Kisruh Kartun Nabi Muhammad SAW

Beberapa hari terakhir, terjadi situasi yang ‘panas’ di Eropa sana, terutama mereka yang berkecimpung dalam pers dan/atau dunia kartun. Sebuah surat kabar terbitan Denmark, Jyllands Posten, memuat 12 karikatur politik yang sangat menyinggung umat Islam, dengan mengkarikaturkan Nabi Muhammad SAW.
Pemerintah Denmark, secara resmi melalui Mentri Luar Negeri sudah meminta maaf kepada umat Islam seluruh dunia, apalagi jika dikaitkan dengan aksi penutupan kedutaan besar Libya karena masalah ini.
Tapi yang sangat,–dan karena itulah blog ini saya tulis–, adalah komentar dari pihak oposisi Denmark atas nama kebebasan berekspresi dan media (saya kutipkan langsung buat anda disini) :
“Opposition politicians reacted to this message with indignation. Jon Lilletun, the spokesman on foreign policy for the Christian-democrat Kristelig Folkeparti, points out that it is not the ministry’s task to express an opinion on the content of the cartoons. Carl I. Hagen, the leader of the Progress Party, fears that freedom of expression is being swept under the carpet.” - Brussel Journal
Mungkin Herr Kristelig lupa bahwa wilayah agama adalah hal yang sangat sensitif. Jangankan wilayah agama, bagaimana perasaan Herr Kristelig kalau saya mencoba mengkarikaturkan orang tuanya dengan tulisan : “Wow, we have a lot of virgins here in Danish village (fictious state)..!” atau gini aja deh, Herr Kristeligg saya gambarkan sebagai buronan nomor satu, lengkap dengan senjata & anting-anting di sebelah kanan ?
Anda bisa melihat kartun-kartun tersebut di alamat blog berikut : http://face-of-muhammed.blogspot.com/
Tersinggung ? Tentunya, kalau dia normal (dan kita normal) pasti akan berteriak dan memaki-maki. Kalau enggak, …well, don’t know what to say !
Islam tidak pernah mengekang kebebasan berekspresi, so there’s nothing swept away, Sir,..or buried under the carpet, though !
Saya yakin dengan kebebasan berekspresi dan kebebasan mengutarakan pendapat. Dua hal tersebut adalah pondasi dasar dari demokrasi modern.
Hanya saja, ekspresi dengan niat sengaja menyinggung orang lain, –dan dalam kasus kartun Nabi Muhammad ini, bahkan secara vulgar–, keyakinan agama orang lain sungguh suatu hal yang sangat tidak pantas dilakukan.
Tentu lain sifatnya jika kita mengkaji secara kritis dalam sebuah forum dan wacana ilmiah, bukan kartun-kartunan. Nabi adalah juga manusia biasa, dan dalam salah satu haditsnya yang terkenal adalah “Antum a’lamu biumuri dunyakum“. “Engkau lebih tahu dengan urusan duniamu “, ucapan ini terlontar ketika salah seorang sahabat menanyakan pada beliau tentang sesuatu masalah yang tidak diketahuinya. Pada perang Tabuk, bahkan Nabi menerima usul salah seorang sahabat, ketimbang pendapatnya sendiri. Intinya adalah, dalam wilayah dunia, peran Nabi adalah sama seperti manusia lainnya. Hanya saja, beliau SAW diberi wahyu dan risalah oleh Tuhan.
Allahumma shalli ‘ala rasuulika sayyidina Muhammad al-Musthafa, wa ‘ala aalihi washahbihi ajma’in.
Tuhanku, sampaikan salamku kepada utusan-Mu yang mulia, Muhammad SAW sang Pilihan, kepada segenap kaum keluarganya, dan sahabat-sahabatnya.
Salam dari Sanur,
