Catatan Sang Petualang

February 6, 2006

(Lagi) Tentang Ahmadiyah

Filed under: Agama, SosBud, Umum

My Wife
Saya membaca dengan seksama peristiwa pembakaran rumah-rumah warga penganut Ahmadiyah di Lingsar, Kodya Mataram Lombok karena dua hal : kebetulan lokasi kejadian masih dalam domain tempat tinggal saya, — dan saya pernah menulis mengenai Ahmadiyah.

Apa yang saya khawatirkan, bahwa nanti pasti terjadi tindakan anarkis dari masyarakat ternyata menjadi kenyataan. Dan sayangnya, pemerintah tidak pernah belajar dari kasus ini (ini sudah kali ketiga, sejak penyerangan Kampus Ahmadiyah di Parung).

Sekali lagi saya tekankan, saya tidak akan membahas Ahmadiyah dari sisi teologis, karena itu bagi saya itu sudah final .(lihat pembahasan saya disini)

Tentu, kita sama-sama menyayangkan aksi pembakaran ini. Agama adalah hak dasar dan asasi dari manusia, dan ketika umat Islam bisa berlaku baik kepada umat beragama lain (Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, atau bahkan orang ateis), mengapa tidak bisa bertindak yang sama terhadap Ahmadiyah, yang notabene masih menjalankan shalat, zakat dan puasa ? Terlepas dari keyakinan i’tiqadiah yang berbeda, bisakah kita memperlakukan mereka sebagai agama yang berbeda ?

Mungkin ini yang seharusnya menjadi peran pemerintah. Berikan tawaran kepada Ahmadiyah jika masih ingin mendapatkan hak-hak seperti agama lainnya :

  • Lepaskan baju Islam dari Ahmadiyah
  • Jadikan Ahmadiyah sebagai agama baru (sama seperti Kong Hu Cu, dll, dan menegaskan bahwa tidak ada kaitan sama sekali antara Islam dan Ahmadiyah

Saya yakin, dua hal ini juga akan memuaskan Ahmadiyah, dan juga bagi warga yang merasakan aktivitas dakwah Ahmadiyah yang mengkhawatirkan akan menggerogoti sendi-sendi dasar Islam.

Labelled enemies are easier to be kept.

Salam dari Sanur,

Jody Ananda

February 2, 2006

Kisruh Kartun Nabi Muhammad SAW

Filed under: Agama, SosBud

soe
Beberapa hari terakhir, terjadi situasi yang ‘panas’ di Eropa sana, terutama mereka yang berkecimpung dalam pers dan/atau dunia kartun. Sebuah surat kabar terbitan Denmark, Jyllands Posten, memuat 12 karikatur politik yang sangat menyinggung umat Islam, dengan mengkarikaturkan Nabi Muhammad SAW.

Pemerintah Denmark, secara resmi melalui Mentri Luar Negeri sudah meminta maaf kepada umat Islam seluruh dunia, apalagi jika dikaitkan dengan aksi penutupan kedutaan besar Libya karena masalah ini.

Tapi yang sangat,–dan karena itulah blog ini saya tulis–, adalah komentar dari pihak oposisi Denmark atas nama kebebasan berekspresi dan media (saya kutipkan langsung buat anda disini) :

Opposition politicians reacted to this message with indignation. Jon Lilletun, the spokesman on foreign policy for the Christian-democrat Kristelig Folkeparti, points out that it is not the ministry’s task to express an opinion on the content of the cartoons. Carl I. Hagen, the leader of the Progress Party, fears that freedom of expression is being swept under the carpet.” - Brussel Journal

Mungkin Herr Kristelig lupa bahwa wilayah agama adalah hal yang sangat sensitif. Jangankan wilayah agama, bagaimana perasaan Herr Kristelig kalau saya mencoba mengkarikaturkan orang tuanya dengan tulisan : “Wow, we have a lot of virgins here in Danish village (fictious state)..!” atau gini aja deh, Herr Kristeligg saya gambarkan sebagai buronan nomor satu, lengkap dengan senjata & anting-anting di sebelah kanan ?

Anda bisa melihat kartun-kartun tersebut di alamat blog berikut : http://face-of-muhammed.blogspot.com/

Tersinggung ? Tentunya, kalau dia normal (dan kita normal) pasti akan berteriak dan memaki-maki. Kalau enggak, …well, don’t know what to say !

Islam tidak pernah mengekang kebebasan berekspresi, so there’s nothing swept away, Sir,..or buried under the carpet, though !

Saya yakin dengan kebebasan berekspresi dan kebebasan mengutarakan pendapat. Dua hal tersebut adalah pondasi dasar dari demokrasi modern.

Hanya saja, ekspresi dengan niat sengaja menyinggung orang lain, –dan dalam kasus kartun Nabi Muhammad ini, bahkan secara vulgar–, keyakinan agama orang lain sungguh suatu hal yang sangat tidak pantas dilakukan.

Tentu lain sifatnya jika kita mengkaji secara kritis dalam sebuah forum dan wacana ilmiah, bukan kartun-kartunan. Nabi adalah juga manusia biasa, dan dalam salah satu haditsnya yang terkenal adalah “Antum a’lamu biumuri dunyakum“. “Engkau lebih tahu dengan urusan duniamu “, ucapan ini terlontar ketika salah seorang sahabat menanyakan pada beliau tentang sesuatu masalah yang tidak diketahuinya. Pada perang Tabuk, bahkan Nabi menerima usul salah seorang sahabat, ketimbang pendapatnya sendiri. Intinya adalah, dalam wilayah dunia, peran Nabi adalah sama seperti manusia lainnya. Hanya saja, beliau SAW diberi wahyu dan risalah oleh Tuhan.

Allahumma shalli ‘ala rasuulika sayyidina Muhammad al-Musthafa, wa ‘ala aalihi washahbihi ajma’in.
Tuhanku, sampaikan salamku kepada utusan-Mu yang mulia, Muhammad SAW sang Pilihan, kepada segenap kaum keluarganya, dan sahabat-sahabatnya.

Salam dari Sanur,

Jody Ananda

February 1, 2006

Playboy van Indonesie

Filed under: Agama, SosBud, Umum

Demo BBM
Anda sulit mencari majalah Playboy ? Kalau perlu blusukan dulu –mungkin di jalan-jalan daerah Bronx New York sana–, sambil toleh kiri kanan ? Dan si penjual cuman senyum-senyum liat face kita yang Asia banget, dan kalau dia agak curious dia paling bilang “Got any ID, Sir..?? “.

Kalau enggak, ke Singapur, jalan ke Orchad road sana. Atau ya nitip teman yang di Amrik dan beli online di www.playboy.com.

Nah, beberapa waktu lagi, kita beli Playboy di toko pinggir jalan di Indonesia. Luar biasa kan ??

Saya tidak akan bicara polemik mengenai masalah Playboy disini, baik dari sisi teologi maupun fiqh (tafsir-hadits-ushul-dst), maupun sosial budaya. Anda tentu sudah mengerti peta dan pendapat dari kedua sisi tsb, dan itu tidak usah diperdebatkan lagi. Secara fiqh sudah final, jangankan melihat aurat ataupun ’separo’ aurat, memandang muka bukan muhrim dengan syahwat saja sudah masuk kategori haram. Jika anda kaum Adam (normal seperti saya, –maaf buat yang tidak normal) ada yang yakin ketika melihat lekuk tubuh Luna Maya atau Sarah Azhari di Popular — tanpa melibatkan syahwat ? Gak mungkin la yaww.

Dari sisi sosial dan atas nama kebebasan berekspresi pun sudah jelas. Saya tidak akan bicara itu. Saya akan bicara dari sisi sejarah.

Hugh Heffner, sang kreator Playboy –edisi pertamanya keluar di tahun 1953–, adalah seorang pria yang bisa melihat peluang bisnis atas sesuatu yang sudah berjalan ribuan tahun di bumi ini : sebuah pelarian seksual. Oasis. Dengan memuat gambar-gambar syur di majalah tersebut , langsung memantapkan brand image-nya sebagai majalah pria yang paling ‘most wanted’. Tulisan-tulisan di Playboy sendiri, merupakan tulisan-tulisan yang bagus (tidak melulu seks, ada cerpen, report, features, etc), dan bahkan beberapa writer terkenal Amerika pun pernah menulis di Playboy seperti Alex Haley dan Alvin Toffler. Ha ?Alvin Toffler yang nulis “Third Wave” itu ? Ya, iya lah. Do we have another Toffler ?

Heffner hanya memanfaatkan instink purba para pria (yang normal, tentu saja), dan kemudian membungkusnya dengan kemasan yang bagus dan taktik marketing yang oke. Kita masih ingat statemen Sigmund Freud yang terkenal : “libido seksual adalah faktor utama penggerak hidup ini“. Silakan sepakat dan tidak sepakat.

Playboy hanya memanfaatkan sesuatu yang memang sudah ada, dan berjalan ribuan tahun di bumi ini. Anda tahu apa profesi tertua di dunia ini (at least, kalau sempat mendengar, tentu tahu maksud saya ) ? Semuanya berujung pada sebuah kata : seks. Salah satu tafsir kitab suci yang pernah saya baca pun mengatakan bahwa ‘pengetahuan‘ (atau dalam istilah lain “pohon Khuldi” yang dimakan oleh Hawa) yang dilanggar Adam ketika di Surga adalah ‘pengetahuan regeneratif‘ (metode untuk melestarikan spesies), dan dalam kasus manusia itu hanya kembali pada satu kata : seks.

Needles to say, Playboy hanya memanfaat wacana sejarah yang sudah ada.
Jadi Playboy van Indonesie ? Kalau anda punya uang dan suka dengan cover edisi pertama ini, ya silakan beli saja.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

October 4, 2005

Jelang Ramadhan

Filed under: Agama, SosBud, Umum

Demo BBM
Saya teringat sebuah baris di puisi-nya KH Mustafa Bisri, ketika mengulas bulan Ramadhan (saya lupa judul puisinya) :

         Ramadhan,
         Orang-orang bilang engkau adalah bulan Suci,
         Tapi apakah aku mengetahu tentang kesucianmu ?

         Ramadhan,
         Orang-orang bilang engkau bulan penuh berkah,
         Tapi seberapa baik aku mengisi hari-harimu ?

Kemudian terjadi monologue di ruang bathin saya :
(Sang Aku-Jody- SAJ) : Engkau tahu makna bulan Suci ?
(Jody-Alter Ego-JAE) : Tentu tahu. Bukankah bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmah, barokah dimana umat Islam melaksanakan kewajiban berpuasa…

(SAJ) : Sebatas itu pengetahuanmu ? Dari teks-teks ayat yang kau baca tanpa makna ? Dari ceramah-ceramah yang kau cerna tanpa kau pahami ?
(JAE) : Tentu, darimana lagi aku dapatkan pengetahuan, kecuali dari yang pernah kubaca dan kudengar ?
(SAJ) : Berarti engkau belum sampai pemahaman yang benar mengenai bulan Suci…
(JAE) : Seperti apakah pemahaman yang benar itu ?
(SAJ) : Pertanyaanmu yang terakhir, dan tindakan-tindakan keseharianmu, membuktikan bahwa engkau belum melihat hakikat bulan Suci.

Astagfirullah.
Kemudian saya berkaca pada sebuah kaca bening, dan disana saya masih melihat betapa diri ini masih diliputi tindakan-tindakan yang tidak rahmah : jarang membaca ‘ayat2′ Allah, masih menyakiti makhluq Allah, masih ‘berbohong’ walaupun dibungkus dengan kemasan professionalisme, tidak mendidik diri untuk lebih baik, masih melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah, etc,etc.

Masihkah saya berani menyebut Ramadhan ini bulan Suci ?

Sebuah ayat muncul di lintasan fikiran saya : “Syahru ramadhaana unzila fiihi ‘l-Qur’an huda ‘lin-naas. ” Bulan Ramadhan dimana (didalamnya) diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi (umat) manusia.

Seberapa besar saya menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk (al-Huda) ? Dan jika kita mengambil skala treshold (batasan) dan saya masuk di 20% saja, masih pantaskah saya menyebut diri dan mengaku-aku diri sebagai bagian orang-orang beriman ?

Lalu saya teringat ujar-ujaran (hadits) Kanjeng Nabi Saw yang mulia : “Man shaama ramadhaana imaanan wah tisaban, gufiralahu maa taqaddama min dzanbihi.” Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan ini dengan (penuh) keimanan dan kesungguhan (perhitungan), diampunkan dosa-dosanya di masa yang lalu.” Dalam ilmu nahwu-sharaf, kata ihtisaban berasal dari akar kata (masdar) hasiba-yahsibu-hisaaban yang artinya (Insya Allah, karena saya sedang tidak memegang kamus al-Munjid) adalah menghitung (verb), menimbang (verb), penuh perhitungan (adj).

Apakah selama ini saya berpuasa dengan penuh perhitungan ? Selama ini, puasa saya baru dalam taklif amal (tindakan), artinya sekedar memenuhi tuntutan syara’, belum sampai pada skema ta’rif (pengenalan) apalagi tafhim (pemahaman).

Saya lalu teringat ujar-ujaran beliau yang lain mengenai Ramadhan, bahwa sepertiga terakhir bulan tersebut, adalah itqun min ‘n-Naar. Sebuah penebusan dari Api Neraka. Duh Gusti, siapa yang tidak takut akan siksa-Mu yang Maha Dahsyhat ? Dan siapa yang tidak ingin mengharapkan surga-Mu, yang Engkau sebutkan dalam Quran : “tidak pernah terpikirkan oleh rasa, budi, daya dan akal manusia ?

Awal dari ibadah adalah kesucian, itulah mengapa bab Thaharah (bersuci) menjadi bab-bab awal pembahasan kitab fiqh manapun. Ijinkan saya dengan rendah hati meminta maaf dari anda sekalian (pembaca, rekan blogggers, saudara, handai taulan, dll) dari segala salah, lupa, khilaf, agar kiranya, mudah2an, dengan kebersihan hati tersebut, bisa memaknai bulan ini dengan lebih baik.

Ilaahi, ahdini wa’fhamni min hadza ’syahrun wa barokati fih.
Tuhanku, beri aku petunjuk dan pemahaman untuk mengetahui keberkatan (kemuliaan) bulan (Ramadhan) ini.
Ditengah cobaan berat yang kami alami : kenaikan BBM, dan tingkah polah makhluq-Mu yang membuat aksi teror di bumi-Mu yang indah;
Ilaahi, Laa tuhammilna, ma la qaatala nabihi, warhamna, wa’fuanna, wansyurna biquwwatika
Tuhanku, janga beri kami cobaan, yang tidak kuat kami menanggungnya; kasihanilah kami, ampunkan dosa-dosa kami, dan berilah kami kekuatan-Mu untuk menghadapinya.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

September 29, 2005

Membahas Ahmadiyah

Filed under: Agama, SosBud

My Wife
Kali ini tulisan saya agak serius sedikit, membahas beberapa fatwa yang dikeluarkan MUI (yang saat ini menjadi hot news), salah satunya adalah mendakwa bahwa Ahmadiyah, yang kita sebut saja salah satu aliran dalam Islam, sebagai sesat dan menyesatkan.

Sama dengan agama-agama lain yang jauh lebih tua (Hindu, Budha dan Kristen), Islam juga berkembang secara evolutif, dan terjadilah sekte-sekte atau aliran-aliran yang terbentuk karena beberapa hal sebagai berikut :

  • Kondisi geografis dan genealogis budaya setempat; contoh beberapa aliran tasawuf di India (Chistiyah), Rumi, Islam Kejawen, dll.
  • Perbedaan penafsiran atas teks. Kondisi ini menyebabkan timbulnya beberapa aliran fiqh(Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali). Yang menarik, perbedaan fiqh ternyata sangat dipengaruhi kondisi geografis dan struktur budaya masyarakat. Tapi kita akan mengkaji hal ini di tempat lain
  • Perbedaan politik. Ini menggagas beberapa paham seperti Wahabi di Arab Saudi, Syiah , Khawarij, dll.
  • Campuran dari ketiga faktor diatas

Munculnya sebuah aliran selalu ditandai dengan salah satu faktor diatas, ditambah dengan kuatnya posisi sang tokoh aliran.

Ahmadiyah dicetuskan pertama kali oleh Mirza Ghulam Ahmad di Pakistan. Sebagai sebuah aliran dalam Islam, Ahmadiyah, harus diakui, sebagai aliran yang paling banyak melakukan proses konversi (pendakwahan kepada agama lain, yang akhirnya masuk Islam) dan tradisi berpikir ilmiah. Karena itu jangan salah, tafsir dan terjemah Qur’an untuk bahasa-bahasa yang kita tidak pernah tahu (Swahili, Mambusto dll) dilakukan oleh orang-orang Ahmadiyah. Sebagai sebuah organisasi, Ahmadiyah sangat solid, dengan cabang di berbagai negara. metode dakwah dan basis keuangan yang besar.

Lalu dimana letak kesalahannya ?

Salah satu diktum dalam Ahmadiyah adalah pengakuan bahwa ada nabi setelah Muhammad SAW, dan itu adalah Mirza Ghulam Ahmad sendiri, sebuah pandangan yang dalam teks-teks muhkamat (pasti) Islam jelas salah. Qur’an, Hadits, dan teks-teks sirah (sejarah) Islam telah menuliskan beberapa nabi palsu setelah Muhammad SAW, yang semuanya diperangi karena merusak aqidah dasar umat Islam.

Perbedaan ini pun terjadi di Ahmadiyah, yang mengakibatkan mereka terpecah menjadi dua aliran besar : Qadiani dan Lahore. Qadiyani masih mengakui Mirza sebagai nabi, sementara Lahore menjadi lebih moderat, hanya mengakui Mirza sebagai mujaddid (pembaharu) Islam, tidak sebagai nabi. Pun begitu, kedua aliran ini disepak dari Pakistan, hingga sekarang berlokasi di London, Inggris.

Saya miris menyaksikan penghancuran aset-aset Ahmadiyah di media massa.Tidak adakah jalan dialog ? Kalau memang Ahmadiyah dihukum sesat, tidak perlu kemudian menghancurkan rumah, masjid dan universitas milih Ahmadiyah. Bahkan seorang Salahuddin Al-Ayyubi, meletakkan kembali salib ke tempatnya semula, ketika memasuki Yerusalem.

Saya sendiri secara paham, jelas menghukum sesat untuk aliran Ahmadiyah. Itu soal i’tiqadi, masalah mu’amalah yang kita pakai adalah etika Islam. Dan tidak pernah saya baca etika Islam yang memperlihatkan perlakuan masyarakat kita kepada rekan-rekan dari Ahmadiyah.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

Tentang Ulil

Filed under: Politik, Agama, SosBud

My Wife
Setelah digebuk berulang kali dari berbagai kalangan Islam di Indonesia, kini Ulil digebuk lebih hebat lagi. Dan seperti biasa, tanggapan Ulil selalu khas Ulil. Lihatlah tanggapannya ketika 14 fatwa MUI –yang diantaranya mengharamkan pluralitas, dan Ahmadiyah –, “Fatwa MUI itu konyol dan tolol. ” katanya. “Jadi KH Sahal Mahfudz dan Prof Din Syamsuddin itu tolol ya Mas Ulil..?? ” kata wartawan. “Iya, tolol..” Ulil menjawab sambil nyengir tidak karuan. Padahal KH Sahal Mahfudz adalah guru Ulil di pesantren.

Sebagai seorang putra NU (ini kalau dia masih menganggap diri sebagai putra NU), saya yakin Ulil pasti telah khatam kitab Ta’limul Muta’alim, kitab standar di pesantren yang diberikan di saat-saat awal, yang mengajarkan bagaimana etika belajar dan menghormati guru. Kata-kata Ulil diatas, dan beberapa perkataannya yang lain sangat jauh dari isi buku tersebut.

Saya sebenarnya menyukai gagasan dasar dari Islam Liberal, dan nuansa kiri Islam (yang digagas Hassan Hannafi) yang menjadi pondasi dari beberapa pemikiran-nya memang sesuai dengan pandangan saya. Tapi itu tidak menjadikan saya, by default, menjadi tidak kritis dan taqlid kepada Islam Liberal. Ulil yang saya kenal adalah seorang cendekiawan muda NU (dulu dia ketua Lakpesdam NU, sekarang tidak tahu) bersama Masdar F Mas’udi dengan pemikiran-pemikiran yang segar dan kritis terhadap NU. Tapi menjadi kritis dan berdialektika seharusnya tetap tanpa menghilangkan etika. Cuman beberapa lama sejak bergabung dengan Islam Liberal, beberapa pandangannya menjadi ngawur : kawin campur beda agama, sholat dengan wanita sebagai imam, masalah pakaian yang katanya public decency, dll.

Laisa ‘l-fiqh illa bil khilaf”, begitu sebuah teks dari kitab-kitab standar fiqih, hukum Islam. Jika tidak siap untuk berbeda pendapat, tidak usah belajar fiqih.

Saya dibesarkan dan hidup dalam tradisi kultur NU, bahkan nenek saya almarhum pernah menjadi anggota DPR utusan dari Muslimat NU. Ketika melihat tingkah polah Ulil sekarang, sungguh saya tidak melihat bekas-bekas dari didikan NU kepadanya.

Jika Ulil membaca ini, semoga ini menjadi tausiyah kepadanya.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

July 20, 2005

Kiri, Jalan Terus !

Filed under: Politik, Agama, SosBud

islamic revolution
Jod, pandangan-pandanganmu koq kiri banget sih !
Jan***k, sosialis tulen koen !

Begitu ungkapan beberapa kawan kalau melihat beberapa pandangan saya atas berbagai permasalahan dalam bidang sosial dan politik. Bahkan, Agus Subhan, sahabat saya di ITS juga sempat menanyakan kenapa saya begitu “kiri” dan “agak merah.”

Ya, jawaban-jawaban sudah saya berikan. Mungkin blog ini akan menjadi jawaban terakhir saya, karena kalau ada orang yang bertanya, saya tinggal sertakan link posting ini sebagai jawaban. Enteng kan hehehehehehe….

Saya akan menjawab dari dua sisi : sisi sejarah, dan sisi teologis. Dari sisi sejarah, mari kita luruskan dulu bahwa Kiri itu identik dengan Komunis, Otoriterianisme, Totaliterisme, Marxisme dan Atheisme. Semuanya jelas salah besar, walaupun memang banyak dari mereka yang berkecimpung dalam gerakan kiri memilik ideologi seperti diatas. Kiri, pada awalnya, dinisbatkan kepada sekelompok orang dalam parlemen Perancis diawal Republik ke-IV (sekitar 1920-1944) yang menolak ikut dalam pemerintahan, yang akhirnya disebut sebagai oposisi. Kiri, menjadi sebuah ideologi perlawanan, terhadap ideologi mapan pada saat itu, yang dinilai tidak membawa semangat Revolusi Perancis.

Tuan-tuan hanya mewarisi abu dari revolusi Perancis, sedangkan kami, mewarisi apinya ! ” demikian teriak Jean Jaures, tokoh (kiri) Perancis pada waktu itu. Apa sih semangat Revolusi Perancis itu ? Jawabnya hanya 3 : pembebasan (liberte), kesetaraan (egalite) dan persaudaraan (fraternite).

Jadi kalau kita merujuk pada prinsip historis, Kiri adalah sebuah ideologi gerakan yang berupaya mengambil 3 nilai dari Revolusi Perancis : pembebasan dari semua penindasan, semangat kesetaraan yang diaplikasikan dalam hukum yang adil bagi semua orang dan persaudaraan. Pada akhirnya, dalam proses evolusinya, Kiri menjadi sebuah ideologi anti-penindasan dan perlawanan.

Dari sisi teologis, sebagai seorang muslim, secara pribadi saya memandang Islam juga sebagai sebuah ideologi pembebasan dan anti penindasan. Lihatlah dalam Qur’an, begitu banyak ayat-ayat yang menyatakan bahwa semua manusia adalah sama dimana Tuhan, yang membedakan adalah amal ibadahnya saja. Lihatlah juga, bahwa disamping seorang Nabi, Muhammad SAW juga adalah seorang revolusioner yang merombak sistem yang ada pada saat itu (sistem politik, budaya, agama dll) menjadi sebuah sistem yang sesuai dengan semangat Islam.

Saya sejalan dengan pandangan-pandangan Muhammad As-Sanusi (pendiri tarekat Sanusiyah di Yaman), Hassan Hanafi, Rasyid Ridha yang memandang Islam sebagai sebuah ideologi pembebasan. Dan itulah yang saya tafsirkan sebagai nuansa kiri dalam Islam (Hassan Hanafi, “Kiri Islam”).

Apakah saya salah kalau saya meletakkan kaki saya dan menaruh tangan saya di sisi mereka yang tertindas ? Apakah saya salah jika saya menyebutkan dzikir saya untuk mereka-mereka yang dianiaya ? Apakah kemudian menjadi tidak benar jika saya menafsirkan ucapan Kanjeng Nabi untuk selalu membela mereka2 yang tertindas dan teraniaya ?

Semangat pembebasan, kesetaraan dan persaudaraan itulah yang saya tafsirkan dalam Islam. Anda bisa berargumentasi mengenai salah benar dalam kerangka teologis-fiqh-hadits-ushul dll, tapi inilah yang menjadi ijtihad saya. Mungkin salah mungkin benar, tapi paling tidak saya mendapat 1 pahala.

Jadi Kiri ? Jalan terus…!!

Salam,

Mas Jabier

May 10, 2005

Shalat berbahasa Indonesia : Sebuah Ijtihad ?

Filed under: Agama, SosBud

Shalat Agus Subhan, seorang sahabat saya, menanyakan bagaimana pendapat saya mengenai Shalat Dua Bahasa (Billingual, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab), yang saat ini dipopulerkan oleh seorang "ulama" bernama Muhammad Usman Roy, dari Lawang, Jawa Timur. Agus, yang saya kenal memahami Islam dan ilmu-ilmunya  dengan baik, seorang santri by default dari Tuban, tentu sudah punya pendapat sendiri mengenai hal ini, dan tulisan ini saya buat sebagai sebuah bahan diskusi dengan dia.

Beberapa tahun yang lalu, seorang rekan saya pernah berujar dalam bahasa Arab : "Al-lughah al-’arabiyah hiya, al-lughah al-dirasaatul Islamiyyah, wa al-lughah al-ahlul jannah." artinya "Bahasa Arab itu, bahasa untuk memahami ilmu-ilmu Islam, dan juga bahasa para ahli surga." Anda boleh setuju atau tidak setuju dalam frasa kedua, tapi paling tidak, frasa pertama, bahwa bahasa Arab dipakai untuk memahami ilmu Islam (Qur’an, Hadits, Fiqh dll) tentulah tak dapat dibantah kebenarannya. Trus so, what gitu loh ? Mungkin teman saya yang lain bertanya.

Ini sama saja dengan analog bahwa anda harus menguasai bahasa Inggris, sebagai bahasa pergaulan dunia, bahasa ilmu pengetahuan dan lain-lain. Ada yang protes ? Tidak ada kan ! ? Kalau pun ada, Ya, silahkan, but I assure you that he will be piss off because he absolutely knows a little than he needs to be. Atau ambil contoh Rudolf Nureyev, pebalet sohor dari Russa, yang tahun pertamanya hanya belajar bahasa Perancis,–sebab bahasa Perancis adalah bahasa "pengantar" resmi dalam dunia balet–, walaupun dia orang Rusia, dan balet,..hmm,..tidak ada hubungan sama sekali dengan bahasa. So what ?

Itu masalah bahasa. Mari kita kembali ke kajian Shalat dua bahasa ini.
Usman Roy, katanya, melakukan sebuah ijtihad dalam mengambil keputusan ini. Ijtihad (terambil dari kata jahada - yujahidu - jihadan - ijtihadan) artinya "bersungguh-sungguh dan berusaha maksimal dalam melakukan suatu pekerjaan", secara istilah adalah suatu proses pengambilan keputusan dalam bidang tertentu dengan melakukan pertimbangan-pertimbangan/argumen-argumen yang dapat dipertanggunggjawabkan secara ilmiah, orang yang melakukannya disebut Mujtahid. Jadi ada ijtihad politik, ijtihad ekonomi, dan tentunya sebagai asal dari semuanya, ijtihad dalam bidang keagamaan (masaail diniyyah). Kita tentu ingat, seorang Amien Rais yang melakukan ijtihad dalam bidang politik ketika beliau membentuk partai baru PAN, instead of masuk ke PBB. Atau ijtihad ekonomi Anggiarto Abimanyu, ekonom UGM, yang mencoba teori valas baru untuk mendongkrak nilai rupiah. Dan ijtihad-ijtihad lain yang dilakukan oleh orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing (ambil contoh ijtihad saya untuk menggunakan FreeBSD instead of Linux dan Windows waktu di RAD-Net, ;-) ).

Jadi, makna kata kesungguhan dalam etimologi ijtihad, bermakna kesungguhan dalam bidang ilmu (penguasaan ilmu), dan kesungguhan terhadap ilmu yang berkaitan dengan masalah yangyang akan diputuskan. Karena bisa jadi, ijtihad membutuhkan advis dan konsultasi dari ilmu lain (multidisipliner).

Nah, kalau dalam bidang agama ? Ini tentunya lebih "berbahaya" lagi implikasinya, karena menyangkut sisi dunia, dan akhirat. Tidak ada implikasi logis apapun bagi orang lain, kalau ijtihad saya waktu di RAD-Net ternyata salah, server crash, paling hanya menimpa customer RAD-Net saja. Tapi bagi masalah agama, dan apalagi bila kemudian disebarluaskan, diamalkan dan memiliki pengikut, tentu lain persoalannya.

Seorang mujtahid yang akan menghasilkan fatwa, jelas harus memiliki serangkaian ilmu alat (Bahasa Arab (meliputi nahwu, sharaf, manthiq, ba’di, ma’ani),Qur’an, Tafsir, Hadits, Ushul Fiqh, Fiqh, dll) dalam proses istimbath (proses pengambilan keputusan) dan harus diakui oleh otoritas ulama di zamannya. Begitulah yang kita lihat pada Syeikh Yusuf Qardhawi, Syaikh Bin Baz, Syeikh Mutawalli Sya’rawi, di zaman sekarang, atau imam-imam madzhab yang empat : Imam Syafi’i ra, Imam Malik bin Anas ra, Imam Abu Hanifah ra, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Sebagai contoh, Imam Syafi’i baru diberi izin berfatwa oleh Imam Malik, guru beliau, saat usia 17 tahun, padahal beliau sudah hafal Quran umur 9 tahun, kitab hadits Muwatha karya Imam Malik pada usia belasan, dan ilmu-ilmu lain.

Usman Roy, jelas tidak memiliki kapasitas untuk melakukan ijtihad, yang berakhir pada keputusan Shalat Dua bahasa itu. Bagi saya, ide ini cukup kreatif pada awalnya, cuma saja kreatifitas dalam bidang ibadah bukanlah sebuah "kreatifitas", yang perlu kita lakukan hanya mengikuti dan berusaha mempelajari apa yang telah diberikan oleh Kanjeng Nabi. Kalau masalah pemikiran dan wacana, silakan melakukan kreasi sebanyak-banyaknya. Ada sebuah pepatah : "Tanyalah suatu permasalahan pada ahlinya". Usman Roy, –selayaknya bertanya pada guru beliau–, yang katanya ada di Surabaya, sebelum keblinger seperti ini.

Kalau saya ?? Wah, kalau saya "boleh" berijtihad, maka saya akan bikin Shalat PaHE (Paket Hemat) untuk kaum professional, kombinasi Dzuhur, Ashar, Maghrib cukup 3 raka’at saja. Ringkas, dan tidak akan terjebak kemacetan dan lunch. Untunglah Gusti Allah masih memberikan saya rasa takut, dan memberikan saya waktu untuk bertanya kepada mereka yang lebih ahli dalam masalah agama :)

Allahumma, Inni a’udzubika minal jaahilin, wa innahum la ya’lamuna ma yaf’aluun, wa innaka anta ‘l-Wahhab.
Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari (tipu daya) orang-orang bodoh (karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat), dan (sungguh)Engkaulah Maha Pemberi Karunia.

Denpasar, Mei 2005

Mas Jabier

April 20, 2005

Bang Ridwan, Kagak Ade Kerjaan nyang Laen ?

Filed under: Agama, Musik, SosBud, Umum

DewaPagi tadi saya menonton sebuah infotainment, ada berita yang cukup mengagetkan : Ridwan Saidi. sang tokoh Masyumi, akan melayangkan tuntutan ke Dewa, karena lirik-liriknya dianggap sebagai membawa ajaran sesat ? “Hmmm..”, saya bergumam dalam hati. “Dewa lagi,..Dewa lagi..”.

Well, I have to tell you this from the beginning. Saya bukan penggemar Dewa, at all, dan dari dulu saya sudah menganggap Dhani is one of the jerks. Tapi berbicara mengenai aliran sesat (Ridwan Saidi menyebut Panteisme) adalah soal lain. Dan berbicara mengenai Dewa sebagai sebuah elemen kreativitas, maka secara natural saya memberikan satu tangan saya untuk mereka. Dukungan, simpati dan empati untuk semua seniman, –tidak hanya DEWA–, yang terpasung atau akan dipasung dalam proses kreativitasnya.

Bang Ridwan,
Saya yakin, penggemar DEWA yang rata-rata masih remaja, tidak tahu apa itu Panteisme, Wihdatul Wujud, Al-Hulul dan lain sebagainya. Mereka cuman tahu mengenai Cinta,..dan biarlah Dhani mencintai siapa saja (termasuk Tuhan) dengan caranya sendiri. Dengan bahasanya sendiri. Bang Ridwan mempersoalkan kata-kata : “Aku ini cinta-Mu, aku ini jiwa-Mu..” Coba sih dipikir dikit gitu lho bang, apa si Dhani menyamakan jiwanya yang kotor dengan jiwa Tuhan yang suci, atau dia hanya mengakui bahwa jiwanya milik Tuhan ? Saya membaca lirik ini satu kali, dan saya bisa langsung tahu bahwa maksud Dhani adalah jiwanya adalah milik Tuhan (aku ini jiwa (kepunyaan)-Mu, dan cintanya adalah juga bagian dari cinta Tuhan (aku ini (adalah bagian dari) cinta-Mu.

Mestinya bang Ridwan bangga kalau seniman kreatif seperti Dhani, sudah sampai pada tahap kontemplasi seperti ini. Kalau saya sampai pada penggalan ayat di Surat Al-Baqarah : “..(Qul) fainni qariib.”, trus pas kebeneran bang Ridwan denger dua kata terakhir, langsung abang nuduh aye ngaku-ngaku Tuhan nyang begitu deket ?? Bang, tulung bedain antare orang yang bercermin (dengan alam, quran, ayat-ayat-Nya di alam semesta ini) dengan orang yang menganggap dirinya adalah cermin itu sendiri. Pan ada tuh, nyang ngaku nabi di Sulawesi Barat, bagusan abang ngurusin entu ketimbang Dhani.

Ape bang Ridwan di Masyumi baru, udeh kagak ade kerjaan lagi ?

Denpasar, April 2005

Mas Jabier

April 19, 2005

Simbolisme dan Formalisme dalam Kehidupan Spiritual

Filed under: Agama, SosBud


"Tuhan, Engkau tahu aku seorang illiterate, buta huruf dan tidak mengerti bagaimana seharusnya berdo’a kepadamu dengan benar. Karena itu, aku serahkan kumpulan huruf dalam surat ini, aturlah sesuka-Mu menjadi do’a yang terbaik, karena Engkaulah Sang Maha Indah. Padamu hanya kuserahkan ketulusan dan kepasrahan.."

Sebuah penggalan dari kisah Do’a Sang Katak, karangan Pater De Mello, yang saya kagumi karena esensinya yang mendalam.

Semangat simbolisme (baca:formalisme) dalam beragama, sudah dimulai jauh-jauh hari, bahkan ketika suatu bentuk budaya yang bernama agama, lahir ke muka bumi ini. Semangat ini ditandai dengan menguatnya unsur-unsur puritanisme, lembaga yang memiliki kekuasaan yang sangat besar, dan aturan-aturan kaku yang hanya berbicara benar dan salah, tanpa memahami hubungan sebab akibat dan kondisi yang berlaku.

Tradisi agama-agama besar juga pernah (dan mungkin) masih dipenuhi dengan kuatnya simbolisme dan formalisme dalam kesehariannya.  Kristen Katolik dengan lembaga kepausan, doktrin-doktrin Nicea (yang kemudian di-revisi dalam kaitannya dengan wanita dan ilmu pengetahuan), Islam pada masa kekhalifahan Abbasiyah yang menjadi ajang perseteruan antara Sunnah-Syiah yang sebenarnya lebih bertendensi politis ketimbang teologis, Budha pada masa awal pembentukan Aliran Zen Mahayana di Cina dan lain-lain.

Kekakuan dalam menerima doktrin tanpa mau melihat perkembangan kehidupan manusia, dan penghormatan berlebihan terhadap simbol, menjadikan prinsip formalisme ini menjadi sebuah kekuatan politik, –yang dengan demikian–, memiliki kekuatan untuk menghukum, siapa saja yang dianggap tidak sealiran,..dus tidak sesuai dengan pesan yang tercantum dalam kitab suci.

Kita sekali lagi dihadapkan dengan insiden simbolisme ini pada band Dewa, yang menggunakan kaligrafi sebagai cover, versus FPI yang mewakili sisi formal dalam agama.  Kejadian yang sama pernah juga dialami Iwan Fals pada cover kaset dan CD-nya.

Saya pernah bertanya kepada seorang rekan : "Ketika engkau memandang salib, apa yang kamu pandang paling penting, simbol salib, Yesus yang disalibkan, atau nilai-nilai universal yang dibawa oleh orang yang disalibkan (Yesus) ?" . Teman saya menjawab yang terakhir, yang artinya dia telah ada pada tahap diatas formalisme dalam beragama, dia sudah mencapai esensi dalam beragama.

Sama seperti Maulid Nabi yang kita peringati setiap tahun, jika kita melakukannya sekedar sebagai sebuah ritus, maka kita terjebak dalam formalisme agama. Sudah sepatutnya kita memperingatinya untuk meneladani kepribadian Muhammad SAW, dan yang lebih penting, menggapai esensi ajaran-ajarannya.

Semangat formalisme dan simbolisme yang berlebihan dalam beragama, hanya mengantarkan kita untuk menjadi fanatik tanpa makna. Dalam "Kiai Sudrun Gugat", Emha Ainun Nadjib menafsirkan simbolisme ini sebagai sebuah pendangkalan akidah, yang berujung pada fanatisme buta, dan politisasi agama. Hassan Hanafi, dalam "Kiri Islam" memandang formalisme agama adalah hal sempit yang harus dihindari, karena sesungguhnya agama, sebagai sebuah ajaran moral, harus ditempatkan dalam sebuah kerangka pengajaran dan kearifan universal. Sebagai sebuah ajaran universal, dialah yang harus membatasi nilai-nilai lain yang akan selalu berubah dari waktu ke waktu, bukan terjebak dalam sebuah bingkai formalisme dan simbolisme yang kaku.

Jadi, mari lepaskanlah simbol dan baju formal kita, dan mari kita mencari esensi dari simbol-simbol atau kaidah2 formal yang ada dalam agama kita masing-masing. Schimmel, dalam "Mysticism in Islam" mengasumsikan, dan saya sependapat dengan beliau, kita akan sampai pada titik yang tidak terlalu berbeda,– atau bahkan sama–, ketika mencari esensi ini.

Salam,

Denpasar, April 2005
Mas Jabier






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here