Catatan Sang Petualang

February 6, 2006

(Lagi) Tentang Ahmadiyah

Filed under: Agama, SosBud, Umum

My Wife
Saya membaca dengan seksama peristiwa pembakaran rumah-rumah warga penganut Ahmadiyah di Lingsar, Kodya Mataram Lombok karena dua hal : kebetulan lokasi kejadian masih dalam domain tempat tinggal saya, — dan saya pernah menulis mengenai Ahmadiyah.

Apa yang saya khawatirkan, bahwa nanti pasti terjadi tindakan anarkis dari masyarakat ternyata menjadi kenyataan. Dan sayangnya, pemerintah tidak pernah belajar dari kasus ini (ini sudah kali ketiga, sejak penyerangan Kampus Ahmadiyah di Parung).

Sekali lagi saya tekankan, saya tidak akan membahas Ahmadiyah dari sisi teologis, karena itu bagi saya itu sudah final .(lihat pembahasan saya disini)

Tentu, kita sama-sama menyayangkan aksi pembakaran ini. Agama adalah hak dasar dan asasi dari manusia, dan ketika umat Islam bisa berlaku baik kepada umat beragama lain (Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, atau bahkan orang ateis), mengapa tidak bisa bertindak yang sama terhadap Ahmadiyah, yang notabene masih menjalankan shalat, zakat dan puasa ? Terlepas dari keyakinan i’tiqadiah yang berbeda, bisakah kita memperlakukan mereka sebagai agama yang berbeda ?

Mungkin ini yang seharusnya menjadi peran pemerintah. Berikan tawaran kepada Ahmadiyah jika masih ingin mendapatkan hak-hak seperti agama lainnya :

  • Lepaskan baju Islam dari Ahmadiyah
  • Jadikan Ahmadiyah sebagai agama baru (sama seperti Kong Hu Cu, dll, dan menegaskan bahwa tidak ada kaitan sama sekali antara Islam dan Ahmadiyah

Saya yakin, dua hal ini juga akan memuaskan Ahmadiyah, dan juga bagi warga yang merasakan aktivitas dakwah Ahmadiyah yang mengkhawatirkan akan menggerogoti sendi-sendi dasar Islam.

Labelled enemies are easier to be kept.

Salam dari Sanur,

Jody Ananda

February 2, 2006

Kisruh Kartun Nabi Muhammad SAW

Filed under: Agama, SosBud

soe
Beberapa hari terakhir, terjadi situasi yang ‘panas’ di Eropa sana, terutama mereka yang berkecimpung dalam pers dan/atau dunia kartun. Sebuah surat kabar terbitan Denmark, Jyllands Posten, memuat 12 karikatur politik yang sangat menyinggung umat Islam, dengan mengkarikaturkan Nabi Muhammad SAW.

Pemerintah Denmark, secara resmi melalui Mentri Luar Negeri sudah meminta maaf kepada umat Islam seluruh dunia, apalagi jika dikaitkan dengan aksi penutupan kedutaan besar Libya karena masalah ini.

Tapi yang sangat,–dan karena itulah blog ini saya tulis–, adalah komentar dari pihak oposisi Denmark atas nama kebebasan berekspresi dan media (saya kutipkan langsung buat anda disini) :

Opposition politicians reacted to this message with indignation. Jon Lilletun, the spokesman on foreign policy for the Christian-democrat Kristelig Folkeparti, points out that it is not the ministry’s task to express an opinion on the content of the cartoons. Carl I. Hagen, the leader of the Progress Party, fears that freedom of expression is being swept under the carpet.” - Brussel Journal

Mungkin Herr Kristelig lupa bahwa wilayah agama adalah hal yang sangat sensitif. Jangankan wilayah agama, bagaimana perasaan Herr Kristelig kalau saya mencoba mengkarikaturkan orang tuanya dengan tulisan : “Wow, we have a lot of virgins here in Danish village (fictious state)..!” atau gini aja deh, Herr Kristeligg saya gambarkan sebagai buronan nomor satu, lengkap dengan senjata & anting-anting di sebelah kanan ?

Anda bisa melihat kartun-kartun tersebut di alamat blog berikut : http://face-of-muhammed.blogspot.com/

Tersinggung ? Tentunya, kalau dia normal (dan kita normal) pasti akan berteriak dan memaki-maki. Kalau enggak, …well, don’t know what to say !

Islam tidak pernah mengekang kebebasan berekspresi, so there’s nothing swept away, Sir,..or buried under the carpet, though !

Saya yakin dengan kebebasan berekspresi dan kebebasan mengutarakan pendapat. Dua hal tersebut adalah pondasi dasar dari demokrasi modern.

Hanya saja, ekspresi dengan niat sengaja menyinggung orang lain, –dan dalam kasus kartun Nabi Muhammad ini, bahkan secara vulgar–, keyakinan agama orang lain sungguh suatu hal yang sangat tidak pantas dilakukan.

Tentu lain sifatnya jika kita mengkaji secara kritis dalam sebuah forum dan wacana ilmiah, bukan kartun-kartunan. Nabi adalah juga manusia biasa, dan dalam salah satu haditsnya yang terkenal adalah “Antum a’lamu biumuri dunyakum“. “Engkau lebih tahu dengan urusan duniamu “, ucapan ini terlontar ketika salah seorang sahabat menanyakan pada beliau tentang sesuatu masalah yang tidak diketahuinya. Pada perang Tabuk, bahkan Nabi menerima usul salah seorang sahabat, ketimbang pendapatnya sendiri. Intinya adalah, dalam wilayah dunia, peran Nabi adalah sama seperti manusia lainnya. Hanya saja, beliau SAW diberi wahyu dan risalah oleh Tuhan.

Allahumma shalli ‘ala rasuulika sayyidina Muhammad al-Musthafa, wa ‘ala aalihi washahbihi ajma’in.
Tuhanku, sampaikan salamku kepada utusan-Mu yang mulia, Muhammad SAW sang Pilihan, kepada segenap kaum keluarganya, dan sahabat-sahabatnya.

Salam dari Sanur,

Jody Ananda

February 1, 2006

Soe Hok Gie : Beberapa Sketsa Pemikiran (Bagian II)

Filed under: Politik, SosBud

soe
Lanjutan dari Bagian I

Humanisme
Dalam bukunya “Zaman Persimpangan”, nuansa humanisme dari Soe Hok Gie dapat kita baca dari beberapa sketsa tulisan yang ada. Kekecewaanya karena ikannya yang mati, dan Gie juga seorang penyayang binatang. Walau demikian ada yang sedikit paradoksal dalam dalam diri Soe Hok Gie (dan tentunya juga beberapa pemikir lain dalam sejarah) dengan cap sedikit anarkis. Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai humanisme anarkis, dimana kadang-kadang kita terpikir untuk “menghancurkan saja isi dunia ini beserta seisinya” agar segala wabah penyakit, perang, dan lain-lain bisa hilang dari dunia ini.

Progressif Revolusioner

Gie adalah pemikir progressif, dan juga revolusioner. Walaupun dalam bidang sosial budaya dapat dikategorikan sebagai pemikir yang evolusioner, tapi dalam bidang politik pemikiran-pemikirannya sangat progresif, dan revolusioner.


Beberapa Kritik terhadap Soe Hok Gie

Mencoba mencermati pemikiran Soe Hok Gie tanpa melihat alur benang merah sejarah yang terjadi di tahun 1960-an sangatlah tidak mengena. Kondisi aktual yang terjadi saat itu justru dapat diambil sebagai dasar untuk memahami beberapa pemikirannya. Tahun 60-an ditandai dengan ciri humanisme universal, dalam bentuk gerakan anti perang (Vietnam, di Amerika), anti apartheid dan rasisme (Marthin Luther King, Malcom ‘X’ — juga di Amerika), teologi pembebasan model Freirie (Amerika Latin), Gerakan Gypsi di Amerika (dalam bidang kebudayaan), dan lain-lain. Pemikiran inilah yang membentuk suasana kebatinan yang dihadapi oleh Gie pada waktu itu.

Beberapa kritik yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut :

  • Beberapa pemikiran Soe Hok Gie kurang mendapat landasan pemikiran yang komprehensif. Ini bisa dimaklumi karena Gie, –karena usianya pendek–, tidak pernah menghasilkan sebuah buku khusus yang membahas pemikirannya secara lebih komprehensif dan terstruktur.
  • Kita kurang menemukan banyak pemikiran Soe Hok Gie yang langsung menyentuh tataran aplikasi atau level yang lebih operasional. Kebanyakan pemikirannya langsung berkutat ‘le grande design’, tataran konsep kenegaraan dan/atau humanisme universal.
  • Karena banyaknya bidang yang disinggungnya, mulai dari sosial, budaya, politik , maka pemikiran Soe Hok Gie menjadi agak kabur, tidak fokus pada mainstreamnya, yaitu pemikiran politik. Hal ini barangkali juga akan bisa dipecahkan jika saja Gie tidak mati muda.

Lepas dari itu semua, pemikiran-pemikiran Soe Hok Gie pantas mendapatkan decak kagum. Di kurun waktu itu, –dengan semangat pembebasan dan lainnya–, tidak dipungkiri, Gie adalah icon pada zamannya.

Salam dari Sanur,

Jody Ananda

Playboy van Indonesie

Filed under: Agama, SosBud, Umum

Demo BBM
Anda sulit mencari majalah Playboy ? Kalau perlu blusukan dulu –mungkin di jalan-jalan daerah Bronx New York sana–, sambil toleh kiri kanan ? Dan si penjual cuman senyum-senyum liat face kita yang Asia banget, dan kalau dia agak curious dia paling bilang “Got any ID, Sir..?? “.

Kalau enggak, ke Singapur, jalan ke Orchad road sana. Atau ya nitip teman yang di Amrik dan beli online di www.playboy.com.

Nah, beberapa waktu lagi, kita beli Playboy di toko pinggir jalan di Indonesia. Luar biasa kan ??

Saya tidak akan bicara polemik mengenai masalah Playboy disini, baik dari sisi teologi maupun fiqh (tafsir-hadits-ushul-dst), maupun sosial budaya. Anda tentu sudah mengerti peta dan pendapat dari kedua sisi tsb, dan itu tidak usah diperdebatkan lagi. Secara fiqh sudah final, jangankan melihat aurat ataupun ’separo’ aurat, memandang muka bukan muhrim dengan syahwat saja sudah masuk kategori haram. Jika anda kaum Adam (normal seperti saya, –maaf buat yang tidak normal) ada yang yakin ketika melihat lekuk tubuh Luna Maya atau Sarah Azhari di Popular — tanpa melibatkan syahwat ? Gak mungkin la yaww.

Dari sisi sosial dan atas nama kebebasan berekspresi pun sudah jelas. Saya tidak akan bicara itu. Saya akan bicara dari sisi sejarah.

Hugh Heffner, sang kreator Playboy –edisi pertamanya keluar di tahun 1953–, adalah seorang pria yang bisa melihat peluang bisnis atas sesuatu yang sudah berjalan ribuan tahun di bumi ini : sebuah pelarian seksual. Oasis. Dengan memuat gambar-gambar syur di majalah tersebut , langsung memantapkan brand image-nya sebagai majalah pria yang paling ‘most wanted’. Tulisan-tulisan di Playboy sendiri, merupakan tulisan-tulisan yang bagus (tidak melulu seks, ada cerpen, report, features, etc), dan bahkan beberapa writer terkenal Amerika pun pernah menulis di Playboy seperti Alex Haley dan Alvin Toffler. Ha ?Alvin Toffler yang nulis “Third Wave” itu ? Ya, iya lah. Do we have another Toffler ?

Heffner hanya memanfaatkan instink purba para pria (yang normal, tentu saja), dan kemudian membungkusnya dengan kemasan yang bagus dan taktik marketing yang oke. Kita masih ingat statemen Sigmund Freud yang terkenal : “libido seksual adalah faktor utama penggerak hidup ini“. Silakan sepakat dan tidak sepakat.

Playboy hanya memanfaatkan sesuatu yang memang sudah ada, dan berjalan ribuan tahun di bumi ini. Anda tahu apa profesi tertua di dunia ini (at least, kalau sempat mendengar, tentu tahu maksud saya ) ? Semuanya berujung pada sebuah kata : seks. Salah satu tafsir kitab suci yang pernah saya baca pun mengatakan bahwa ‘pengetahuan‘ (atau dalam istilah lain “pohon Khuldi” yang dimakan oleh Hawa) yang dilanggar Adam ketika di Surga adalah ‘pengetahuan regeneratif‘ (metode untuk melestarikan spesies), dan dalam kasus manusia itu hanya kembali pada satu kata : seks.

Needles to say, Playboy hanya memanfaat wacana sejarah yang sudah ada.
Jadi Playboy van Indonesie ? Kalau anda punya uang dan suka dengan cover edisi pertama ini, ya silakan beli saja.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

January 23, 2006

Surat Terbuka untuk Rektor ITS

Filed under: Politik, SosBud, Umum

Kepada Yth.
Bpk. Dr. Ir. Muhammad Nuh
selaku Rektor ITS
Di - Surabaya

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mencermati kasus skorsing 14 mahasiswa ITS yang terjadi akhir-akhir ini, sebagai alumni kami tergerak untuk menyatakan sikap kami.

Skorsing terhadap tindakan yang diindikasikan sebagai melanggar, tanpa memberikan peringatan keras dan teguran sebelumnya sungguhlah sangat dzalim. Ditambah lagi apa yang mereka perbuat masih sangat terbuka untuk diperdebatkan sebagai melanggar.

Asas kemandirian organisasi mahasiswa hanya mensyaratkan pertanggungjawaban secara administratif kepada pihak birokrat kampus, baik di tingkatan Jurusan, Fakultas maupun Institut. Pertanggungjawaban mereka adalah kepada konstituen mahasiswa, melalui lembaga-lembaga seperti RUMJ dan atau Rapat Anggota.

Sangatlah tidak masuk akal kalau kemudian pihak birokrat Kampus mencampuri urusan-urusan perekrutan anggota, mekanisme organisasi atau urusan-urusan internal lain. Tindakan ini hanya membalikkan putaran jarum jam kembali ke zaman pra-reformasi, dimana pemerintah bahkan melakukan kooptasi terhadap organisasi pemuda dan mahasiswa.

Jika dahulu kami di tahun 1998 lalu, sebagai mahasiswa kami berteriak dengan kata-kata ‘menuntut’, ijinkanlah kami disini memperhalusnya menjadi ‘meminta’, dengan dilandasi semangat untuk membangun almamater kami,ibu yang luhur ITS.

Pokok-pokok pikiran kami adalah sebagai berikut:

  • Meminta anda, sebagai Rektor ITS untuk meninjau kembali keputusan skorsing yang dijatuhkan kepada 14 mahasiswa ITS dari jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi ITS.
  • Meminta pimpinan ITS untuk membuat aturan yang jelas dalam kaitannya dengan organisasi kemahasiswaan di ITS dan proses kaderisasi di dalamnya dengan melibatkan peran serta penuh mahasiswa dan menghormati asas kemandirian ORMAWA sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku.
  • Meminta pimpinan ITS untuk menghormati kemandirian organisasi mahasiswa ITS, dan sebaliknya mengajak organisasi mahasiswa untuk menjalankan kewajibannya memberikan pertanggungjawaban secara administratif kepada kepada pimpinan ITS, baik di tingkatan Jurusan, Fakultas maupun Institut.
  • Meminta peran aktif Ikatan Alumni ITS untuk dapat menjadi mediator dalam masalah ini. Urusan internal ITS sudah sepatutnya diurus sendiri oleh keluarga besar ITS, bukan oleh orang luar.

Demikian surat terbuka ini kami sampaikan, semoga kita diberi kekuatan oleh Tuhan YME untuk bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik, dalam semangat kekeluargaan dan ke-ITS-an.

Denpasar, Januari 2006

Cc :
Dr. Ir. Achmad Jazidie, PR III ITS
Pimpinan Fakultas Teknologi Informasi ITS
IKA ITS Pusat cq. Bpk. Ir. Kristiono
Media Massa
Milis ITS terkait

Alumni ITS yang memberikan persetujuan dan mendukung Surat Terbuka ini (diurut berdasarkan waktu),

Jody Ananda,S.Kom (T.Informatika ‘94)
Bambang Wiyono,S.Si (Fisika ‘93)
Vivid Devianti,ST,MM (T. Industri ‘92)
Agus Subhan Akbar,S.Kom (T.informatika ‘94)
A. Andi Leon Arkantoro,ST (T. Perkapalan ‘93)
Kurnia KP Pratomo,ST (T. Sistem Perkapalan ‘93)
Heri Setyono,S.Kom (T. Informatika ‘ 95)
Agus Nasruddin, A.Md (D3 T. Kimia ‘ 96)
Dhia M Shahab,S.Kom (T. Informatika ‘96)
Arif Widya,S.Kom (T. Informatika ‘98)
Kusno Mudiarto,S.Kom (T.Informatika ‘94)
Joko Wijoseno WR, S.Kom (T.Informatika ‘94)
Novel S Sidabutar (T. Informatika ‘95)
Teno P Arief, S.Si (Matematika ‘98)
Danang Sumartono, S.Kom (T. Informatika ‘98)
Willi Jensen, S.Kom (T.Informatika 2001)
Nelly Rosidha Arif, S.Si (Kimia ‘99)
Mario CSP, S.Kom (T. Informatika ‘97)
Munawar Kasan, ST (T. Perkapalan ‘92)

October 4, 2005

Jelang Ramadhan

Filed under: Agama, SosBud, Umum

Demo BBM
Saya teringat sebuah baris di puisi-nya KH Mustafa Bisri, ketika mengulas bulan Ramadhan (saya lupa judul puisinya) :

         Ramadhan,
         Orang-orang bilang engkau adalah bulan Suci,
         Tapi apakah aku mengetahu tentang kesucianmu ?

         Ramadhan,
         Orang-orang bilang engkau bulan penuh berkah,
         Tapi seberapa baik aku mengisi hari-harimu ?

Kemudian terjadi monologue di ruang bathin saya :
(Sang Aku-Jody- SAJ) : Engkau tahu makna bulan Suci ?
(Jody-Alter Ego-JAE) : Tentu tahu. Bukankah bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmah, barokah dimana umat Islam melaksanakan kewajiban berpuasa…

(SAJ) : Sebatas itu pengetahuanmu ? Dari teks-teks ayat yang kau baca tanpa makna ? Dari ceramah-ceramah yang kau cerna tanpa kau pahami ?
(JAE) : Tentu, darimana lagi aku dapatkan pengetahuan, kecuali dari yang pernah kubaca dan kudengar ?
(SAJ) : Berarti engkau belum sampai pemahaman yang benar mengenai bulan Suci…
(JAE) : Seperti apakah pemahaman yang benar itu ?
(SAJ) : Pertanyaanmu yang terakhir, dan tindakan-tindakan keseharianmu, membuktikan bahwa engkau belum melihat hakikat bulan Suci.

Astagfirullah.
Kemudian saya berkaca pada sebuah kaca bening, dan disana saya masih melihat betapa diri ini masih diliputi tindakan-tindakan yang tidak rahmah : jarang membaca ‘ayat2′ Allah, masih menyakiti makhluq Allah, masih ‘berbohong’ walaupun dibungkus dengan kemasan professionalisme, tidak mendidik diri untuk lebih baik, masih melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah, etc,etc.

Masihkah saya berani menyebut Ramadhan ini bulan Suci ?

Sebuah ayat muncul di lintasan fikiran saya : “Syahru ramadhaana unzila fiihi ‘l-Qur’an huda ‘lin-naas. ” Bulan Ramadhan dimana (didalamnya) diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi (umat) manusia.

Seberapa besar saya menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk (al-Huda) ? Dan jika kita mengambil skala treshold (batasan) dan saya masuk di 20% saja, masih pantaskah saya menyebut diri dan mengaku-aku diri sebagai bagian orang-orang beriman ?

Lalu saya teringat ujar-ujaran (hadits) Kanjeng Nabi Saw yang mulia : “Man shaama ramadhaana imaanan wah tisaban, gufiralahu maa taqaddama min dzanbihi.” Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan ini dengan (penuh) keimanan dan kesungguhan (perhitungan), diampunkan dosa-dosanya di masa yang lalu.” Dalam ilmu nahwu-sharaf, kata ihtisaban berasal dari akar kata (masdar) hasiba-yahsibu-hisaaban yang artinya (Insya Allah, karena saya sedang tidak memegang kamus al-Munjid) adalah menghitung (verb), menimbang (verb), penuh perhitungan (adj).

Apakah selama ini saya berpuasa dengan penuh perhitungan ? Selama ini, puasa saya baru dalam taklif amal (tindakan), artinya sekedar memenuhi tuntutan syara’, belum sampai pada skema ta’rif (pengenalan) apalagi tafhim (pemahaman).

Saya lalu teringat ujar-ujaran beliau yang lain mengenai Ramadhan, bahwa sepertiga terakhir bulan tersebut, adalah itqun min ‘n-Naar. Sebuah penebusan dari Api Neraka. Duh Gusti, siapa yang tidak takut akan siksa-Mu yang Maha Dahsyhat ? Dan siapa yang tidak ingin mengharapkan surga-Mu, yang Engkau sebutkan dalam Quran : “tidak pernah terpikirkan oleh rasa, budi, daya dan akal manusia ?

Awal dari ibadah adalah kesucian, itulah mengapa bab Thaharah (bersuci) menjadi bab-bab awal pembahasan kitab fiqh manapun. Ijinkan saya dengan rendah hati meminta maaf dari anda sekalian (pembaca, rekan blogggers, saudara, handai taulan, dll) dari segala salah, lupa, khilaf, agar kiranya, mudah2an, dengan kebersihan hati tersebut, bisa memaknai bulan ini dengan lebih baik.

Ilaahi, ahdini wa’fhamni min hadza ’syahrun wa barokati fih.
Tuhanku, beri aku petunjuk dan pemahaman untuk mengetahui keberkatan (kemuliaan) bulan (Ramadhan) ini.
Ditengah cobaan berat yang kami alami : kenaikan BBM, dan tingkah polah makhluq-Mu yang membuat aksi teror di bumi-Mu yang indah;
Ilaahi, Laa tuhammilna, ma la qaatala nabihi, warhamna, wa’fuanna, wansyurna biquwwatika
Tuhanku, janga beri kami cobaan, yang tidak kuat kami menanggungnya; kasihanilah kami, ampunkan dosa-dosa kami, dan berilah kami kekuatan-Mu untuk menghadapinya.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

September 29, 2005

Hanya ada satu kata : lawan ..dan nge-Blog!!

Filed under: Politik, SosBud, Umum

Demo BBM
Mas Wiji Thukul mungkin saat ini sedang bersenda gurau dan berpuisi dengan Tuhan di alamnya, dan dikuburnya yang entah dimana.

Menyikapi kenaikan BBM, saya memperhatikan dan mengamati dengan cermat. Termasuk aksi 40.000 orang (saya dengar sih begitu) dari berbagai komponen masyarakat yang direncanakan hari ini.

Pertamina memang sudah bangkrut, bangkrut dalam artian secara manajemen dan kultur. Dan walau Widya Purnama, eks-Dirut yang kena kick-off, satu almamater dengan saya, saya menganggap memang dia harus turun dari Pertamina, dengan berbagai kasus yang menggelikan kalau tidak memalukan : kelangkaan BBM, korupsi, pencurian minyak, dan menangnya Exxon di ladang Cepu. Tidak fair kalau saya menyebut ini sebagai kesalahan dia seorang, tapi at least, sebagai CEO, tentunya dia yang harus bertanggung jawab. Kalau bukan dia, lalu siapa ?

Kita bisa melihat website berikut, yang mengklaim sebagai FAQ mengenai kenaikan BBM. Setidaknya sebagai referensi anda sebelum berdemo.

Memang sudah terlalu banyak rakyat Indonesia di-tepu oleh penguasa. Jadi, hanya ada satu kata : Lawan !!

Kalau saya tambah satu : ..dan Nge-Blog.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

Membahas Ahmadiyah

Filed under: Agama, SosBud

My Wife
Kali ini tulisan saya agak serius sedikit, membahas beberapa fatwa yang dikeluarkan MUI (yang saat ini menjadi hot news), salah satunya adalah mendakwa bahwa Ahmadiyah, yang kita sebut saja salah satu aliran dalam Islam, sebagai sesat dan menyesatkan.

Sama dengan agama-agama lain yang jauh lebih tua (Hindu, Budha dan Kristen), Islam juga berkembang secara evolutif, dan terjadilah sekte-sekte atau aliran-aliran yang terbentuk karena beberapa hal sebagai berikut :

  • Kondisi geografis dan genealogis budaya setempat; contoh beberapa aliran tasawuf di India (Chistiyah), Rumi, Islam Kejawen, dll.
  • Perbedaan penafsiran atas teks. Kondisi ini menyebabkan timbulnya beberapa aliran fiqh(Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali). Yang menarik, perbedaan fiqh ternyata sangat dipengaruhi kondisi geografis dan struktur budaya masyarakat. Tapi kita akan mengkaji hal ini di tempat lain
  • Perbedaan politik. Ini menggagas beberapa paham seperti Wahabi di Arab Saudi, Syiah , Khawarij, dll.
  • Campuran dari ketiga faktor diatas

Munculnya sebuah aliran selalu ditandai dengan salah satu faktor diatas, ditambah dengan kuatnya posisi sang tokoh aliran.

Ahmadiyah dicetuskan pertama kali oleh Mirza Ghulam Ahmad di Pakistan. Sebagai sebuah aliran dalam Islam, Ahmadiyah, harus diakui, sebagai aliran yang paling banyak melakukan proses konversi (pendakwahan kepada agama lain, yang akhirnya masuk Islam) dan tradisi berpikir ilmiah. Karena itu jangan salah, tafsir dan terjemah Qur’an untuk bahasa-bahasa yang kita tidak pernah tahu (Swahili, Mambusto dll) dilakukan oleh orang-orang Ahmadiyah. Sebagai sebuah organisasi, Ahmadiyah sangat solid, dengan cabang di berbagai negara. metode dakwah dan basis keuangan yang besar.

Lalu dimana letak kesalahannya ?

Salah satu diktum dalam Ahmadiyah adalah pengakuan bahwa ada nabi setelah Muhammad SAW, dan itu adalah Mirza Ghulam Ahmad sendiri, sebuah pandangan yang dalam teks-teks muhkamat (pasti) Islam jelas salah. Qur’an, Hadits, dan teks-teks sirah (sejarah) Islam telah menuliskan beberapa nabi palsu setelah Muhammad SAW, yang semuanya diperangi karena merusak aqidah dasar umat Islam.

Perbedaan ini pun terjadi di Ahmadiyah, yang mengakibatkan mereka terpecah menjadi dua aliran besar : Qadiani dan Lahore. Qadiyani masih mengakui Mirza sebagai nabi, sementara Lahore menjadi lebih moderat, hanya mengakui Mirza sebagai mujaddid (pembaharu) Islam, tidak sebagai nabi. Pun begitu, kedua aliran ini disepak dari Pakistan, hingga sekarang berlokasi di London, Inggris.

Saya miris menyaksikan penghancuran aset-aset Ahmadiyah di media massa.Tidak adakah jalan dialog ? Kalau memang Ahmadiyah dihukum sesat, tidak perlu kemudian menghancurkan rumah, masjid dan universitas milih Ahmadiyah. Bahkan seorang Salahuddin Al-Ayyubi, meletakkan kembali salib ke tempatnya semula, ketika memasuki Yerusalem.

Saya sendiri secara paham, jelas menghukum sesat untuk aliran Ahmadiyah. Itu soal i’tiqadi, masalah mu’amalah yang kita pakai adalah etika Islam. Dan tidak pernah saya baca etika Islam yang memperlihatkan perlakuan masyarakat kita kepada rekan-rekan dari Ahmadiyah.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

Tentang Ulil

Filed under: Politik, Agama, SosBud

My Wife
Setelah digebuk berulang kali dari berbagai kalangan Islam di Indonesia, kini Ulil digebuk lebih hebat lagi. Dan seperti biasa, tanggapan Ulil selalu khas Ulil. Lihatlah tanggapannya ketika 14 fatwa MUI –yang diantaranya mengharamkan pluralitas, dan Ahmadiyah –, “Fatwa MUI itu konyol dan tolol. ” katanya. “Jadi KH Sahal Mahfudz dan Prof Din Syamsuddin itu tolol ya Mas Ulil..?? ” kata wartawan. “Iya, tolol..” Ulil menjawab sambil nyengir tidak karuan. Padahal KH Sahal Mahfudz adalah guru Ulil di pesantren.

Sebagai seorang putra NU (ini kalau dia masih menganggap diri sebagai putra NU), saya yakin Ulil pasti telah khatam kitab Ta’limul Muta’alim, kitab standar di pesantren yang diberikan di saat-saat awal, yang mengajarkan bagaimana etika belajar dan menghormati guru. Kata-kata Ulil diatas, dan beberapa perkataannya yang lain sangat jauh dari isi buku tersebut.

Saya sebenarnya menyukai gagasan dasar dari Islam Liberal, dan nuansa kiri Islam (yang digagas Hassan Hannafi) yang menjadi pondasi dari beberapa pemikiran-nya memang sesuai dengan pandangan saya. Tapi itu tidak menjadikan saya, by default, menjadi tidak kritis dan taqlid kepada Islam Liberal. Ulil yang saya kenal adalah seorang cendekiawan muda NU (dulu dia ketua Lakpesdam NU, sekarang tidak tahu) bersama Masdar F Mas’udi dengan pemikiran-pemikiran yang segar dan kritis terhadap NU. Tapi menjadi kritis dan berdialektika seharusnya tetap tanpa menghilangkan etika. Cuman beberapa lama sejak bergabung dengan Islam Liberal, beberapa pandangannya menjadi ngawur : kawin campur beda agama, sholat dengan wanita sebagai imam, masalah pakaian yang katanya public decency, dll.

Laisa ‘l-fiqh illa bil khilaf”, begitu sebuah teks dari kitab-kitab standar fiqih, hukum Islam. Jika tidak siap untuk berbeda pendapat, tidak usah belajar fiqih.

Saya dibesarkan dan hidup dalam tradisi kultur NU, bahkan nenek saya almarhum pernah menjadi anggota DPR utusan dari Muslimat NU. Ketika melihat tingkah polah Ulil sekarang, sungguh saya tidak melihat bekas-bekas dari didikan NU kepadanya.

Jika Ulil membaca ini, semoga ini menjadi tausiyah kepadanya.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

September 16, 2005

Kaki Lima

Filed under: SosBud, Umum

Kaki Lima
Memori saya masih menyisakan kenangan kejadian ini.
Jum’at, tanggal dan bulan saya lupa di tahun 1992. Seperti biasa, dipagi hari sekitar jam 9, saya sudah meluncur ke Depok untuk sekedar ‘main’ di tempat komputer, dan mengasah sedikit kemampuan komputer saya. Sepulangnya, sebelum Jum’atan, saya mampir ke Kantor Pos Pasar Minggu untuk menge-poskan surat, ah saya lupa buat siapa. Dan pemandangan inilah yang ada di hadapan saya :

“Bu’, minggir bu’…jangan jualan disini…ayo bubar-semua.” Dengan angkuhnya belasan orang berpakaian satpol PP sibuk mengusir kaki lima di Pasar Minggu, yang waktu itu sudah mulai agak semrawut. Saya melihat ibu ini, dengan berkalungkan cabe, jengkol dan pete, membawa bakul, repot mengurusi dagangannya. “Plak, ..plak..plak.. ” Tongkat-tongkat pun mulai beraksi memukuli mereka. Orang-orang ramai mulai berkerumun dan ada yang berteriak-teriak.

“Astagfirullah, bukan begini cara mengajari mereka, mereka cuman cari makan…” batin saya. Pukulan tongkat makin cepat berayun, saya maju ke depan melindungi ibu pedagang tersebut, dan tangan saya pun secara otomatis memberikan tangkisan karate A-gyu-kee, dan menahan tangan sang durjana dibalik seragam satpol. Terjadi debat kusir, saya cuman minta mereka beri sedikit waktu bagi PKL ini untuk berkemas, dan tidak usah pakai main pukul segala.C’mon, they’re just ladies, and your mothers too.

Episode berikutnya dalam hidup saya adalah awal dari pemihakan saya kepada orang-orang tertindas, dimanapun dan kapan-pun. Seperti pedagang2 PKL tersebut.

Ketika beberapa tahun berikutnya saya mampir lagi ke Pasar Minggu, situasinya sudah jauh lebih semrawut. Bahu jalan tidak lagi terambil 1/4, tapi bahkan sudah mengambil satu jalan tersendiri sehingga hanya ada satu jalan yang semestinya satu arah, menjadi dua arah. Efek reformasi di tahun 1998, menambah parah situasi tersebut karena PKL pun bisa menjadi anarkis.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan mereka. Seperti juga PKL di Pancoran, mereka mulai dengan 1-2 orang, dan ada oknum2 PEMDA yang menikmati jasa ‘kebersihan’, dan belum lagi para preman yang memungut jasa keamanan. Secara formal, yang harus bertanggung jawab adalah PEMDA.

PKL,jelas adalah buah dari sistem ekonomi kita yang carut marut. Yang PEMDA lakukan lebih dari sekedar reaksi, ketimbang sebuah solusi cerdas yang mampu menghilangkan masalah. Beri mereka tempat yang layak, beri aturan yang jelas bagi PKL, dan bersihkan bahu jalan dari apapun yang mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Setelah mereka mendapat tempat yang layak, bukankah nanti pembeli juga akan datang ke lokasi yang telah ditetapkan ? Berikan pemahaman kepada PKL bahwa lokasi yang jauh dari jalan tidak akan mengganggu pendapatan, sebab nanti lama kelamaan ketika masyarakat sudah tahu kemana harus mencari mereka, maka situasinya sama, hanya dipindahkan tempatnya saja.

Apakah PEMDA sudah melakukan langkah tersebut ? Saya yakin tidak, sekali lagi mereka hanya melakukan reaksi, bukan sebuah solusi. Ingat ketika di Bogor, para PKL disuruh libur satu hari karena Presiden mantu ? biar bersih jalan katanya… Atau hanya karena Yang Mulia Presiden akan melintas ?

Saya mungkin bukan orang yang tepat untuk membeberkan solusi atas permasalahan PKL di Jakarta. Banyak orang pintar di BAPPEDA, Tata Kota dan lain-lain, mereka yang punya ilmu dan otorisasi untuk melakukan hal tersebut.

Saya hanya rakyat biasa. Dan tulisan ini hanya mencoba memberikan ilustrasi bahwa permasalahan PKL bukan lah sebuah domain, tapi hanya lintasan dari akar-akar permasalahan yang sudah menggurita sebelumnya.

Salam Dari Sanur,

Mas Jabier

July 21, 2005

Bima : As told in ..

Filed under: SosBud


Personally speaking, obviously I am one of Mahabaratha adorer. Wah, dulu kalau sudah baca Mahabratha-nya Teguh Santosa, bisa berjam-jam dihabiskan untuk baca sampai selonjoran dan tidur. Dan profile yang saya kagumi adalah Arjuna, regardless what people said about his anti-monogamy style, regardless what he supported to poliandry (indeed, it’s not his fault only, but also his brothers tough ;-) .

So, why am writing about Bima ? Di blog ini ? Bima, yang sering menjadi iklan obat kuat KukuBima (dan anda tidak pernah menemukan kuku Arjuna, atau kuku Nakula) ? Bima yang tinggi besar, berbulu ..(he..he..he..), dan memiliki kuku Pancanaka ?

Tapi yang jelas bukan Bima yang ini (ke..ke..ke..).
OK, so let’s get started. Sebagai anak kedua (setelah Yudistira) Bima (atau Brotoseno dalam istilah jawa-nya) adalah satu-satunya ksatria yang bersikap transparant, jujur, ceplas-ceplos, memiliki keberanian lebih, dan keras. Dengan setiap orang, dia selalu menggunakan bahasa egaliter (even when he’s talking with a king, e.g. Krishna). Bima selalu menggunakan bahasa yang sama pada setiap orang (egaliter) tanpa memandang siapa orang tersebut.

Satu episode yang menarik perhatian saya mengenai Bima adalah saat dia bertemu dengan Dewa Ruci. Hanya Bima dan Yudhistira, dalam bahasa saya, anggota Pandawa Lima yang berhasil mencapai apa yang disebut sebagai Makrifat, pengenalan seutuhnya terhadap diri dan Tuhan.

Bima, yang beristrikan Dewi Arimbi, juga dikaruniai putra-putra yang luar biasa. Gatot Kaca, berjuluk satria pringgondani, yang sejak lahir sudah kebal dari segala senjata tajam dan mampu terbang di udara,–Antareja, yang menguasai dunia underground dan mampu membunuh orang hanya dengan menjilat tapak kakinya, — dan Antasena yang berkuasa di lautan.

Itulah Bima. Egaliter, jujur, lurus tanpa ampun, dan jika mendapati dirinya salah, mengaku secara ksatria. Lho, kok saya terus2an bicara tentang Bima sih, katanya pengagum Arjuna ?

Next time I will write about Arjuna.
Jadi, jangan ragu-ragu kalau minum Kuku Bima ya..he..he.he.. :)

Salam,

Mas Jabier

July 20, 2005

Kiri, Jalan Terus !

Filed under: Politik, Agama, SosBud

islamic revolution
Jod, pandangan-pandanganmu koq kiri banget sih !
Jan***k, sosialis tulen koen !

Begitu ungkapan beberapa kawan kalau melihat beberapa pandangan saya atas berbagai permasalahan dalam bidang sosial dan politik. Bahkan, Agus Subhan, sahabat saya di ITS juga sempat menanyakan kenapa saya begitu “kiri” dan “agak merah.”

Ya, jawaban-jawaban sudah saya berikan. Mungkin blog ini akan menjadi jawaban terakhir saya, karena kalau ada orang yang bertanya, saya tinggal sertakan link posting ini sebagai jawaban. Enteng kan hehehehehehe….

Saya akan menjawab dari dua sisi : sisi sejarah, dan sisi teologis. Dari sisi sejarah, mari kita luruskan dulu bahwa Kiri itu identik dengan Komunis, Otoriterianisme, Totaliterisme, Marxisme dan Atheisme. Semuanya jelas salah besar, walaupun memang banyak dari mereka yang berkecimpung dalam gerakan kiri memilik ideologi seperti diatas. Kiri, pada awalnya, dinisbatkan kepada sekelompok orang dalam parlemen Perancis diawal Republik ke-IV (sekitar 1920-1944) yang menolak ikut dalam pemerintahan, yang akhirnya disebut sebagai oposisi. Kiri, menjadi sebuah ideologi perlawanan, terhadap ideologi mapan pada saat itu, yang dinilai tidak membawa semangat Revolusi Perancis.

Tuan-tuan hanya mewarisi abu dari revolusi Perancis, sedangkan kami, mewarisi apinya ! ” demikian teriak Jean Jaures, tokoh (kiri) Perancis pada waktu itu. Apa sih semangat Revolusi Perancis itu ? Jawabnya hanya 3 : pembebasan (liberte), kesetaraan (egalite) dan persaudaraan (fraternite).

Jadi kalau kita merujuk pada prinsip historis, Kiri adalah sebuah ideologi gerakan yang berupaya mengambil 3 nilai dari Revolusi Perancis : pembebasan dari semua penindasan, semangat kesetaraan yang diaplikasikan dalam hukum yang adil bagi semua orang dan persaudaraan. Pada akhirnya, dalam proses evolusinya, Kiri menjadi sebuah ideologi anti-penindasan dan perlawanan.

Dari sisi teologis, sebagai seorang muslim, secara pribadi saya memandang Islam juga sebagai sebuah ideologi pembebasan dan anti penindasan. Lihatlah dalam Qur’an, begitu banyak ayat-ayat yang menyatakan bahwa semua manusia adalah sama dimana Tuhan, yang membedakan adalah amal ibadahnya saja. Lihatlah juga, bahwa disamping seorang Nabi, Muhammad SAW juga adalah seorang revolusioner yang merombak sistem yang ada pada saat itu (sistem politik, budaya, agama dll) menjadi sebuah sistem yang sesuai dengan semangat Islam.

Saya sejalan dengan pandangan-pandangan Muhammad As-Sanusi (pendiri tarekat Sanusiyah di Yaman), Hassan Hanafi, Rasyid Ridha yang memandang Islam sebagai sebuah ideologi pembebasan. Dan itulah yang saya tafsirkan sebagai nuansa kiri dalam Islam (Hassan Hanafi, “Kiri Islam”).

Apakah saya salah kalau saya meletakkan kaki saya dan menaruh tangan saya di sisi mereka yang tertindas ? Apakah saya salah jika saya menyebutkan dzikir saya untuk mereka-mereka yang dianiaya ? Apakah kemudian menjadi tidak benar jika saya menafsirkan ucapan Kanjeng Nabi untuk selalu membela mereka2 yang tertindas dan teraniaya ?

Semangat pembebasan, kesetaraan dan persaudaraan itulah yang saya tafsirkan dalam Islam. Anda bisa berargumentasi mengenai salah benar dalam kerangka teologis-fiqh-hadits-ushul dll, tapi inilah yang menjadi ijtihad saya. Mungkin salah mungkin benar, tapi paling tidak saya mendapat 1 pahala.

Jadi Kiri ? Jalan terus…!!

Salam,

Mas Jabier

May 10, 2005

Shalat berbahasa Indonesia : Sebuah Ijtihad ?

Filed under: Agama, SosBud

Shalat Agus Subhan, seorang sahabat saya, menanyakan bagaimana pendapat saya mengenai Shalat Dua Bahasa (Billingual, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab), yang saat ini dipopulerkan oleh seorang "ulama" bernama Muhammad Usman Roy, dari Lawang, Jawa Timur. Agus, yang saya kenal memahami Islam dan ilmu-ilmunya  dengan baik, seorang santri by default dari Tuban, tentu sudah punya pendapat sendiri mengenai hal ini, dan tulisan ini saya buat sebagai sebuah bahan diskusi dengan dia.

Beberapa tahun yang lalu, seorang rekan saya pernah berujar dalam bahasa Arab : "Al-lughah al-’arabiyah hiya, al-lughah al-dirasaatul Islamiyyah, wa al-lughah al-ahlul jannah." artinya "Bahasa Arab itu, bahasa untuk memahami ilmu-ilmu Islam, dan juga bahasa para ahli surga." Anda boleh setuju atau tidak setuju dalam frasa kedua, tapi paling tidak, frasa pertama, bahwa bahasa Arab dipakai untuk memahami ilmu Islam (Qur’an, Hadits, Fiqh dll) tentulah tak dapat dibantah kebenarannya. Trus so, what gitu loh ? Mungkin teman saya yang lain bertanya.

Ini sama saja dengan analog bahwa anda harus menguasai bahasa Inggris, sebagai bahasa pergaulan dunia, bahasa ilmu pengetahuan dan lain-lain. Ada yang protes ? Tidak ada kan ! ? Kalau pun ada, Ya, silahkan, but I assure you that he will be piss off because he absolutely knows a little than he needs to be. Atau ambil contoh Rudolf Nureyev, pebalet sohor dari Russa, yang tahun pertamanya hanya belajar bahasa Perancis,–sebab bahasa Perancis adalah bahasa "pengantar" resmi dalam dunia balet–, walaupun dia orang Rusia, dan balet,..hmm,..tidak ada hubungan sama sekali dengan bahasa. So what ?

Itu masalah bahasa. Mari kita kembali ke kajian Shalat dua bahasa ini.
Usman Roy, katanya, melakukan sebuah ijtihad dalam mengambil keputusan ini. Ijtihad (terambil dari kata jahada - yujahidu - jihadan - ijtihadan) artinya "bersungguh-sungguh dan berusaha maksimal dalam melakukan suatu pekerjaan", secara istilah adalah suatu proses pengambilan keputusan dalam bidang tertentu dengan melakukan pertimbangan-pertimbangan/argumen-argumen yang dapat dipertanggunggjawabkan secara ilmiah, orang yang melakukannya disebut Mujtahid. Jadi ada ijtihad politik, ijtihad ekonomi, dan tentunya sebagai asal dari semuanya, ijtihad dalam bidang keagamaan (masaail diniyyah). Kita tentu ingat, seorang Amien Rais yang melakukan ijtihad dalam bidang politik ketika beliau membentuk partai baru PAN, instead of masuk ke PBB. Atau ijtihad ekonomi Anggiarto Abimanyu, ekonom UGM, yang mencoba teori valas baru untuk mendongkrak nilai rupiah. Dan ijtihad-ijtihad lain yang dilakukan oleh orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing (ambil contoh ijtihad saya untuk menggunakan FreeBSD instead of Linux dan Windows waktu di RAD-Net, ;-) ).

Jadi, makna kata kesungguhan dalam etimologi ijtihad, bermakna kesungguhan dalam bidang ilmu (penguasaan ilmu), dan kesungguhan terhadap ilmu yang berkaitan dengan masalah yangyang akan diputuskan. Karena bisa jadi, ijtihad membutuhkan advis dan konsultasi dari ilmu lain (multidisipliner).

Nah, kalau dalam bidang agama ? Ini tentunya lebih "berbahaya" lagi implikasinya, karena menyangkut sisi dunia, dan akhirat. Tidak ada implikasi logis apapun bagi orang lain, kalau ijtihad saya waktu di RAD-Net ternyata salah, server crash, paling hanya menimpa customer RAD-Net saja. Tapi bagi masalah agama, dan apalagi bila kemudian disebarluaskan, diamalkan dan memiliki pengikut, tentu lain persoalannya.

Seorang mujtahid yang akan menghasilkan fatwa, jelas harus memiliki serangkaian ilmu alat (Bahasa Arab (meliputi nahwu, sharaf, manthiq, ba’di, ma’ani),Qur’an, Tafsir, Hadits, Ushul Fiqh, Fiqh, dll) dalam proses istimbath (proses pengambilan keputusan) dan harus diakui oleh otoritas ulama di zamannya. Begitulah yang kita lihat pada Syeikh Yusuf Qardhawi, Syaikh Bin Baz, Syeikh Mutawalli Sya’rawi, di zaman sekarang, atau imam-imam madzhab yang empat : Imam Syafi’i ra, Imam Malik bin Anas ra, Imam Abu Hanifah ra, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Sebagai contoh, Imam Syafi’i baru diberi izin berfatwa oleh Imam Malik, guru beliau, saat usia 17 tahun, padahal beliau sudah hafal Quran umur 9 tahun, kitab hadits Muwatha karya Imam Malik pada usia belasan, dan ilmu-ilmu lain.

Usman Roy, jelas tidak memiliki kapasitas untuk melakukan ijtihad, yang berakhir pada keputusan Shalat Dua bahasa itu. Bagi saya, ide ini cukup kreatif pada awalnya, cuma saja kreatifitas dalam bidang ibadah bukanlah sebuah "kreatifitas", yang perlu kita lakukan hanya mengikuti dan berusaha mempelajari apa yang telah diberikan oleh Kanjeng Nabi. Kalau masalah pemikiran dan wacana, silakan melakukan kreasi sebanyak-banyaknya. Ada sebuah pepatah : "Tanyalah suatu permasalahan pada ahlinya". Usman Roy, –selayaknya bertanya pada guru beliau–, yang katanya ada di Surabaya, sebelum keblinger seperti ini.

Kalau saya ?? Wah, kalau saya "boleh" berijtihad, maka saya akan bikin Shalat PaHE (Paket Hemat) untuk kaum professional, kombinasi Dzuhur, Ashar, Maghrib cukup 3 raka’at saja. Ringkas, dan tidak akan terjebak kemacetan dan lunch. Untunglah Gusti Allah masih memberikan saya rasa takut, dan memberikan saya waktu untuk bertanya kepada mereka yang lebih ahli dalam masalah agama :)

Allahumma, Inni a’udzubika minal jaahilin, wa innahum la ya’lamuna ma yaf’aluun, wa innaka anta ‘l-Wahhab.
Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari (tipu daya) orang-orang bodoh (karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat), dan (sungguh)Engkaulah Maha Pemberi Karunia.

Denpasar, Mei 2005

Mas Jabier

May 2, 2005

Wajah Dunia Pendidikan Indonesia

Filed under: Politik, SosBud


Rekan saya hapal mati kata-kata ujaran dari Ki Hajar Dewantara, bapak Pendidikan Indonesia : "Als ik Nederlander waas", if I were a Dutchman, yang ditulisnya dalam sebuah edisi suratkabar pertengahan tahun 1920-an. Sebuah sindiran yang tajam (satire) kepada tingkah laku kolonialis Belanda pada waktu itu, menindas dan berfoya-foya ditengah bangsa yang dijajahnya.

Kita mafhum, pendidikan adalah kunci utama dari sebuah perubahan, karena dengan pendidikan, rakyat yang bodoh menjadi tahu, dari tahu akan dapat mengambil sikap dan tindakan. Model pembelajaran seperti ini akan terus berulang, dan jika masyarakat sudah semakin terdidik, –yang oleh Nurcholis Madjid disebut sebagai embrio civil society–, inilah yang akan menjadi kekuatan utama kontrol terhadap pemerintah.

Apakah dunia pendidikan kita, setelah hampir 60 tahun merdeka, mengalami peningkatan yang signifikan ?

Saya bilang sih tidak. Kita cukup mengganti kata benda Belanda, dengan kata benda Indonesia Kaya. Jadi :
"Pendidikan berkualitas hanya dinikmati oleh mereka yang [Indonesia Kaya],
Hanya [Indonesia Kaya] yang dapat menikmati pendidikan tinggi yang baik, fasilitas kesehatan yang baik, dan kehidupan sosial yang baik;
Dengan tiket masuk universitas yang aje gile, kembali hanya [Indonesia Kaya] yang berhak menikmatinya;
dan lain-lain" [full of crap]

Bagi saya, karena pendidikan adalah kunci perubahan, maka pendidikan haruslah dibuat murah, –dan kalau perlu gratis–, bagi mereka yang memang berbakat, cerdas, pandai, tapi tidak memiliki dana finansial yang cukup untuk pergi ke sekolah.

Saya (mungkin) beruntung dapat menikmati pendidikan tinggi, tapi saya juga merasa jauh lebih beruntung, karena ditengah kondisi finansial yang begitu pas-pasan, saya dapat melaluinya dengan baik.

Selamat Hari Pendidikan !

Denpasar, Mei 2005

Mas Jabier

April 28, 2005

There are people that were born as B*tch*s..

Filed under: SosBud

Bitches
Membaca beberapa episode kehidupan dari orang-orang seperti Azhari’s girls (Ayu, Sarah dan Rachma), SL (Sophia Latjuba) et cetera hanya membuat kita terperangah atas kelakuan (baca:attitude) mereka. Dengan bangganya memamerkan ke-sexy-an dan “keterbukaan” dalam sebuah public appearance, dan dengan mengungkapkan, –dalam bahasa saya–, a brain damn foolish reason.

Kenapa saya bilang begitu ? Saya tidak berusaha menjadi seorang moralis seperti Aa Gym atau Arifin Ilham. Biarlah masalah fatwa de el el menjadi urusan para ulama. Yang saya sikapi adalah masalah attitude yang sedikit nyerempet ke ethics.

Di tahun 1980-an, seorang senator Amerika, Gary Hart, terpaksa mengundurkan diri dari pencalonannya sebagai presiden Amerika karena tertimpa kasus “esek-esek” dengan model Donna Rice, di kapal “Monkey Business”. US, yang kata orang menghalalkan segala bentuk kebebasan (politik, budaya, seks dll), yang menjadi markas penerbit majalah playboy, penthouse, yang menjadi pusat anti-establishment, ternyata berbicara lain ketika menyangkut penampilan publik dan standar moral, apalagi ketika hal itu menimpa calon pemimpin mereka. Dan lihatlah reaksi masyarakat Amerika yang terperangah dan mengecam aksi Janet Jackson dalam acara Superbowl tahun lalu yang melakukan pornoaksi di depan TV.

Aktris Angelina Jolie, –I love this bitch when she played “Girl, Interrupted!”– betapa pun liarnya kehidupan pribadi-nya, tetapi pada saat tampil dalam public appearance, adalah sosok yang sangat keibuan dan mencintai anak angkatnya, Maddox.

So, what’s my point here ?

You have to split between personal and public area. Saya tidak perduli apa yang anda lakukan dalam wilayah personal anda, tapi ketika anda tampil dalam sebuah ruang publik, lakukan hal-hal yang pantas dengan tingkah laku dan ucapan yang cerdas. “Biasa, kan cewek..sexy gitu lho! Semakin sexy, semakin OK “ ungkapan Sarah Azhari hanya mencerminkan perbandingan terbalik on her brain capacity.

Atau seperti ungkapan teman saya, “There are people that were born as bitches.” Saya pribadi menambahkan, “If you are bitch, then do it smart !”. Jangan seperti Paris Hilton, dan orang-orang yang sudah saya sebut di paragraf pertama diatas.

Salam,
Denpasar, April 2005

Mas Jabier






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here