Tentang Ulil

Setelah digebuk berulang kali dari berbagai kalangan Islam di Indonesia, kini Ulil digebuk lebih hebat lagi. Dan seperti biasa, tanggapan Ulil selalu khas Ulil. Lihatlah tanggapannya ketika 14 fatwa MUI –yang diantaranya mengharamkan pluralitas, dan Ahmadiyah –, “Fatwa MUI itu konyol dan tolol. ” katanya. “Jadi KH Sahal Mahfudz dan Prof Din Syamsuddin itu tolol ya Mas Ulil..?? ” kata wartawan. “Iya, tolol..” Ulil menjawab sambil nyengir tidak karuan. Padahal KH Sahal Mahfudz adalah guru Ulil di pesantren.
Sebagai seorang putra NU (ini kalau dia masih menganggap diri sebagai putra NU), saya yakin Ulil pasti telah khatam kitab Ta’limul Muta’alim, kitab standar di pesantren yang diberikan di saat-saat awal, yang mengajarkan bagaimana etika belajar dan menghormati guru. Kata-kata Ulil diatas, dan beberapa perkataannya yang lain sangat jauh dari isi buku tersebut.
Saya sebenarnya menyukai gagasan dasar dari Islam Liberal, dan nuansa kiri Islam (yang digagas Hassan Hannafi) yang menjadi pondasi dari beberapa pemikiran-nya memang sesuai dengan pandangan saya. Tapi itu tidak menjadikan saya, by default, menjadi tidak kritis dan taqlid kepada Islam Liberal. Ulil yang saya kenal adalah seorang cendekiawan muda NU (dulu dia ketua Lakpesdam NU, sekarang tidak tahu) bersama Masdar F Mas’udi dengan pemikiran-pemikiran yang segar dan kritis terhadap NU. Tapi menjadi kritis dan berdialektika seharusnya tetap tanpa menghilangkan etika. Cuman beberapa lama sejak bergabung dengan Islam Liberal, beberapa pandangannya menjadi ngawur : kawin campur beda agama, sholat dengan wanita sebagai imam, masalah pakaian yang katanya public decency, dll.
“Laisa ‘l-fiqh illa bil khilaf”, begitu sebuah teks dari kitab-kitab standar fiqih, hukum Islam. Jika tidak siap untuk berbeda pendapat, tidak usah belajar fiqih.
Saya dibesarkan dan hidup dalam tradisi kultur NU, bahkan nenek saya almarhum pernah menjadi anggota DPR utusan dari Muslimat NU. Ketika melihat tingkah polah Ulil sekarang, sungguh saya tidak melihat bekas-bekas dari didikan NU kepadanya.
Jika Ulil membaca ini, semoga ini menjadi tausiyah kepadanya.
Salam dari Sanur,
Mas Jabier
