Membahas Ahmadiyah

Kali ini tulisan saya agak serius sedikit, membahas beberapa fatwa yang dikeluarkan MUI (yang saat ini menjadi hot news), salah satunya adalah mendakwa bahwa Ahmadiyah, yang kita sebut saja salah satu aliran dalam Islam, sebagai sesat dan menyesatkan.
Sama dengan agama-agama lain yang jauh lebih tua (Hindu, Budha dan Kristen), Islam juga berkembang secara evolutif, dan terjadilah sekte-sekte atau aliran-aliran yang terbentuk karena beberapa hal sebagai berikut :
- Kondisi geografis dan genealogis budaya setempat; contoh beberapa aliran tasawuf di India (Chistiyah), Rumi, Islam Kejawen, dll.
- Perbedaan penafsiran atas teks. Kondisi ini menyebabkan timbulnya beberapa aliran fiqh(Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali). Yang menarik, perbedaan fiqh ternyata sangat dipengaruhi kondisi geografis dan struktur budaya masyarakat. Tapi kita akan mengkaji hal ini di tempat lain
- Perbedaan politik. Ini menggagas beberapa paham seperti Wahabi di Arab Saudi, Syiah , Khawarij, dll.
- Campuran dari ketiga faktor diatas
Munculnya sebuah aliran selalu ditandai dengan salah satu faktor diatas, ditambah dengan kuatnya posisi sang tokoh aliran.
Ahmadiyah dicetuskan pertama kali oleh Mirza Ghulam Ahmad di Pakistan. Sebagai sebuah aliran dalam Islam, Ahmadiyah, harus diakui, sebagai aliran yang paling banyak melakukan proses konversi (pendakwahan kepada agama lain, yang akhirnya masuk Islam) dan tradisi berpikir ilmiah. Karena itu jangan salah, tafsir dan terjemah Qur’an untuk bahasa-bahasa yang kita tidak pernah tahu (Swahili, Mambusto dll) dilakukan oleh orang-orang Ahmadiyah. Sebagai sebuah organisasi, Ahmadiyah sangat solid, dengan cabang di berbagai negara. metode dakwah dan basis keuangan yang besar.
Lalu dimana letak kesalahannya ?
Salah satu diktum dalam Ahmadiyah adalah pengakuan bahwa ada nabi setelah Muhammad SAW, dan itu adalah Mirza Ghulam Ahmad sendiri, sebuah pandangan yang dalam teks-teks muhkamat (pasti) Islam jelas salah. Qur’an, Hadits, dan teks-teks sirah (sejarah) Islam telah menuliskan beberapa nabi palsu setelah Muhammad SAW, yang semuanya diperangi karena merusak aqidah dasar umat Islam.
Perbedaan ini pun terjadi di Ahmadiyah, yang mengakibatkan mereka terpecah menjadi dua aliran besar : Qadiani dan Lahore. Qadiyani masih mengakui Mirza sebagai nabi, sementara Lahore menjadi lebih moderat, hanya mengakui Mirza sebagai mujaddid (pembaharu) Islam, tidak sebagai nabi. Pun begitu, kedua aliran ini disepak dari Pakistan, hingga sekarang berlokasi di London, Inggris.
Saya miris menyaksikan penghancuran aset-aset Ahmadiyah di media massa.Tidak adakah jalan dialog ? Kalau memang Ahmadiyah dihukum sesat, tidak perlu kemudian menghancurkan rumah, masjid dan universitas milih Ahmadiyah. Bahkan seorang Salahuddin Al-Ayyubi, meletakkan kembali salib ke tempatnya semula, ketika memasuki Yerusalem.
Saya sendiri secara paham, jelas menghukum sesat untuk aliran Ahmadiyah. Itu soal i’tiqadi, masalah mu’amalah yang kita pakai adalah etika Islam. Dan tidak pernah saya baca etika Islam yang memperlihatkan perlakuan masyarakat kita kepada rekan-rekan dari Ahmadiyah.
Salam dari Sanur,
Mas Jabier

etika islam, kga sering gua dengar tuh, tapi rasanya umat islam harus lebih beretika. karena nabi Muhammad SAW contuh manusia paling beretika
Comment by somuch — December 15, 2005 @ 6:57 am
suatu aliran yang lahir tanpa landasan yang jelas tentu saja akan menimbulkan banyak kontroversi, kita tidak bisa membenarkan begitu saja sebuah aliran yang tidak meyakini Nabi Muhammad sebagai Rasul penutup zaman. jika iya berarti kita telah melanggar Al-qur’an.Islam tidak untuk diperdebatkan karena kita punya landasan yang jelas dan hukum yang pasti yaitu Al-Qur’an kenapa harus memungkiri itu?
Comment by echa s — January 9, 2006 @ 5:04 am
Saya kurang sependapat dengan komen sebelum ini, bahwa Islam/Al Quran tidak boleh diperdebatkan. Kenapa? Karena seperti yang tercantum juga dalam al Q, bahwa sekiranya ayat Allah ditulis semua, tidak cukup dg tinta 7 lautan yang ada untuk menuliskannya. Maknanya apa?
Berikut pemahaman saya:
Allahu akbar!! Ayat2 yang tak tertulis, phenomena alam, kapan selesai diperdebatkan? Mulai dari yang terkecil, bumi kita ini. Teknologi, mulai dari yang paling primitif s/d “abad digital” saat ini, semua bermula dari pemahaman ayat2 Allah yang tak tertulis yang tak akan pernah kelar sampai siapapun kembali ke haribaanNya.
Kalau ada yang mengklaim bahwa Al Q sudah selesai dipahami, kok kayaknya justru yang mengklaim itu masuk kategori tersesat juga, ya?!
Ruh dari perintah memahami Al Q secara terus menerus sesuai perkembangan/perubahan phenomena alam, termasuk perilaku manusia, tersirat dalam surat Al Ashri.
Bahkan saya pribadi khawatir, jangan-jangan setan dalam kurun waktu yang entah mulai kapan, telah berhasil membelokkan sebagaian besar dari kita dalam memahami Al Q(ayat yang tertulis) secara benar, sehingga sebagian besar dari ummat telah salah langkah dalam “bersikap”.
Islam kemudian terkesan terbelakang, garang dll.- jauh dari predikat Rakhmatan lil’alamin.
Contohnya ya itu:- Pengrusakan Kampus danmasjid Akhmadiyah
- Respon yang anarkis terhadap pelaku
pelecehan melalui kartun dari Denmark.
Bagaimana ini, mas Jabir?
Salam Kenal(saya belum banyak baca artikel mas.
Comment by eska wiraman — March 9, 2006 @ 2:48 am