Catatan Sang Petualang

May 30, 2005

Atas Nama Kebiadaban

Filed under: Puisi

Atas Nama Kebiadaban,
‘Kuhancurkan semua tempat yang ingin kuhancurkan,
‘Kuambil nyawa orang-orang, entah bersalah atau tidak,
‘Kuledakkan tempat-tempat yang ingin kuledakkan.

Atas Nama Kebiadaban,
, tidak, tidak ada yang lain,
kadang-kadang aku berlindung dibalik jubah agama,
atau jas para birokrat,
tertawa riang bersama cukong-cukong bisnis,
sekali lagi, bukan atas atau untuk nama apapun,
selain kebiadaban semata.

‘kupalsukan segala yang bisa kupalsukan,
‘kupisahkan segala yang bisa ‘kupisahkan,
aku tidak perduli jeritan, darah, air mata,
orang-orang yang berdosa,
sebab,..sekali lagi,
aku melakukan itu semua atas nama kebiadaban.

Jangan pernah tertipu oleh sahabat2ku,
yang kadang-kadang bertindak atas nama kepentingan nasional,
atau kepentingan agama,– atau kepentingan kaum-kaum munafik,
sebab sekali lagi, kuberitahu engkau,
bahwa yang kami lakukan tak lebih atas nama kebiadaban.

Jelas, kami bukan manusia,
mana ada m
anusia berakal dan beradab,
tega melakukan hal-hal yang kami lakukan ?
Wujud kami manusia, tapi hati kami adalah sejatinya iblis,
lihatlah yang kami lakukan di Bali, Mariott, Kuningan,
Ambon, dan Poso,
Adakah kalian tidak melihat bahwa kami adalah Iblis,
Iblis berwujud manusia,
yang melakukan semuanya atas nama kebiadaban.

Ya, atas nama Kebiadaban
Jangan samarkan dengan yang lain, kawan,
sekali lagi, atas nama kebiadaban,
Kami melakukan semua itu.

Denpasar, 30 Mei 2005
“Untuk orang-orang biadab dibalik aksi terorisme di Indonesia, matilah kalian !”

referensi : Dan kata-kata pun tak mampu melukiskan/

October 19, 2004

Kegetiran dalam Sabda Sang Puteri

Filed under: SosBud, Puisi

Shalat
Renungan terhadap sajak-sajak Emily Dickinson

“Hope is a thing with feathers,
that perches to the soul,
and sing a tune without words,
and never stops at all.”

-Hope is a Thing with Feathers by Emily Dickinson (1830-1886)

Hmm, entah kenapa malam ini saya teringat dengan sajak-sajak yang ditulis oleh Emily Dickinson, seorang penyair wanita Amerika paling berpengaruh di awal abad 20. Anda bisa mendapatkan sajak-sajak Dickinson yang terangkum dalam Series One dan Selected Poems di alamat http://www.gutenberg.net/etext/2679

Sajak-sajak Dickinson selalu bercirikan paradoksal, di satu sisi amat getir menceritakan luka karena cinta, keputusasaan, kepahitan hidup dan lain-lain; sementara di sisi lain dia juga piawai melukiskan keindahan, cinta, semangat dan kebahagiaan. Walaupun bagian pertama lebih banyak mewarnai sajak-sajak yang ditulisnya, akan tetapi sisi paradoksal dalam berkarya ini juga dialami oleh penyair-penyair lain di zamannya, seperti juga sang kampiun filsafat transedental, Ralph Waldo Emerson.

Membaca Dickinson adalah membaca sebuah buku yang teramat dalam dan begitu kaya warna. Kegetiran, –seperti juga akan getirnya kehidupan pribadi Emily–, akan kita temui dengan kata-kata ‘khas’ penyair, yang penuh sayap, kadang-kadang lugas tanpa ampun, seperti kita lihat dalam sajak Letter To The World, :

This is my letter to the world,
That never wrote to me, —
The simple news that Nature told,
With tender majesty

Bukankah dalam sajak ini, Dickinson seolah menyindir (dengan getir dan pedas), kehidupannya di dunia ini yang seolah tak pernah mendapatkan nasib yang baik (setidaknya bagi dirinya sendiri) ? Terlahir sebagai salah satu generasi pertama American society yang educated di kota Amherst, Massachusets, Emily adalah seorang yang pandai menggunakan dan memahami baik logika dan filsafat, sesuatu yang amat jarang dimengerti oleh kaumnya, apalagi pada waktu itu. Sajak-sajaknya membuktikan kepiawaiannya memainkan dua hal tersebut, disamping ekspresi yang bisa dibilang extra-ordinary dalam pengungkapan makna-makna.

Bagi saya, kekuatan utama dari Dickinson adalah kedalaman sajak-sajaknya dalam mengungkapkan makna, khususnya ekspresi-ekspresi yang berkaitan dengan kegetiran hidup dan cinta. Sebuah hal yang tentunya, ketika kita mempelajari lebih jauh, tercipta dari sebuah pengalaman pribadi sang penyair. Hal ini tentunya tidak aneh, sama seperti apa yang diungkapkan Pasternak, atau Dostoyevski, dan kita bisa juga menyebut Chairil Anwar. Kita bisa lihat dari potongan-potongan sajak The Contract :

I gave myself to him,
And took himself for pay.
The solemn contract of a life
Was ratified this way.
The wealth might disappoint,
Myself a poorer prove
Than this great purchaser suspect,
The daily own of Love

Ah, Emily, sungguh jauh terentang batas waktu antara kita. Membaca sajak-sajakmu, adalah membaca sebuah perjalanan cinta, dari sisi yang tak pernah kita bayangkan. Selama ini mungkin kita hanya mendengar Shakespeare dengan tragedi Romeo-Julietnya, atau kegetiran Mangun Wijaya dalam Burung-Burung Manyar. Kegetiran yang selalu berpihak dalam satu sisi, –sang korban–, tapi dalam sajak-sajakmu aku membaca kegetiran dalam berbagai sisi, sang korban, sang pelaku, dan sang penutur. Sungguh hebat bukan ?

Hmm, suara serak Syaharani melantunkan “A Whiter Shade of Pale”-nya Annie Lenox menyadarkan lamunanku atasmu, Emily. Teringat engkau, teringat sekuntum bunga terindah yang pernah mengisi taman hatiku. Saat ini, –entah mekar, entah kuncup–, tak lagi tahu dimana dia berada.

Emily, hidup memang tak selalu indah, tapi juga tak selalu getir!

Batu Hijau, Medio September 2004.

Jody Ananda

September 30, 2004

Dan Kata-kata pun tak Mampu Melukiskan

Filed under: Puisi

Bom Kuningan

Ada saat,
Dimana kata, hanya sekedar kata,
Diam, tak mampu mengusung makna,
Atas sebuah peristiwa,
Yang terjadi di depan mata.

Ada saat,
Dimana hati, –tak bisa bicara–,
Ketika menyaksikan kebiadaban yang kelewat batas,
Dipertontonkan bagai sebuah kisah sandiwara,
Hanya saja sandiwara ini tak kan mungkin berulang,
Dan para pelakon menjadi mayat-mayat,
Yang tak ’kan bangkit kembali membuka mata.

Ada kata-kata yang terdengar : ”Manuela,..”
Hatiku tak mampu membisikkan nama-mu,
Yang tenggelam dalam tawa sang Rahwana,
membiru dendam, menghanguskan keceriaan,
di pagi yang cerah.

Ada ratap tangis, dan jutaan mata basah oleh airmata,
”Haruskah kembali ledakan, demi ledakan, menghancurkan
negeri ini ?” jerit batinku,
Sang Iblis berpesta di angkasa,
Hatiku masih saja meneriakkan ”Manuela, ”,
Ketika kutatap sosokmu yang lemah dan berdarah,
Digotong sang penolong yang perkasa.

Manuela,
Sungguh aku tak mampu melukiskan,
Dengan kata-kata yang biasa ’ku jalin,
Kata-kata yang biasa kujadikan sahabat,
Kata-kata bersayap yang membumbung tinggi di angkasa,
Ketika berbicara cinta dan kebahagiaan,
Dan terperosok dalam kehampaan,
Ketika berbicara tentang luka dan derita.

Manuela,
Sungguh aku tak mampu melukiskan,
Dengan kata-kata ataupun ungkapan,
Iblis yang telah merenggut senyummu,
Di pagi yang kelabu.

Untuk : Elisabeth Manuela Bambina Musu, dan para korban Bom Kuningan 9 September 2004

Batu Hijau, 10 September 2004
Jody Ananda

May 30, 2004

MAK, ANAKMU DISINI

Filed under: Puisi


MAK, ANAKMU DISINI….!!
(I)

Mak, anakmu disini,
Mencoba meraih segenggam harapan,
Yang selalu engkau hembuskan,
Dari hari ke hari.

Mak, anakmu disini,
Jauh dari sisimu, mencoba menatap mentari,
Dan menempuh malam-malam panjang yang sunyi,
Sambil menunggu, apakah mentari besok ‘kan kembali,
Dan selaksa pagi seolah-olah bergema dan menari-nari,
Di hadapan diri ini.

Mak,
Aku selalu rindu sinar matamu yang teduh,
Saat cahaya hidupmu masih terang benderang,
Bersinar-sinar terangi hidupku, Mak,

Aku selalu ingat saat kau berpeluh,
Bergerak dengan sigap laksana perwira perang,
Mengurus kami yang seolah tak bosan untuk minta perhatianmu.

Mak, kini cahaya hidupmu mulai memudar,
Seiring usia dan zaman yang akan terus berputar,
Dan Sang Waktu yang tersenyum sinis, kaku dan bisu.
Andai mampu,
Aku ‘kan membeli seisi dunia, Mak,
Dan menukarnya dengan cahaya hidup,
yang akan kuberikan padamu.

Mak, anakmu disini,
Mencoba mencari cahaya hidup,
Yang selalu kau berikan padaku.

*jabier*
Batu Hijau, May 2001

- Untuk Ibunda.


MAK, ANAKMU DISINI….!!
(II)

Mak, anakmu disini,
Bersembunyi dibalik jubah mentari,
Dan menghitung, –hari demi hari–,
Untuk bisa berjumpa denganmu kembali.

Mungkin engkau bertanya,
Kapankah waktu itu..??
Dan aku pun bertanya hal yang sama.

Maka biarkanlah Sang Mentari,
Yang mengatakannya padamu.

*jabier*
Batu Hijau, Juli 2001

Sajak Untuk Ibunda

Filed under: Umum, Puisi

Banyak penyair dan penulis berbicara mengenai ibunda mereka,dan mengungkapkannya dalam karya-karya. Sosok ibunda adalah inspirasi yang juga tak kan pernah putus mewarnai hidup kita, sama seperti Cinta itu sendiri.

Ibu saya adalah seorang wanita yang keras dalam mendidik anak-anaknya, penuh disiplin layaknya dalam militer. Semua hal harus dipikirkan dengan masak dan terencana, dan seperti layaknya seorang ahli strategi ulung, beliau selalu punya rencana cadangan terhadap semua hal : waktu piknik, sekolah, bermain (pun ada waktu-nya dan harus on-time), dan lain-lain. Satu hal yang tentu saja, sangat tidak kami sukai pada waktu kami kecil dulu, apalagi pada waktu kami semua ABG dan sudah mulai berani mempertontonkan “pemberontakan” kami..hehehehe :) )

Tapi, siapa yang bisa melawan ibu saya ? Hmm, bahkan kadang-kadang saya berpikir, Tuhan sendiri pun akan kalah berdebat dengan ibu saya :)

Sajak-sajak ini saya tulis ketika dalam masa kesendirian saya di Sumbawa, jauh dari keluarga dan handai taulan. Saya teringat ketika mencium kaki ibu saya sebelum berangkat ke Sumbawa untuk menerima pekerjaan baru di perusahaan tambang Newmont, dan pesan-pesan beliau-lah yang tetap membuat saya bertahan dalam kehidupan yang keras ini.

Inilah sajak-sajak tersebut.

Salam,

Jody Ananda

March 19, 2004

Restorasi Imaji

Filed under: Puisi

Kawan,
tentu kau masih ingat,
imaji-imaji yang pernah kita bagi,
diskusi-diskusi yang pernah kita alami,
dan dompet-dompet kita yang pernah hampir-hampir kosong,
namun kita paksa senyum untuk tetap mengembang.

Kawan,
Masih ingatkah kau ketika dengan penuh amarah,
Aku mempertanyakan Tuhan,
Lalu kukeluarkan segepok Ibnu Arabi dari kantungku,
Dan Tuhan kuandai-andaikan seolah-olah Ia seperti
Sesuatu yang pernah kita kenal dan pegang,
Kau hanya diam, tersenyum getir,
Tapi tetap tenang berargumentasi.
Dan imajiku pun terbang bebas melayang.

Kawan,
Lalu aku datang kembali kepadamu,
Dan kubawa Rumi dan Rabiah kepadamu,
Kau juga hanya tersenyum dan imajiku pun terbang bebas,
Dan lain waktu aku bawa imaji-imaji yang lain,
Marx, Feurbach sampai seringai-seringai Che Guevarra,
Kau hanya tersenyum.
Dan biarkan imaji kita berkembang disana.

Kawan,
Masih ingatkah ketika kuceritakan padamu,
Tentang hidup yang keras pada kita,
Dan seolah-olah tidak adil,
Dan kita hanya bisa memandang langit-langit kamar,
Yang tentu saja hanya diam membisu.

Masih ingatkah engkau, kawan,
Saat kau menangis dan ucapkan sumpah serapah,
Pada hidup yang memang keras, dan kadang kejam,
Lalu aku tampung tetes-tetes airmata itu,
Dan kita ubah bersama-sama menjadi sebentuk harapan,
Harapan bahwa akan selalu ada kesempatan buat orang-orang,
Seperti engkau dan aku.

Kawan,
Aku ingat hari-hari itu,
Dan ‘kubuat sebuah lukisan imaji,
Imaji yang tak kan pernah berhenti.

*jabier*/Feb 2001/republished March 2004
(Sambil memandang langit-langit kamar kos2 an 2x3 meter di Keputih “indah” berseri)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here