Catatan Sang Petualang

February 1, 2006

Soe Hok Gie : Beberapa Sketsa Pemikiran (Bagian II)

Filed under: Politik, SosBud

soe
Lanjutan dari Bagian I

Humanisme
Dalam bukunya “Zaman Persimpangan”, nuansa humanisme dari Soe Hok Gie dapat kita baca dari beberapa sketsa tulisan yang ada. Kekecewaanya karena ikannya yang mati, dan Gie juga seorang penyayang binatang. Walau demikian ada yang sedikit paradoksal dalam dalam diri Soe Hok Gie (dan tentunya juga beberapa pemikir lain dalam sejarah) dengan cap sedikit anarkis. Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai humanisme anarkis, dimana kadang-kadang kita terpikir untuk “menghancurkan saja isi dunia ini beserta seisinya” agar segala wabah penyakit, perang, dan lain-lain bisa hilang dari dunia ini.

Progressif Revolusioner

Gie adalah pemikir progressif, dan juga revolusioner. Walaupun dalam bidang sosial budaya dapat dikategorikan sebagai pemikir yang evolusioner, tapi dalam bidang politik pemikiran-pemikirannya sangat progresif, dan revolusioner.


Beberapa Kritik terhadap Soe Hok Gie

Mencoba mencermati pemikiran Soe Hok Gie tanpa melihat alur benang merah sejarah yang terjadi di tahun 1960-an sangatlah tidak mengena. Kondisi aktual yang terjadi saat itu justru dapat diambil sebagai dasar untuk memahami beberapa pemikirannya. Tahun 60-an ditandai dengan ciri humanisme universal, dalam bentuk gerakan anti perang (Vietnam, di Amerika), anti apartheid dan rasisme (Marthin Luther King, Malcom ‘X’ — juga di Amerika), teologi pembebasan model Freirie (Amerika Latin), Gerakan Gypsi di Amerika (dalam bidang kebudayaan), dan lain-lain. Pemikiran inilah yang membentuk suasana kebatinan yang dihadapi oleh Gie pada waktu itu.

Beberapa kritik yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut :

  • Beberapa pemikiran Soe Hok Gie kurang mendapat landasan pemikiran yang komprehensif. Ini bisa dimaklumi karena Gie, –karena usianya pendek–, tidak pernah menghasilkan sebuah buku khusus yang membahas pemikirannya secara lebih komprehensif dan terstruktur.
  • Kita kurang menemukan banyak pemikiran Soe Hok Gie yang langsung menyentuh tataran aplikasi atau level yang lebih operasional. Kebanyakan pemikirannya langsung berkutat ‘le grande design’, tataran konsep kenegaraan dan/atau humanisme universal.
  • Karena banyaknya bidang yang disinggungnya, mulai dari sosial, budaya, politik , maka pemikiran Soe Hok Gie menjadi agak kabur, tidak fokus pada mainstreamnya, yaitu pemikiran politik. Hal ini barangkali juga akan bisa dipecahkan jika saja Gie tidak mati muda.

Lepas dari itu semua, pemikiran-pemikiran Soe Hok Gie pantas mendapatkan decak kagum. Di kurun waktu itu, –dengan semangat pembebasan dan lainnya–, tidak dipungkiri, Gie adalah icon pada zamannya.

Salam dari Sanur,

Jody Ananda

January 23, 2006

Surat Terbuka untuk Rektor ITS

Filed under: Politik, SosBud, Umum

Kepada Yth.
Bpk. Dr. Ir. Muhammad Nuh
selaku Rektor ITS
Di - Surabaya

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mencermati kasus skorsing 14 mahasiswa ITS yang terjadi akhir-akhir ini, sebagai alumni kami tergerak untuk menyatakan sikap kami.

Skorsing terhadap tindakan yang diindikasikan sebagai melanggar, tanpa memberikan peringatan keras dan teguran sebelumnya sungguhlah sangat dzalim. Ditambah lagi apa yang mereka perbuat masih sangat terbuka untuk diperdebatkan sebagai melanggar.

Asas kemandirian organisasi mahasiswa hanya mensyaratkan pertanggungjawaban secara administratif kepada pihak birokrat kampus, baik di tingkatan Jurusan, Fakultas maupun Institut. Pertanggungjawaban mereka adalah kepada konstituen mahasiswa, melalui lembaga-lembaga seperti RUMJ dan atau Rapat Anggota.

Sangatlah tidak masuk akal kalau kemudian pihak birokrat Kampus mencampuri urusan-urusan perekrutan anggota, mekanisme organisasi atau urusan-urusan internal lain. Tindakan ini hanya membalikkan putaran jarum jam kembali ke zaman pra-reformasi, dimana pemerintah bahkan melakukan kooptasi terhadap organisasi pemuda dan mahasiswa.

Jika dahulu kami di tahun 1998 lalu, sebagai mahasiswa kami berteriak dengan kata-kata ‘menuntut’, ijinkanlah kami disini memperhalusnya menjadi ‘meminta’, dengan dilandasi semangat untuk membangun almamater kami,ibu yang luhur ITS.

Pokok-pokok pikiran kami adalah sebagai berikut:

  • Meminta anda, sebagai Rektor ITS untuk meninjau kembali keputusan skorsing yang dijatuhkan kepada 14 mahasiswa ITS dari jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi ITS.
  • Meminta pimpinan ITS untuk membuat aturan yang jelas dalam kaitannya dengan organisasi kemahasiswaan di ITS dan proses kaderisasi di dalamnya dengan melibatkan peran serta penuh mahasiswa dan menghormati asas kemandirian ORMAWA sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku.
  • Meminta pimpinan ITS untuk menghormati kemandirian organisasi mahasiswa ITS, dan sebaliknya mengajak organisasi mahasiswa untuk menjalankan kewajibannya memberikan pertanggungjawaban secara administratif kepada kepada pimpinan ITS, baik di tingkatan Jurusan, Fakultas maupun Institut.
  • Meminta peran aktif Ikatan Alumni ITS untuk dapat menjadi mediator dalam masalah ini. Urusan internal ITS sudah sepatutnya diurus sendiri oleh keluarga besar ITS, bukan oleh orang luar.

Demikian surat terbuka ini kami sampaikan, semoga kita diberi kekuatan oleh Tuhan YME untuk bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik, dalam semangat kekeluargaan dan ke-ITS-an.

Denpasar, Januari 2006

Cc :
Dr. Ir. Achmad Jazidie, PR III ITS
Pimpinan Fakultas Teknologi Informasi ITS
IKA ITS Pusat cq. Bpk. Ir. Kristiono
Media Massa
Milis ITS terkait

Alumni ITS yang memberikan persetujuan dan mendukung Surat Terbuka ini (diurut berdasarkan waktu),

Jody Ananda,S.Kom (T.Informatika ‘94)
Bambang Wiyono,S.Si (Fisika ‘93)
Vivid Devianti,ST,MM (T. Industri ‘92)
Agus Subhan Akbar,S.Kom (T.informatika ‘94)
A. Andi Leon Arkantoro,ST (T. Perkapalan ‘93)
Kurnia KP Pratomo,ST (T. Sistem Perkapalan ‘93)
Heri Setyono,S.Kom (T. Informatika ‘ 95)
Agus Nasruddin, A.Md (D3 T. Kimia ‘ 96)
Dhia M Shahab,S.Kom (T. Informatika ‘96)
Arif Widya,S.Kom (T. Informatika ‘98)
Kusno Mudiarto,S.Kom (T.Informatika ‘94)
Joko Wijoseno WR, S.Kom (T.Informatika ‘94)
Novel S Sidabutar (T. Informatika ‘95)
Teno P Arief, S.Si (Matematika ‘98)
Danang Sumartono, S.Kom (T. Informatika ‘98)
Willi Jensen, S.Kom (T.Informatika 2001)
Nelly Rosidha Arif, S.Si (Kimia ‘99)
Mario CSP, S.Kom (T. Informatika ‘97)
Munawar Kasan, ST (T. Perkapalan ‘92)

September 29, 2005

Hanya ada satu kata : lawan ..dan nge-Blog!!

Filed under: Politik, SosBud, Umum

Demo BBM
Mas Wiji Thukul mungkin saat ini sedang bersenda gurau dan berpuisi dengan Tuhan di alamnya, dan dikuburnya yang entah dimana.

Menyikapi kenaikan BBM, saya memperhatikan dan mengamati dengan cermat. Termasuk aksi 40.000 orang (saya dengar sih begitu) dari berbagai komponen masyarakat yang direncanakan hari ini.

Pertamina memang sudah bangkrut, bangkrut dalam artian secara manajemen dan kultur. Dan walau Widya Purnama, eks-Dirut yang kena kick-off, satu almamater dengan saya, saya menganggap memang dia harus turun dari Pertamina, dengan berbagai kasus yang menggelikan kalau tidak memalukan : kelangkaan BBM, korupsi, pencurian minyak, dan menangnya Exxon di ladang Cepu. Tidak fair kalau saya menyebut ini sebagai kesalahan dia seorang, tapi at least, sebagai CEO, tentunya dia yang harus bertanggung jawab. Kalau bukan dia, lalu siapa ?

Kita bisa melihat website berikut, yang mengklaim sebagai FAQ mengenai kenaikan BBM. Setidaknya sebagai referensi anda sebelum berdemo.

Memang sudah terlalu banyak rakyat Indonesia di-tepu oleh penguasa. Jadi, hanya ada satu kata : Lawan !!

Kalau saya tambah satu : ..dan Nge-Blog.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

Tentang Ulil

Filed under: Politik, Agama, SosBud

My Wife
Setelah digebuk berulang kali dari berbagai kalangan Islam di Indonesia, kini Ulil digebuk lebih hebat lagi. Dan seperti biasa, tanggapan Ulil selalu khas Ulil. Lihatlah tanggapannya ketika 14 fatwa MUI –yang diantaranya mengharamkan pluralitas, dan Ahmadiyah –, “Fatwa MUI itu konyol dan tolol. ” katanya. “Jadi KH Sahal Mahfudz dan Prof Din Syamsuddin itu tolol ya Mas Ulil..?? ” kata wartawan. “Iya, tolol..” Ulil menjawab sambil nyengir tidak karuan. Padahal KH Sahal Mahfudz adalah guru Ulil di pesantren.

Sebagai seorang putra NU (ini kalau dia masih menganggap diri sebagai putra NU), saya yakin Ulil pasti telah khatam kitab Ta’limul Muta’alim, kitab standar di pesantren yang diberikan di saat-saat awal, yang mengajarkan bagaimana etika belajar dan menghormati guru. Kata-kata Ulil diatas, dan beberapa perkataannya yang lain sangat jauh dari isi buku tersebut.

Saya sebenarnya menyukai gagasan dasar dari Islam Liberal, dan nuansa kiri Islam (yang digagas Hassan Hannafi) yang menjadi pondasi dari beberapa pemikiran-nya memang sesuai dengan pandangan saya. Tapi itu tidak menjadikan saya, by default, menjadi tidak kritis dan taqlid kepada Islam Liberal. Ulil yang saya kenal adalah seorang cendekiawan muda NU (dulu dia ketua Lakpesdam NU, sekarang tidak tahu) bersama Masdar F Mas’udi dengan pemikiran-pemikiran yang segar dan kritis terhadap NU. Tapi menjadi kritis dan berdialektika seharusnya tetap tanpa menghilangkan etika. Cuman beberapa lama sejak bergabung dengan Islam Liberal, beberapa pandangannya menjadi ngawur : kawin campur beda agama, sholat dengan wanita sebagai imam, masalah pakaian yang katanya public decency, dll.

Laisa ‘l-fiqh illa bil khilaf”, begitu sebuah teks dari kitab-kitab standar fiqih, hukum Islam. Jika tidak siap untuk berbeda pendapat, tidak usah belajar fiqih.

Saya dibesarkan dan hidup dalam tradisi kultur NU, bahkan nenek saya almarhum pernah menjadi anggota DPR utusan dari Muslimat NU. Ketika melihat tingkah polah Ulil sekarang, sungguh saya tidak melihat bekas-bekas dari didikan NU kepadanya.

Jika Ulil membaca ini, semoga ini menjadi tausiyah kepadanya.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

September 28, 2005

Soe Hok Gie : Beberapa Sketsa Pemikiran (Bagian I)

Filed under: Politik, Review

soeBagi anda yang telah membaca tulisan saya sekelumit tentang Soe Hok Gie, maka tulisan ini lebih serius untuk mengungkap sisi-sisi pemikiran dari Soe Hok Gie, satu contoh dari apa yang disebut sebagai intelllectual abortus,–orang-orang yang terlalu cepat mati muda sebelum sempat melakukan kerja besar dari pemikiran-pemikirannya.

Soe Hok Gie, sebagaimana intellectual abortus yang lain (Ahmad Wahib, Ada Augusta di Inggris, atau …) tidak sempat meninggalkan sebuah karya yang berisi kompilasi pemikirannya, hanya beberapa catatan2 tentang kehidupannya : “Buku Harian Seorang Demonstran”, an “Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan”, sebuah skripsi untuk menyelesaikan studi sejarahnya di FSUI. Buku kedua, walaupun masih agak prematur, sedikit banyak bisa kita ambil sebagai pijakan untuk meletakkan posisi pemikiran Soe Hok Gie, paling tidak secara ideologis.

Sosialisme
Soe Hok Gie jelas adalah seorang sosialis tulen. Sebagai aktivis dari GM Sos (Gerakan Mahasiswa Sosialis), dia akrab dengan tulisan-tulisan dan pemikir-pemikir sosialis seperti Jean Jaures, Rosa Luxemburg, Gramsci, Sjahrir dan lain-lain. Dia selalu berharap agar setiap asset yang dimiliki negara digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (Pasal 33 UUD ‘45), tapi tanpa melakukan peniadaan kelas yang agresif dan agitatif layaknya aksi kaum Marxis-Leninis.

Sekuler
Pemikiran-pemikiran Gie, jelas berusaha memisahkan antara Agama dan Negara. Jika dia masih hidup sekarang ini, mungkin Gie sudah masuk dalam TO (target operasi)-nya FPI Rizieq Shihab.

Mari kita lihat dalam kerangka bagaimana Gie merumuskan sekularisme-nya.
Beberapa tulisannya dalam “Zaman Persimpangan” (Gie berkesempatan mengunjungi Amerika dan Australia), dia melihat langsung fenomena kaum hippies, anti-establishment dan semacamnya pada waktu itu. Saat itu, issue agama menjadi tidak menarik sama sekali bagi Gie, dan paham sekularian jauh lebih menarik dan sexy bagi orang-orang muda seperti Gie.

Dalam kaitan ini pula kita bisa memahami thesis Nurcholish Madjid di awal 70-an : Islam Yes, Partai Islam No. Ketika label-label agama dilekatkan pada sebuah organ non agama (partai, institusi dan lain-lain) maka dia menjadi kehilangan makna tematis dan historisnya. Bahkan dalam beberapa kasus, hal ini menjadi beban bagi organ yang dilekatkan dengan label agama, untuk selalu bertindak sesuai dengan ‘rules‘ yang terdapat dalam kitab suci.

Evolusi Budaya
Gie percaya, bahwa budaya (dan dalam range tertentu ini juga menyangkut agama, yang dalam kajian sejarah dipandang sebagai sebuah bentuk kebudayaan manusia) bersifat evolutif; selalu bergerak dan berubah sesuai dengan tuntutan jaman. Dalam hal ini, Gie percaya adanya sebuah ‘mixed-for-good‘, adagium bahwa pergesekan antar budaya akan menghasilkan sebuah kebudayaan baru yang lebih baik dari kebudayaan sebelumnya. Karena itu, dalam tataran implementasinya, Gie mendukung kebijakan kawin-campur bagi etnis Tinghoa waktu itu (dan etnis-etnis lainnya juga) agar sebuah nation-state bernama Indonesia ini menjadi sebuah entitas yang plural dan inklusif.

Saya akan membahas lebih lanjut di bagian selanjutnya untuk membedah secara kritis pandangan-pandangan Soe Hok Gie dalam lapangan ideologis dan budaya.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

August 17, 2005

Kita (masih 1/2) Merdeka !

Filed under: Politik, Umum

Proklamasi
Seperti layaknya sebuah ritus, –yang diagung-agungkan–, kemudian menjelma menjadi tradisi dan kemudian rutinitas, peringatan kemerdekaan tahun 2005 ini mencatat beberapa hal yang baru : 60 tahun, enam dasawarsa, sebuah usia yang tidak lagi muda; sebuah konsep politik baru yang melahirkan presiden yang dipilih langsung oleh rakyat; dan lembaran baru untuk Aceh.

Tidak semua hal baru saya sebut diatas, dan tentu saja tidak selalu hal yang baru itu baik. Memperingati Hari Kemerdekaan sebuah bangsa haruslah menjadi sebuah oase bagi pemenuhan semangat kebangsaan, yang dirintis oleh para founding fathers kita : Soekarno, Hatta, Sjahrir, Dokter Sutomo, Wahidin, Ki Hajar Dewantara dan lain-lain.

Apa sebenarnya makna kemerdekaan yang sejati ?
Merdeka (terambil dari akar kata bahasa Sanskrit ma-har-dhi-ka), bermakna sebuah kondisi atau keadaan dimana seseorang bebas dari segala ikatan yang memasungnya, baik ikatan yang bersifat sosio-kultural, maupun ikatan yang bersifat fisik. Bebas menentukan ke arah mana dia berjalan, menghirup udara bebas yang diberikan oleh Tuhan, dan terbang kemana saja dia suka. Karena itulah, banyak lambang negara yang diasosiasikan dengan burung; entah burung Elang (seperti Amerika), atau Garuda (seperti yang kita miliki). Burung elang yang gagah, terbang dengan cepat kemana saja dia suka; dan memiliki mata tajam ; semuanya analog dengan budaya pembebasan dan kemerdekaan.

Apakah kita sudah merdeka ?
Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu kita definisi kemerdekaan diatas harus sedikit direvisi agar klop dengan identitas negara : Sebuah negara yang mandiri, tidak terikat dengan ancaman dan ketakutan yang mengharuskannya melakukan sesuatu yang memalukan; sebuah negara yang tidak didikte oleh siapapun; sebuah negara yang mampu mencukupi segala kebutuhan warga negara dan memanage semua resource-nya dengan baik; tanpa rasa takut, khawatir dan lain-lain.

Indonesia masih 1/2 merdeka.
Kita lihat saja apa yang dilakukan oleh Indonesia ketika kedaulatannya dicabik oleh tetangga jiran (yang selalu berlindung dibalik “British rules the waves”) ketika terjadi class fisik seperti tahun 60-an. Tidak ada bluffing, tidak ada action yang menunjukkan sebuah dignity sebagai sebuah nation. Apa yang dilakukan Indonesia ketika salah satu nelayannya ditangkap dengan semena-mena di Australia dan kapalnya dibakar ? Nothing, at least I can say that. Australia yang jumlah penduduknya kurang dari 10% penduduk Indonesia, dengan tentara yang pas2an, berani melakukan pelecehan seperti itu. Lihatlah apa yang dilakukan Amerika terhadap warganya : walaupun sudah terbukti bersalah di Singapura dan dikenakan pasal hukum cambuk, mereka teriak dan bluffing dan melakukan segala cara untuk meniadakan hukum cambuk tersebut. But Singapore kept tough, and says no. Itu yang harus kita contoh; baik dari Amerika, maupun sikap Singapura yang tegas dan kokoh pada pendiriannya.

Apa yang kita lakukan pada Singapura yang “menyimpan” belasan koruptor buronan dari Indonesia ? Bagi saya tidak ada jalan lain; ultimatum Singapura bahwa jika mereka melindungi koruptor (yang adalah musuh negara), menahan asset mereka, maka they declare a war against us. Tidak usah berlindung dibalik konvensi ekstradisi yang belum kita tanda tangani; Just give those outlaw bastards to us !

Kita masih setengah merdeka.
Mari kita penuhi yang setengah lagi dengan tegak berdiri dan berkata : “Aku ingin kemerdekaan yang sesungguhnya.”

Entah kenapa, saat-saat seperti ini saya rindu dengan figur Soekarno. Adakah semangatnya menitis dalam jiwa salah seorang pemimpin kita ? Saya ingin mendengar kembali ucapan William Wallace, pahlawan Skotlandia :
They may take our lives,
 But they can’t take our freedom……

teresonansi pada ucapan Indonesia pada Singapura (atau Amerika, atau Malaysia, atau negara lain yang berlagak jago) :
You can take out our bastards, but you can’t take our dignity.”

Indonesia,
Sungguh darah ini adalah darahmu,
Disana mengalir air yang kuminum dari bumimu,
Didadaku, kuhirup udara dan memandang biru langitmu,
Mataku memandang bumi-mu yang indah, seindah zamrud khatulistiwa,

Dan jika sampai ajalku,
‘Kuingin tulang dan darah ini kembali ke bumimu,
menyirami tanahmu yang subur,

Di hari ini, aku ingin berteriak,
MERDEKA !!
untuk yang kedua-kalinya

Salam dari Sanur,
17 Agustus 2005

Mas Jabier
-Indonesia, sungguh darah ini adalah darahmu..

July 20, 2005

Kiri, Jalan Terus !

Filed under: Politik, Agama, SosBud

islamic revolution
Jod, pandangan-pandanganmu koq kiri banget sih !
Jan***k, sosialis tulen koen !

Begitu ungkapan beberapa kawan kalau melihat beberapa pandangan saya atas berbagai permasalahan dalam bidang sosial dan politik. Bahkan, Agus Subhan, sahabat saya di ITS juga sempat menanyakan kenapa saya begitu “kiri” dan “agak merah.”

Ya, jawaban-jawaban sudah saya berikan. Mungkin blog ini akan menjadi jawaban terakhir saya, karena kalau ada orang yang bertanya, saya tinggal sertakan link posting ini sebagai jawaban. Enteng kan hehehehehehe….

Saya akan menjawab dari dua sisi : sisi sejarah, dan sisi teologis. Dari sisi sejarah, mari kita luruskan dulu bahwa Kiri itu identik dengan Komunis, Otoriterianisme, Totaliterisme, Marxisme dan Atheisme. Semuanya jelas salah besar, walaupun memang banyak dari mereka yang berkecimpung dalam gerakan kiri memilik ideologi seperti diatas. Kiri, pada awalnya, dinisbatkan kepada sekelompok orang dalam parlemen Perancis diawal Republik ke-IV (sekitar 1920-1944) yang menolak ikut dalam pemerintahan, yang akhirnya disebut sebagai oposisi. Kiri, menjadi sebuah ideologi perlawanan, terhadap ideologi mapan pada saat itu, yang dinilai tidak membawa semangat Revolusi Perancis.

Tuan-tuan hanya mewarisi abu dari revolusi Perancis, sedangkan kami, mewarisi apinya ! ” demikian teriak Jean Jaures, tokoh (kiri) Perancis pada waktu itu. Apa sih semangat Revolusi Perancis itu ? Jawabnya hanya 3 : pembebasan (liberte), kesetaraan (egalite) dan persaudaraan (fraternite).

Jadi kalau kita merujuk pada prinsip historis, Kiri adalah sebuah ideologi gerakan yang berupaya mengambil 3 nilai dari Revolusi Perancis : pembebasan dari semua penindasan, semangat kesetaraan yang diaplikasikan dalam hukum yang adil bagi semua orang dan persaudaraan. Pada akhirnya, dalam proses evolusinya, Kiri menjadi sebuah ideologi anti-penindasan dan perlawanan.

Dari sisi teologis, sebagai seorang muslim, secara pribadi saya memandang Islam juga sebagai sebuah ideologi pembebasan dan anti penindasan. Lihatlah dalam Qur’an, begitu banyak ayat-ayat yang menyatakan bahwa semua manusia adalah sama dimana Tuhan, yang membedakan adalah amal ibadahnya saja. Lihatlah juga, bahwa disamping seorang Nabi, Muhammad SAW juga adalah seorang revolusioner yang merombak sistem yang ada pada saat itu (sistem politik, budaya, agama dll) menjadi sebuah sistem yang sesuai dengan semangat Islam.

Saya sejalan dengan pandangan-pandangan Muhammad As-Sanusi (pendiri tarekat Sanusiyah di Yaman), Hassan Hanafi, Rasyid Ridha yang memandang Islam sebagai sebuah ideologi pembebasan. Dan itulah yang saya tafsirkan sebagai nuansa kiri dalam Islam (Hassan Hanafi, “Kiri Islam”).

Apakah saya salah kalau saya meletakkan kaki saya dan menaruh tangan saya di sisi mereka yang tertindas ? Apakah saya salah jika saya menyebutkan dzikir saya untuk mereka-mereka yang dianiaya ? Apakah kemudian menjadi tidak benar jika saya menafsirkan ucapan Kanjeng Nabi untuk selalu membela mereka2 yang tertindas dan teraniaya ?

Semangat pembebasan, kesetaraan dan persaudaraan itulah yang saya tafsirkan dalam Islam. Anda bisa berargumentasi mengenai salah benar dalam kerangka teologis-fiqh-hadits-ushul dll, tapi inilah yang menjadi ijtihad saya. Mungkin salah mungkin benar, tapi paling tidak saya mendapat 1 pahala.

Jadi Kiri ? Jalan terus…!!

Salam,

Mas Jabier

June 24, 2005

Soe Hok Gie

Filed under: Politik, Umum

soe
“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…” - Soe Hok Gie, Zaman Peralihan

Ada beberapa kesamaan antara Soe Hok Gie, dengan saya. Kami sama-sama berbintang Sagitarius, sama-sama menyukai petualangan dan mendaki gunung, sama menyukai dan mempelajari sosialisme, sama-sama memiliki jiwa pemberontak dan eks-demonstran.

Dan sama-sama anti penindasan dan selalu berpihak pada mereka yang tertindas. Hanya saja, Soe Hok Gie, sama seperti Ahmad Wahib, menjadi mereka yang disebut sebagai intellectual abortus,– para intelektual cerdas yang mati muda sebelum sempat melakukan banyak kerja besar dari hasil pemikiran mereka. Gie meninggal karena asap bercaun

Kalau anda membaca profil tentang saya, anda akan melihat bahwa Soe Hok Gie adalah salah seorang yang saya kagumi. Kecerdasannya, kejujurannya, dan terutama keberaniannya, untuk melakukan perubahan. Rekan-rekannya berujar “Gie, lurus tanpa ampun menerjang siapa saja yang harus dia terjang..“. Saya membaca dengan penuh antusias buku-buku Soe Hok Gie : Catatan Seorang Demonstran Zaman Peralihan, Orang-orang di Persimpangan Sejarah. Tulisan-tulisannya persis seperti yang saya bayangkan : lugas, apa-adanya, kadang-kadang satir, dan tajam dalam analisa.

Saya menanti dengan tak sabar selesainya film “Soe Hok Gie” yang dibintangi Nicholas Saputra dan Wulan Guritno, and bet me, I’ll be the first watcher and reviewer when it’s already in. Semoga film ini bisa memotret dengan cukup baik kehidupan Soe Hok Gie dengan segala kelebihan dan kelemahannya sebagai manusia biasa, orang yang berada dibalik perjuangan mahasiswa di tahun ‘66, dan tokoh kunci mahasiswa pada waktu itu.

Izinkan saya mengakhiri artikel ini dengan mengutip tulisan Soe Hok Gie (And The Sixth Rider is The Fear) dalam Zaman Peralihan mengomentasi tentang rasa takut, : ” Manusia, adalah apa yang dipikirkannya. Jika anda adalah seorang yang berani dan jujur, dan itu yang anda pikirkan, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya.”

Denpasar, 24 Juni 2005
Salam dari Sanur,

Mas Jabier

May 2, 2005

Wajah Dunia Pendidikan Indonesia

Filed under: Politik, SosBud


Rekan saya hapal mati kata-kata ujaran dari Ki Hajar Dewantara, bapak Pendidikan Indonesia : "Als ik Nederlander waas", if I were a Dutchman, yang ditulisnya dalam sebuah edisi suratkabar pertengahan tahun 1920-an. Sebuah sindiran yang tajam (satire) kepada tingkah laku kolonialis Belanda pada waktu itu, menindas dan berfoya-foya ditengah bangsa yang dijajahnya.

Kita mafhum, pendidikan adalah kunci utama dari sebuah perubahan, karena dengan pendidikan, rakyat yang bodoh menjadi tahu, dari tahu akan dapat mengambil sikap dan tindakan. Model pembelajaran seperti ini akan terus berulang, dan jika masyarakat sudah semakin terdidik, –yang oleh Nurcholis Madjid disebut sebagai embrio civil society–, inilah yang akan menjadi kekuatan utama kontrol terhadap pemerintah.

Apakah dunia pendidikan kita, setelah hampir 60 tahun merdeka, mengalami peningkatan yang signifikan ?

Saya bilang sih tidak. Kita cukup mengganti kata benda Belanda, dengan kata benda Indonesia Kaya. Jadi :
"Pendidikan berkualitas hanya dinikmati oleh mereka yang [Indonesia Kaya],
Hanya [Indonesia Kaya] yang dapat menikmati pendidikan tinggi yang baik, fasilitas kesehatan yang baik, dan kehidupan sosial yang baik;
Dengan tiket masuk universitas yang aje gile, kembali hanya [Indonesia Kaya] yang berhak menikmatinya;
dan lain-lain" [full of crap]

Bagi saya, karena pendidikan adalah kunci perubahan, maka pendidikan haruslah dibuat murah, –dan kalau perlu gratis–, bagi mereka yang memang berbakat, cerdas, pandai, tapi tidak memiliki dana finansial yang cukup untuk pergi ke sekolah.

Saya (mungkin) beruntung dapat menikmati pendidikan tinggi, tapi saya juga merasa jauh lebih beruntung, karena ditengah kondisi finansial yang begitu pas-pasan, saya dapat melaluinya dengan baik.

Selamat Hari Pendidikan !

Denpasar, Mei 2005

Mas Jabier

May 1, 2005

Para Buruh Sedunia, Bersatulah !

Filed under: Politik

Peterboro
Begitulah kurang lebih, teriakan Vladimir Ilyich Lenin, dalam sebuah episode Iskra (cetusan), sebuah newsletter yang dibuatnya di awal tahun 1900-an. Sebuah ajakan untuk menggalang kekuatan, tanpa memandang batas-batas nasion dan teritorial, untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan kaum buruh. Kata-kata ini sempat mengilhami Rendra dalam sajaknya : "Para pelacur kota Jakarta, bersatulah !"

Sejarah buruh jauh lebih muda ketimbang kaum tani, yang sudah lebih dahulu ada dan secara natural menjadi bentuk paling awal dari profesi manusia. Ketika pekerjaan-pekerjaan baru mulai muncul selain kegiatan agraris seiring majunya peradaban manusia (tukang besi, perajin, tukang bangunan dll), maka buruh mulai terbentuk sebagai sebuah profesi tersendiri, terpisah dari nelayan/petani.  Episode dalam sejarah yang paling menggelembungkan jumlah kaum buruh tentu saja Revolusi Industri, yang bermula di Inggris dengan ditemukannya mesin uap oleh , menggiatkan proses industrialisasi Eropa, yang kemudian terbawa ke Amerika.

Pada kondisi kekinian, apa sebenarnya yang dapat disebut buruh ?
Sederhananya, siapa saja yang bekerja (pada) orang lain dan mendapatkan upah, disebut buruh. So, as long as you’re working for another person (called employers or bosses), you’re a labour ! Saya, anda, teman2 pegawai negeri (Negara sebagai boss), dan lain-lain kebanyakan dari kita yang tiap bulan mendapat gaji, kerja tiap hari hari from nine to five, berdesak-desakan di transportasi umum memakai kemeja dan membawa tas tangan atau membawa mobil mewah sambil disupiri, but you still get salary, not your own company ! Itulah buruh, yang ada adalah kategorisasi buruh : ada buruh berdasi dan tidak berdasi, buruh kaya dan buruh miskin, buruh intelek & buruh kasar, buruh TI dan buruh non-TI (ini personal,..he..he..he..) :)

Kita harus mengakui, fakta di lapangan masih banyak berbicara mengenai penindasan yang dialami oleh kaum buruh di banyak negara, khususnya di Indonesia. Gaji yang tidak cukup, jaminan kesehatan dan asuransi yang tidak memadai, dan lain-lain.  Negara masih memikirkan  dan lebih mementingkan  sekelompok  orang  yang berdiri di  golongan investor, ketimbang  buruh yang jumlahnya mungkin 100x lebih banyak.

Jadi kepada pemerintah yang berkuasa : tetapkan upah yang layak, hilangkan penindasan kepada kaum buruh, berikan jaminan masa depan yang lebih baik kepada buruh, dan kondisikan suasana yang lebih kondusif antara pengusaha-buruh dalam koridor demokrasi dan saling menghormati. Buruh-buruh di negara maju –yang notabene kapitalis–, dengan organisasi yang lebih baik dan tingkat partisipasi publik yang baik, memang jauh lebih baik dari Indonesia. Bahkan Cina Komunis, Kuba, dan beberapa negara komunis lain jauh lebih baik, karena mereka dikontrol oleh lembaga Negara. Dan ingatlah, Partai Buruh adalah partai yang bergengsi di Inggris & Australia, yang aslinya berasal dari kaum buruh.

Mari kita memaknai 1 Mei  (Internationale Day), Hari Buruh, sebagai langkah awal untuk merenungi segala kondisi kekinian yang ada dalam lingkup buruh di Indonesia, dan berusaha memperbaikinya secara sistematis dan organisatoris.

Jadi, para buruh se-Indonesia, bersatulah !

Mas Jabier
–bagian dari buruh Indonesia–

October 19, 2004

Mister President !

Filed under: Politik


Hari ini, KPU telah menetapkan seorang presiden baru untuk Indonesia, setelah melalui pesta demokrasi yang dimulai 6 bulan lalu. Presiden pertama yang benar-benar dipilih oleh rakyat secara langsung, bebas dan tanpa melalui perantara apapun.

“Mister President !” . Ya, begitulah mungkin panggilan yang akan diberikan kepada SBY di negeri Paman Sam sana. Kita mungkin akan menggelarinya “Bapak Presiden “ atau mungkin sambil berlagak melankolis mengenang tahun-tahun menyebutnya dengan “Bung Presiden !” , merujuk pada panggilan yang diberikan kepada presiden pertama republik ini, Soekarno.

Sungguh, begitu banyak PR yang harus dikerjakan oleh SBY dan tim-nya. Keterpurukan ekonomi, politik, budaya, dan tentunya musuh nomer satu negeri ini yang telah memberikan andil bagi ketimpangan sosial di negeri ini dalam segala bidang : korupsi. Ada satu agenda yang tidak bisa dilepaskan dari korupsi, yaitu penegakan hukum yang tegas dan konsisten.

Tanpa penegakan hukum (disegala aspek tentunya), para koruptor hanya akan melenggang dan menjadi praktek yang diamini oleh perang-perangkat yang seharusnya bekerja jujur dan adil. Tanpa penegakan hukum yang tegas, seorang Tommy Winata bisa dengan seenak perutnya memerintahkan pemukulan musuh-musuh yang tidak disukainya, dan bahkan merusak gedung yang ditempati oleh orang atau perusahaan manapun yang dianggap mengancam, dan kemudian melenggang bebas. Lucunya, sistem hukum di negeri ini malah memberi bonus pada Tommy : vonis bersalah atas Bambang Harymurti (BH), pemred Tempo, yang justru merupakan korban dari aksi Tommy.

Saya mengusulkan agar vonis pengadilan terhadap BH dan Tempo ini, kalau bisa, dimasukkan ke dalam Musium Rekor Indonesia (MURI) sebagai vonis terlucu dalam sejarah !

So, mister president, it’s really hard, isn’t it ? Motto “Bersama Kita Bisa !” tentu akan dilantukan ke hadapan saya jika nyerocos menanyakan ini kepada beliau. Lagian, tugas presiden memang berat koq, tidak sekedar diam saja, ya kan Bu Mega ?

Pak SBY, walaupun saya tidak memilih anda pada pemilihan presiden lalu, sebagai seorang demokrat, tentunya ucapan selamat lah yang keluar dari seorang rakyat kecil seperti saya. “Selamat !” karena anda mendapat kepercayaan yang begitu luar biasa dari rakyat negeri ini melalui sebuah proses yang bisa dibilang sangat demokratis, dan tentunya “Selamat Bekerja !” untuk bekerja bagi kemajuan, kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat.

Selamat bekerja, mister, eh,..Bapak Presiden !

Batu Hijau, 4 Oktober 2004

Jody Ananda

September 19, 2004

GOLPUT, sebuah pilihan ?

Filed under: Politik

Kepada teman-teman yang sering menanyakan pilihan saya pada PEMILU putaran dua nanti, saya kerap menyatakan kalau saya GOLPUT, alias tidak memilih. Sebagian besar menyalahkan saya, sebagian kecil menyayangkan, dan sebagian kecil (lagi) diam, tapi ikut pula menyayangkan.

Salahkah orang-orang, yang seperti saya, memilih untuk tidak memilih, alias GOLPUT ?

Tidak ada norma salah dan benar dalam politik, apalagi dalam sebuah koridor demokrasi. Di Amerika Serikat, jumlah partisipasi politik warga negara dalam PEMILU tidak pernah melebihi 50%, bahkan cenderung kurang. Ini tercermin dalam betapa sulitnya untuk mencari juri-juri dalam pengadilan, karena juri-juri dipilih dari citizen yang namanya terdaftar dalam daftar pemilih, dan tentu saja ikut memilih. Dus, sebagai negara kampiun demokrasi seperti itu saja, demokrasi tetap berjalan dengan mulus di negara adidaya tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia ? Memang, kita masih belajar dalam berdemokrasi. Ibarat bayi, kita masih dalam tahap merangkak, belum sampai tahap berjalan. Dalam praktek budaya kita pun, hak untuk tidakmemilih juga dihormati. Pemilihan kepada desa atau lurah misalnya. Jika warga tidak sependapat dengan calon lurah yang ada (dan tidak mau memilihnya), maka ada bumbung kosong sebagai tempat aspirasi warga.

Saya mengkategorikan pilihan GOLPUT menjadi 3 bagian, golput karena acuh tak acuh (apatis), golput karena tidak ada pilihan yang sesuai, dan golput karena aspirasi politik tidak tersalurkan karena kekecewaan terhadap sistem yang ada. Menunjuk pada definisi ini, maka Gus Dur dapat dikategorikan dalam tipe yang terakhir.

So, terlepas dari kelebihan dak kekurangan dari Mega ataupun SBY, dengan rendah hati saya mengatakan untuk tidak memilih mereka. Bukan pada tempatnya disini jika saya membahas apa-apa saja kekurangan Mega maupun SBY sehingga saya tidak memilih mereka. Tapi tentu saja, saya tetap menghormati siapapun nanti yang keluar sebagai pemenang, dan menjadi presiden Republik tercinta ini.

Jadi, kepada rekan-rekan yang memilih besok, saya ucapkan selamat memilih ! Semoga pilihan-pilihan kita (termasuk GOLPUT) sesuai dengan apa yang terbersit di hati nurani kita.

Selamat memilih !

Mataram, 19 September 2004

Jody Ananda






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here