Catatan Sang Petualang

October 4, 2005

Jelang Ramadhan

Filed under: Agama, SosBud, Umum

Demo BBM
Saya teringat sebuah baris di puisi-nya KH Mustafa Bisri, ketika mengulas bulan Ramadhan (saya lupa judul puisinya) :

         Ramadhan,
         Orang-orang bilang engkau adalah bulan Suci,
         Tapi apakah aku mengetahu tentang kesucianmu ?

         Ramadhan,
         Orang-orang bilang engkau bulan penuh berkah,
         Tapi seberapa baik aku mengisi hari-harimu ?

Kemudian terjadi monologue di ruang bathin saya :
(Sang Aku-Jody- SAJ) : Engkau tahu makna bulan Suci ?
(Jody-Alter Ego-JAE) : Tentu tahu. Bukankah bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmah, barokah dimana umat Islam melaksanakan kewajiban berpuasa…

(SAJ) : Sebatas itu pengetahuanmu ? Dari teks-teks ayat yang kau baca tanpa makna ? Dari ceramah-ceramah yang kau cerna tanpa kau pahami ?
(JAE) : Tentu, darimana lagi aku dapatkan pengetahuan, kecuali dari yang pernah kubaca dan kudengar ?
(SAJ) : Berarti engkau belum sampai pemahaman yang benar mengenai bulan Suci…
(JAE) : Seperti apakah pemahaman yang benar itu ?
(SAJ) : Pertanyaanmu yang terakhir, dan tindakan-tindakan keseharianmu, membuktikan bahwa engkau belum melihat hakikat bulan Suci.

Astagfirullah.
Kemudian saya berkaca pada sebuah kaca bening, dan disana saya masih melihat betapa diri ini masih diliputi tindakan-tindakan yang tidak rahmah : jarang membaca ‘ayat2′ Allah, masih menyakiti makhluq Allah, masih ‘berbohong’ walaupun dibungkus dengan kemasan professionalisme, tidak mendidik diri untuk lebih baik, masih melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah, etc,etc.

Masihkah saya berani menyebut Ramadhan ini bulan Suci ?

Sebuah ayat muncul di lintasan fikiran saya : “Syahru ramadhaana unzila fiihi ‘l-Qur’an huda ‘lin-naas. ” Bulan Ramadhan dimana (didalamnya) diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi (umat) manusia.

Seberapa besar saya menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk (al-Huda) ? Dan jika kita mengambil skala treshold (batasan) dan saya masuk di 20% saja, masih pantaskah saya menyebut diri dan mengaku-aku diri sebagai bagian orang-orang beriman ?

Lalu saya teringat ujar-ujaran (hadits) Kanjeng Nabi Saw yang mulia : “Man shaama ramadhaana imaanan wah tisaban, gufiralahu maa taqaddama min dzanbihi.” Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan ini dengan (penuh) keimanan dan kesungguhan (perhitungan), diampunkan dosa-dosanya di masa yang lalu.” Dalam ilmu nahwu-sharaf, kata ihtisaban berasal dari akar kata (masdar) hasiba-yahsibu-hisaaban yang artinya (Insya Allah, karena saya sedang tidak memegang kamus al-Munjid) adalah menghitung (verb), menimbang (verb), penuh perhitungan (adj).

Apakah selama ini saya berpuasa dengan penuh perhitungan ? Selama ini, puasa saya baru dalam taklif amal (tindakan), artinya sekedar memenuhi tuntutan syara’, belum sampai pada skema ta’rif (pengenalan) apalagi tafhim (pemahaman).

Saya lalu teringat ujar-ujaran beliau yang lain mengenai Ramadhan, bahwa sepertiga terakhir bulan tersebut, adalah itqun min ‘n-Naar. Sebuah penebusan dari Api Neraka. Duh Gusti, siapa yang tidak takut akan siksa-Mu yang Maha Dahsyhat ? Dan siapa yang tidak ingin mengharapkan surga-Mu, yang Engkau sebutkan dalam Quran : “tidak pernah terpikirkan oleh rasa, budi, daya dan akal manusia ?

Awal dari ibadah adalah kesucian, itulah mengapa bab Thaharah (bersuci) menjadi bab-bab awal pembahasan kitab fiqh manapun. Ijinkan saya dengan rendah hati meminta maaf dari anda sekalian (pembaca, rekan blogggers, saudara, handai taulan, dll) dari segala salah, lupa, khilaf, agar kiranya, mudah2an, dengan kebersihan hati tersebut, bisa memaknai bulan ini dengan lebih baik.

Ilaahi, ahdini wa’fhamni min hadza ’syahrun wa barokati fih.
Tuhanku, beri aku petunjuk dan pemahaman untuk mengetahui keberkatan (kemuliaan) bulan (Ramadhan) ini.
Ditengah cobaan berat yang kami alami : kenaikan BBM, dan tingkah polah makhluq-Mu yang membuat aksi teror di bumi-Mu yang indah;
Ilaahi, Laa tuhammilna, ma la qaatala nabihi, warhamna, wa’fuanna, wansyurna biquwwatika
Tuhanku, janga beri kami cobaan, yang tidak kuat kami menanggungnya; kasihanilah kami, ampunkan dosa-dosa kami, dan berilah kami kekuatan-Mu untuk menghadapinya.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://jabier.blogsome.com/2005/10/04/jelang-ramadhan/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here