyukai dan mempelajari sosialisme, sama-sama memiliki jiwa pemberontak dan eks-demonstran.

Dan sama-sama anti penindasan dan selalu berpihak pada mereka yang tertindas. Hanya saja, Soe Hok Gie, sama seperti Ahmad Wahib, menjadi mereka yang disebut sebagai intellectual abortus,– para intelektual cerdas yang mati muda sebelum sempat melakukan banyak kerja besar dari hasil pemikiran mereka. Gie meninggal karena asap bercaun

Kalau anda membaca profil tentang saya, anda akan melihat bahwa Soe Hok Gie adalah salah seorang yang saya kagumi. Kecerdasannya, kejujurannya, dan terutama keberaniannya, untuk melakukan perubahan. Rekan-rekannya berujar “Gie, lurus tanpa ampun menerjang siapa saja yang harus dia terjang..“. Saya membaca dengan penuh antusias buku-buku Soe Hok Gie : Catatan Seorang Demonstran Zaman Peralihan, Orang-orang di Persimpangan Sejarah. Tulisan-tulisannya persis seperti yang saya bayangkan : lugas, apa-adanya, kadang-kadang satir, dan tajam dalam analisa.

Saya menanti dengan tak sabar selesainya film “Soe Hok Gie” yang dibintangi Nicholas Saputra dan Wulan Guritno, and bet me, I’ll be the first watcher and reviewer when it’s already in. Semoga film ini bisa memotret dengan cukup baik kehidupan Soe Hok Gie dengan segala kelebihan dan kelemahannya sebagai manusia biasa, orang yang berada dibalik perjuangan mahasiswa di tahun ‘66, dan tokoh kunci mahasiswa pada waktu itu.

Izinkan saya mengakhiri artikel ini dengan mengutip tulisan Soe Hok Gie (And The Sixth Rider is The Fear) dalam Zaman Peralihan mengomentasi tentang rasa takut, : ” Manusia, adalah apa yang dipikirkannya. Jika anda adalah seorang yang berani dan jujur, dan itu yang anda pikirkan, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya.”

Denpasar, 24 Juni 2005
Salam dari Sanur,

Mas Jabier

June 18, 2005

Selamat Jalan, Indri !

Filed under: Umum

Selamat Jalan, Indri,

17 Juni 2005. Sebuah email masuk ke mailing list Kantin ITS dari Cicha, senior saya dari Teknik Lingkungan. Seperti biasa, dengan subject kabar duka, saya pun was-was membukanya, entah siapa yang meninggal, dosen-kah ?? sesepuh ITS kah ? atau orang tua kawan mahasiswa ?? atau yang lain.

Sampai saya membaca baris-baris berikut dari email tersebut.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun
Indriati Mulia, A32 mahasiswi Arsitektur ITS Angkatan 1997 pada hari Kamis 16 Juni 2005,
telah berpulang ke hadirat Nya
.

Indri, hmm,..ya ada sih dulu saya kenal dengan Indri, dan kalau tidak salah juga angkatan 97 Arsitek. Tapi apakah Indri yang itu ? Saya masih belum bisa memastikan.

Indri, yang sempat aktif di kantin dan KAMI ? Indri, yang asal Kediri, dengan potongan rambut pendek dan ide-ide feminis yang cukup kental ? Apakah Indri yang itu ?

Sampai saya membaca condolences dari teman-teman lain, yang ternyata memang menguatkan bahwa itu adalah Indri yang saya kenal. Saya sampai men-sms juragan blog kantin its, Andry, untuk memastikan, walaupun tidak dibalas sms saya (Ndri, koen ganti nomer, ato hp mu wis out of coverage area ?).

Memang benar Indri yang itu. Indri yang asal Kediri, yang aktifis KAMI, yang berambut pendek. Indri yang dulu sempat saya kenal selalu berjalan dengan 2 orang rekannya (sehingga kita selalu memanggil mereka bertiga trio kwek-kwek). Ah, Indri…begitu cepat Tuhan memanggilmu.

Indri tewas dalam kecelakaan di Jalan Raya ITS, jalan yang dulu saya bersama teman-teman Senat Mahasiswa ITS menentang pelebarannya. Lihat saja, baru sehari dibuka setelah ditutup dalam rangka berkabung atas kematian Indri, sudah makan korban lagi. Jalan dimana dulu kami beserta almarhumah melewatinya dalam berbagai aksi demonstrasi. Dan penabraknya, jelas seorang bajingan, saya tidak peduli dengan apa warna kulit dan agamanya, tapi jelas seorang bajingan jika anda membaca reaksi si bajingan di artikel ini.

Selamat Jalan, Indri !
Semoga amal ibadahmu, perjuanganmu yang tulus untuk membebaskan mereka yang teraniaya dan tertindas, mendapat tempat di sisi-Nya. Dan dengan itu semua, engkau mendapatkan pengampunan dari-Nya.

Mas Jabier






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here