Blog Moving
From now, I have managed to move this blog to a more ‘real’ and serious (of couse, does not mean that using a free service like blogsome is not serious) address at http://www.jodyananda.com
Welcome !
Salam dari Sanur
From now, I have managed to move this blog to a more ‘real’ and serious (of couse, does not mean that using a free service like blogsome is not serious) address at http://www.jodyananda.com
Welcome !
Salam dari Sanur
Today is my son’s birthday. Kevin is getting 2 years old now, you can not imagine the speed of time when you just get there. Simply, just get into the situation.
He was born 2 years ago on this date, on Sunday. I still remembered that day. I was sitting in my father-in-law berugaq (a small sitting are with alang-alang roof made) , doing a chit chat with my wife talking and waiting for our transport driver that would take me to Sumbawa. My lovely wife had already take her maternity leave a week before.
Suddenly she shouted, and the first process of giving birth begin. Kevin was born around 7 o’clock PM.
We name it Kevin, from a Gaelical-AngloSaxon word, which means : handsome and blessed. While Torvaldi comes from my adoration to Linus Torvalds, the Linux creator. (Somehow, when I look at Ubuntu Linux Distribution today, which also cover the Edubuntu, a special project specific to Education using Linux, I saw several attractive educational programs. Maybe I’ll get my Ubuntu for Kevin, later.)
Happy Birthday, Kevin ! We’ve just bought you a new Laptop for you, and Ubuntu will be next ![]()
Here, you can find some of his pics !
Salam dari Sanur,
“If you know yourself, then you will find God.” - Arabic Proverbs
There is a long road journey of mankind to find the absolute, the Divine Energy & Power that move the universe. Simply we call it God.
That roads and paths sometimes make conflicted with themselves, or the others. Then there comes religions and prophets. Lao Tze, Kong Fu Tze, Budha, Krishna, Moses, David, Jesus, Mohammed.
From religions came sects. Another called Ordo. Others call it sub-religion or sub-faith.
Why do we have to fight and insult others, if we have one destiny to be completed ?
Why do we have to kill each others, if God, in return, always gives hope and life to this world ?
Somehow, I hear my old wise friend voice : “Try to know about you. Knowing yourself, then you will find Him in you.”
Salam dari Sanur,

Saya membaca dengan seksama peristiwa pembakaran rumah-rumah warga penganut Ahmadiyah di Lingsar, Kodya Mataram Lombok karena dua hal : kebetulan lokasi kejadian masih dalam domain tempat tinggal saya, — dan saya pernah menulis mengenai Ahmadiyah.
Apa yang saya khawatirkan, bahwa nanti pasti terjadi tindakan anarkis dari masyarakat ternyata menjadi kenyataan. Dan sayangnya, pemerintah tidak pernah belajar dari kasus ini (ini sudah kali ketiga, sejak penyerangan Kampus Ahmadiyah di Parung).
Sekali lagi saya tekankan, saya tidak akan membahas Ahmadiyah dari sisi teologis, karena itu bagi saya itu sudah final .(lihat pembahasan saya disini)
Tentu, kita sama-sama menyayangkan aksi pembakaran ini. Agama adalah hak dasar dan asasi dari manusia, dan ketika umat Islam bisa berlaku baik kepada umat beragama lain (Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, atau bahkan orang ateis), mengapa tidak bisa bertindak yang sama terhadap Ahmadiyah, yang notabene masih menjalankan shalat, zakat dan puasa ? Terlepas dari keyakinan i’tiqadiah yang berbeda, bisakah kita memperlakukan mereka sebagai agama yang berbeda ?
Mungkin ini yang seharusnya menjadi peran pemerintah. Berikan tawaran kepada Ahmadiyah jika masih ingin mendapatkan hak-hak seperti agama lainnya :
Saya yakin, dua hal ini juga akan memuaskan Ahmadiyah, dan juga bagi warga yang merasakan aktivitas dakwah Ahmadiyah yang mengkhawatirkan akan menggerogoti sendi-sendi dasar Islam.
“Labelled enemies are easier to be kept. ”
Salam dari Sanur,
Jody Ananda

Beberapa hari terakhir, terjadi situasi yang ‘panas’ di Eropa sana, terutama mereka yang berkecimpung dalam pers dan/atau dunia kartun. Sebuah surat kabar terbitan Denmark, Jyllands Posten, memuat 12 karikatur politik yang sangat menyinggung umat Islam, dengan mengkarikaturkan Nabi Muhammad SAW.
Pemerintah Denmark, secara resmi melalui Mentri Luar Negeri sudah meminta maaf kepada umat Islam seluruh dunia, apalagi jika dikaitkan dengan aksi penutupan kedutaan besar Libya karena masalah ini.
Tapi yang sangat,–dan karena itulah blog ini saya tulis–, adalah komentar dari pihak oposisi Denmark atas nama kebebasan berekspresi dan media (saya kutipkan langsung buat anda disini) :
“Opposition politicians reacted to this message with indignation. Jon Lilletun, the spokesman on foreign policy for the Christian-democrat Kristelig Folkeparti, points out that it is not the ministry’s task to express an opinion on the content of the cartoons. Carl I. Hagen, the leader of the Progress Party, fears that freedom of expression is being swept under the carpet.” - Brussel Journal
Mungkin Herr Kristelig lupa bahwa wilayah agama adalah hal yang sangat sensitif. Jangankan wilayah agama, bagaimana perasaan Herr Kristelig kalau saya mencoba mengkarikaturkan orang tuanya dengan tulisan : “Wow, we have a lot of virgins here in Danish village (fictious state)..!” atau gini aja deh, Herr Kristeligg saya gambarkan sebagai buronan nomor satu, lengkap dengan senjata & anting-anting di sebelah kanan ?
Anda bisa melihat kartun-kartun tersebut di alamat blog berikut : http://face-of-muhammed.blogspot.com/
Tersinggung ? Tentunya, kalau dia normal (dan kita normal) pasti akan berteriak dan memaki-maki. Kalau enggak, …well, don’t know what to say !
Islam tidak pernah mengekang kebebasan berekspresi, so there’s nothing swept away, Sir,..or buried under the carpet, though !
Saya yakin dengan kebebasan berekspresi dan kebebasan mengutarakan pendapat. Dua hal tersebut adalah pondasi dasar dari demokrasi modern.
Hanya saja, ekspresi dengan niat sengaja menyinggung orang lain, –dan dalam kasus kartun Nabi Muhammad ini, bahkan secara vulgar–, keyakinan agama orang lain sungguh suatu hal yang sangat tidak pantas dilakukan.
Tentu lain sifatnya jika kita mengkaji secara kritis dalam sebuah forum dan wacana ilmiah, bukan kartun-kartunan. Nabi adalah juga manusia biasa, dan dalam salah satu haditsnya yang terkenal adalah “Antum a’lamu biumuri dunyakum“. “Engkau lebih tahu dengan urusan duniamu “, ucapan ini terlontar ketika salah seorang sahabat menanyakan pada beliau tentang sesuatu masalah yang tidak diketahuinya. Pada perang Tabuk, bahkan Nabi menerima usul salah seorang sahabat, ketimbang pendapatnya sendiri. Intinya adalah, dalam wilayah dunia, peran Nabi adalah sama seperti manusia lainnya. Hanya saja, beliau SAW diberi wahyu dan risalah oleh Tuhan.
Allahumma shalli ‘ala rasuulika sayyidina Muhammad al-Musthafa, wa ‘ala aalihi washahbihi ajma’in.
Tuhanku, sampaikan salamku kepada utusan-Mu yang mulia, Muhammad SAW sang Pilihan, kepada segenap kaum keluarganya, dan sahabat-sahabatnya.
Salam dari Sanur,
Humanisme
Dalam bukunya “Zaman Persimpangan”, nuansa humanisme dari Soe Hok Gie dapat kita baca dari beberapa sketsa tulisan yang ada. Kekecewaanya karena ikannya yang mati, dan Gie juga seorang penyayang binatang. Walau demikian ada yang sedikit paradoksal dalam dalam diri Soe Hok Gie (dan tentunya juga beberapa pemikir lain dalam sejarah) dengan cap sedikit anarkis. Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai humanisme anarkis, dimana kadang-kadang kita terpikir untuk “menghancurkan saja isi dunia ini beserta seisinya” agar segala wabah penyakit, perang, dan lain-lain bisa hilang dari dunia ini.
Progressif Revolusioner
Gie adalah pemikir progressif, dan juga revolusioner. Walaupun dalam bidang sosial budaya dapat dikategorikan sebagai pemikir yang evolusioner, tapi dalam bidang politik pemikiran-pemikirannya sangat progresif, dan revolusioner.
Beberapa Kritik terhadap Soe Hok Gie
Mencoba mencermati pemikiran Soe Hok Gie tanpa melihat alur benang merah sejarah yang terjadi di tahun 1960-an sangatlah tidak mengena. Kondisi aktual yang terjadi saat itu justru dapat diambil sebagai dasar untuk memahami beberapa pemikirannya. Tahun 60-an ditandai dengan ciri humanisme universal, dalam bentuk gerakan anti perang (Vietnam, di Amerika), anti apartheid dan rasisme (Marthin Luther King, Malcom ‘X’ — juga di Amerika), teologi pembebasan model Freirie (Amerika Latin), Gerakan Gypsi di Amerika (dalam bidang kebudayaan), dan lain-lain. Pemikiran inilah yang membentuk suasana kebatinan yang dihadapi oleh Gie pada waktu itu.
Beberapa kritik yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut :
Lepas dari itu semua, pemikiran-pemikiran Soe Hok Gie pantas mendapatkan decak kagum. Di kurun waktu itu, –dengan semangat pembebasan dan lainnya–, tidak dipungkiri, Gie adalah icon pada zamannya.
Salam dari Sanur,

Anda sulit mencari majalah Playboy ? Kalau perlu blusukan dulu –mungkin di jalan-jalan daerah Bronx New York sana–, sambil toleh kiri kanan ? Dan si penjual cuman senyum-senyum liat face kita yang Asia banget, dan kalau dia agak curious dia paling bilang “Got any ID, Sir..?? “.
Kalau enggak, ke Singapur, jalan ke Orchad road sana. Atau ya nitip teman yang di Amrik dan beli online di www.playboy.com.
Nah, beberapa waktu lagi, kita beli Playboy di toko pinggir jalan di Indonesia. Luar biasa kan ??
Saya tidak akan bicara polemik mengenai masalah Playboy disini, baik dari sisi teologi maupun fiqh (tafsir-hadits-ushul-dst), maupun sosial budaya. Anda tentu sudah mengerti peta dan pendapat dari kedua sisi tsb, dan itu tidak usah diperdebatkan lagi. Secara fiqh sudah final, jangankan melihat aurat ataupun ’separo’ aurat, memandang muka bukan muhrim dengan syahwat saja sudah masuk kategori haram. Jika anda kaum Adam (normal seperti saya, –maaf buat yang tidak normal) ada yang yakin ketika melihat lekuk tubuh Luna Maya atau Sarah Azhari di Popular — tanpa melibatkan syahwat ? Gak mungkin la yaww.
Dari sisi sosial dan atas nama kebebasan berekspresi pun sudah jelas. Saya tidak akan bicara itu. Saya akan bicara dari sisi sejarah.
Hugh Heffner, sang kreator Playboy –edisi pertamanya keluar di tahun 1953–, adalah seorang pria yang bisa melihat peluang bisnis atas sesuatu yang sudah berjalan ribuan tahun di bumi ini : sebuah pelarian seksual. Oasis. Dengan memuat gambar-gambar syur di majalah tersebut , langsung memantapkan brand image-nya sebagai majalah pria yang paling ‘most wanted’. Tulisan-tulisan di Playboy sendiri, merupakan tulisan-tulisan yang bagus (tidak melulu seks, ada cerpen, report, features, etc), dan bahkan beberapa writer terkenal Amerika pun pernah menulis di Playboy seperti Alex Haley dan Alvin Toffler. Ha ?Alvin Toffler yang nulis “Third Wave” itu ? Ya, iya lah. Do we have another Toffler ?
Heffner hanya memanfaatkan instink purba para pria (yang normal, tentu saja), dan kemudian membungkusnya dengan kemasan yang bagus dan taktik marketing yang oke. Kita masih ingat statemen Sigmund Freud yang terkenal : “libido seksual adalah faktor utama penggerak hidup ini“. Silakan sepakat dan tidak sepakat.
Playboy hanya memanfaatkan sesuatu yang memang sudah ada, dan berjalan ribuan tahun di bumi ini. Anda tahu apa profesi tertua di dunia ini (at least, kalau sempat mendengar, tentu tahu maksud saya ) ? Semuanya berujung pada sebuah kata : seks. Salah satu tafsir kitab suci yang pernah saya baca pun mengatakan bahwa ‘pengetahuan‘ (atau dalam istilah lain “pohon Khuldi” yang dimakan oleh Hawa) yang dilanggar Adam ketika di Surga adalah ‘pengetahuan regeneratif‘ (metode untuk melestarikan spesies), dan dalam kasus manusia itu hanya kembali pada satu kata : seks.
Needles to say, Playboy hanya memanfaat wacana sejarah yang sudah ada.
Jadi Playboy van Indonesie ? Kalau anda punya uang dan suka dengan cover edisi pertama ini, ya silakan beli saja.
Salam dari Sanur,
Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here