Catatan Sang Petualang

September 29, 2005

Hanya ada satu kata : lawan ..dan nge-Blog!!

Filed under: Politik, SosBud, Umum

Demo BBM
Mas Wiji Thukul mungkin saat ini sedang bersenda gurau dan berpuisi dengan Tuhan di alamnya, dan dikuburnya yang entah dimana.

Menyikapi kenaikan BBM, saya memperhatikan dan mengamati dengan cermat. Termasuk aksi 40.000 orang (saya dengar sih begitu) dari berbagai komponen masyarakat yang direncanakan hari ini.

Pertamina memang sudah bangkrut, bangkrut dalam artian secara manajemen dan kultur. Dan walau Widya Purnama, eks-Dirut yang kena kick-off, satu almamater dengan saya, saya menganggap memang dia harus turun dari Pertamina, dengan berbagai kasus yang menggelikan kalau tidak memalukan : kelangkaan BBM, korupsi, pencurian minyak, dan menangnya Exxon di ladang Cepu. Tidak fair kalau saya menyebut ini sebagai kesalahan dia seorang, tapi at least, sebagai CEO, tentunya dia yang harus bertanggung jawab. Kalau bukan dia, lalu siapa ?

Kita bisa melihat website berikut, yang mengklaim sebagai FAQ mengenai kenaikan BBM. Setidaknya sebagai referensi anda sebelum berdemo.

Memang sudah terlalu banyak rakyat Indonesia di-tepu oleh penguasa. Jadi, hanya ada satu kata : Lawan !!

Kalau saya tambah satu : ..dan Nge-Blog.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

Membahas Ahmadiyah

Filed under: Agama, SosBud

My Wife
Kali ini tulisan saya agak serius sedikit, membahas beberapa fatwa yang dikeluarkan MUI (yang saat ini menjadi hot news), salah satunya adalah mendakwa bahwa Ahmadiyah, yang kita sebut saja salah satu aliran dalam Islam, sebagai sesat dan menyesatkan.

Sama dengan agama-agama lain yang jauh lebih tua (Hindu, Budha dan Kristen), Islam juga berkembang secara evolutif, dan terjadilah sekte-sekte atau aliran-aliran yang terbentuk karena beberapa hal sebagai berikut :

  • Kondisi geografis dan genealogis budaya setempat; contoh beberapa aliran tasawuf di India (Chistiyah), Rumi, Islam Kejawen, dll.
  • Perbedaan penafsiran atas teks. Kondisi ini menyebabkan timbulnya beberapa aliran fiqh(Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali). Yang menarik, perbedaan fiqh ternyata sangat dipengaruhi kondisi geografis dan struktur budaya masyarakat. Tapi kita akan mengkaji hal ini di tempat lain
  • Perbedaan politik. Ini menggagas beberapa paham seperti Wahabi di Arab Saudi, Syiah , Khawarij, dll.
  • Campuran dari ketiga faktor diatas

Munculnya sebuah aliran selalu ditandai dengan salah satu faktor diatas, ditambah dengan kuatnya posisi sang tokoh aliran.

Ahmadiyah dicetuskan pertama kali oleh Mirza Ghulam Ahmad di Pakistan. Sebagai sebuah aliran dalam Islam, Ahmadiyah, harus diakui, sebagai aliran yang paling banyak melakukan proses konversi (pendakwahan kepada agama lain, yang akhirnya masuk Islam) dan tradisi berpikir ilmiah. Karena itu jangan salah, tafsir dan terjemah Qur’an untuk bahasa-bahasa yang kita tidak pernah tahu (Swahili, Mambusto dll) dilakukan oleh orang-orang Ahmadiyah. Sebagai sebuah organisasi, Ahmadiyah sangat solid, dengan cabang di berbagai negara. metode dakwah dan basis keuangan yang besar.

Lalu dimana letak kesalahannya ?

Salah satu diktum dalam Ahmadiyah adalah pengakuan bahwa ada nabi setelah Muhammad SAW, dan itu adalah Mirza Ghulam Ahmad sendiri, sebuah pandangan yang dalam teks-teks muhkamat (pasti) Islam jelas salah. Qur’an, Hadits, dan teks-teks sirah (sejarah) Islam telah menuliskan beberapa nabi palsu setelah Muhammad SAW, yang semuanya diperangi karena merusak aqidah dasar umat Islam.

Perbedaan ini pun terjadi di Ahmadiyah, yang mengakibatkan mereka terpecah menjadi dua aliran besar : Qadiani dan Lahore. Qadiyani masih mengakui Mirza sebagai nabi, sementara Lahore menjadi lebih moderat, hanya mengakui Mirza sebagai mujaddid (pembaharu) Islam, tidak sebagai nabi. Pun begitu, kedua aliran ini disepak dari Pakistan, hingga sekarang berlokasi di London, Inggris.

Saya miris menyaksikan penghancuran aset-aset Ahmadiyah di media massa.Tidak adakah jalan dialog ? Kalau memang Ahmadiyah dihukum sesat, tidak perlu kemudian menghancurkan rumah, masjid dan universitas milih Ahmadiyah. Bahkan seorang Salahuddin Al-Ayyubi, meletakkan kembali salib ke tempatnya semula, ketika memasuki Yerusalem.

Saya sendiri secara paham, jelas menghukum sesat untuk aliran Ahmadiyah. Itu soal i’tiqadi, masalah mu’amalah yang kita pakai adalah etika Islam. Dan tidak pernah saya baca etika Islam yang memperlihatkan perlakuan masyarakat kita kepada rekan-rekan dari Ahmadiyah.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

Tentang Ulil

Filed under: Politik, Agama, SosBud

My Wife
Setelah digebuk berulang kali dari berbagai kalangan Islam di Indonesia, kini Ulil digebuk lebih hebat lagi. Dan seperti biasa, tanggapan Ulil selalu khas Ulil. Lihatlah tanggapannya ketika 14 fatwa MUI –yang diantaranya mengharamkan pluralitas, dan Ahmadiyah –, “Fatwa MUI itu konyol dan tolol. ” katanya. “Jadi KH Sahal Mahfudz dan Prof Din Syamsuddin itu tolol ya Mas Ulil..?? ” kata wartawan. “Iya, tolol..” Ulil menjawab sambil nyengir tidak karuan. Padahal KH Sahal Mahfudz adalah guru Ulil di pesantren.

Sebagai seorang putra NU (ini kalau dia masih menganggap diri sebagai putra NU), saya yakin Ulil pasti telah khatam kitab Ta’limul Muta’alim, kitab standar di pesantren yang diberikan di saat-saat awal, yang mengajarkan bagaimana etika belajar dan menghormati guru. Kata-kata Ulil diatas, dan beberapa perkataannya yang lain sangat jauh dari isi buku tersebut.

Saya sebenarnya menyukai gagasan dasar dari Islam Liberal, dan nuansa kiri Islam (yang digagas Hassan Hannafi) yang menjadi pondasi dari beberapa pemikiran-nya memang sesuai dengan pandangan saya. Tapi itu tidak menjadikan saya, by default, menjadi tidak kritis dan taqlid kepada Islam Liberal. Ulil yang saya kenal adalah seorang cendekiawan muda NU (dulu dia ketua Lakpesdam NU, sekarang tidak tahu) bersama Masdar F Mas’udi dengan pemikiran-pemikiran yang segar dan kritis terhadap NU. Tapi menjadi kritis dan berdialektika seharusnya tetap tanpa menghilangkan etika. Cuman beberapa lama sejak bergabung dengan Islam Liberal, beberapa pandangannya menjadi ngawur : kawin campur beda agama, sholat dengan wanita sebagai imam, masalah pakaian yang katanya public decency, dll.

Laisa ‘l-fiqh illa bil khilaf”, begitu sebuah teks dari kitab-kitab standar fiqih, hukum Islam. Jika tidak siap untuk berbeda pendapat, tidak usah belajar fiqih.

Saya dibesarkan dan hidup dalam tradisi kultur NU, bahkan nenek saya almarhum pernah menjadi anggota DPR utusan dari Muslimat NU. Ketika melihat tingkah polah Ulil sekarang, sungguh saya tidak melihat bekas-bekas dari didikan NU kepadanya.

Jika Ulil membaca ini, semoga ini menjadi tausiyah kepadanya.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

September 28, 2005

Soe Hok Gie : Beberapa Sketsa Pemikiran (Bagian I)

Filed under: Politik, Review

soeBagi anda yang telah membaca tulisan saya sekelumit tentang Soe Hok Gie, maka tulisan ini lebih serius untuk mengungkap sisi-sisi pemikiran dari Soe Hok Gie, satu contoh dari apa yang disebut sebagai intelllectual abortus,–orang-orang yang terlalu cepat mati muda sebelum sempat melakukan kerja besar dari pemikiran-pemikirannya.

Soe Hok Gie, sebagaimana intellectual abortus yang lain (Ahmad Wahib, Ada Augusta di Inggris, atau …) tidak sempat meninggalkan sebuah karya yang berisi kompilasi pemikirannya, hanya beberapa catatan2 tentang kehidupannya : “Buku Harian Seorang Demonstran”, an “Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan”, sebuah skripsi untuk menyelesaikan studi sejarahnya di FSUI. Buku kedua, walaupun masih agak prematur, sedikit banyak bisa kita ambil sebagai pijakan untuk meletakkan posisi pemikiran Soe Hok Gie, paling tidak secara ideologis.

Sosialisme
Soe Hok Gie jelas adalah seorang sosialis tulen. Sebagai aktivis dari GM Sos (Gerakan Mahasiswa Sosialis), dia akrab dengan tulisan-tulisan dan pemikir-pemikir sosialis seperti Jean Jaures, Rosa Luxemburg, Gramsci, Sjahrir dan lain-lain. Dia selalu berharap agar setiap asset yang dimiliki negara digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (Pasal 33 UUD ‘45), tapi tanpa melakukan peniadaan kelas yang agresif dan agitatif layaknya aksi kaum Marxis-Leninis.

Sekuler
Pemikiran-pemikiran Gie, jelas berusaha memisahkan antara Agama dan Negara. Jika dia masih hidup sekarang ini, mungkin Gie sudah masuk dalam TO (target operasi)-nya FPI Rizieq Shihab.

Mari kita lihat dalam kerangka bagaimana Gie merumuskan sekularisme-nya.
Beberapa tulisannya dalam “Zaman Persimpangan” (Gie berkesempatan mengunjungi Amerika dan Australia), dia melihat langsung fenomena kaum hippies, anti-establishment dan semacamnya pada waktu itu. Saat itu, issue agama menjadi tidak menarik sama sekali bagi Gie, dan paham sekularian jauh lebih menarik dan sexy bagi orang-orang muda seperti Gie.

Dalam kaitan ini pula kita bisa memahami thesis Nurcholish Madjid di awal 70-an : Islam Yes, Partai Islam No. Ketika label-label agama dilekatkan pada sebuah organ non agama (partai, institusi dan lain-lain) maka dia menjadi kehilangan makna tematis dan historisnya. Bahkan dalam beberapa kasus, hal ini menjadi beban bagi organ yang dilekatkan dengan label agama, untuk selalu bertindak sesuai dengan ‘rules‘ yang terdapat dalam kitab suci.

Evolusi Budaya
Gie percaya, bahwa budaya (dan dalam range tertentu ini juga menyangkut agama, yang dalam kajian sejarah dipandang sebagai sebuah bentuk kebudayaan manusia) bersifat evolutif; selalu bergerak dan berubah sesuai dengan tuntutan jaman. Dalam hal ini, Gie percaya adanya sebuah ‘mixed-for-good‘, adagium bahwa pergesekan antar budaya akan menghasilkan sebuah kebudayaan baru yang lebih baik dari kebudayaan sebelumnya. Karena itu, dalam tataran implementasinya, Gie mendukung kebijakan kawin-campur bagi etnis Tinghoa waktu itu (dan etnis-etnis lainnya juga) agar sebuah nation-state bernama Indonesia ini menjadi sebuah entitas yang plural dan inklusif.

Saya akan membahas lebih lanjut di bagian selanjutnya untuk membedah secara kritis pandangan-pandangan Soe Hok Gie dalam lapangan ideologis dan budaya.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

September 20, 2005

It’s my wife on the paper !!

Filed under: Uncategorized

My Wife
Kira-kira 1 bulan lalu, isteri saya, Idayani, mendapat kesempatan untuk di-profilkan dalam sebuah majalah. Ya, sebagai PR Media Newmont yang sering melakukan relasi dengan wartawan, ternyata diantara wartawan itu ada yang ‘kepincut’ dengan isteri saya yang cantik, dan kemudian memprofilkan dalam sebuah kolom khusus.


IdayaniScanned Image for Article (larger version)

Great. At least at Newmont stand point, it will give benefit knowing that tailing can be a new cosmetics (joking), or even as a new category in newspapers (again,..joking).

I love you, honey…

Mas Jabier

September 18, 2005

Sebuah Gelang, sebuah Kepedulian

Filed under: Umum

Gelang Solidaritas

Simple things, simple ideas combined with hardworking can become an energy of success.” - Anonymous

Kita sering melihat, bahwa sebuah kerja besar, yang nantinya melahirkan sukses dan menimbulkan perubahan yang sangat berarti, sering dimulai dengan ide-ide yang simpel. Bahkan kita harus bersyukur bahwa vending machine tempat para peneliti ARPA mengambil minuman terletak di lantai bawah, dan itulah yang akhirnya membuat mereka mencari solusi agar mereka tahu apakah vending machine itu masih ada isinya atau tidak, …. dan akhirnya dari sanalah Vinc Cerf menemukan TCP/IP protocol, yang menjadi tulang punggung Internet yang kita nikmati sekarang ini.

Gelang adalah sebuah aksesori simple, dan yang saya pakai ini dikeluarkan oleh Tunas Cendekia, sebuah yayasan yang bergerak untuk membantu pendidikan bagi anak-anak di Indonesia. Ide sederhana, dan seratus ribu perak yang kita sumbangkan akan sangat membantu buat mereka.

Lihat saja gambar saya memakai gelang ini ya, cool enough kan ??


Gelang Solidaritas

Thanks for my friend, Ngurah, for giving me this cool stuff. Not only the stuff, but the great ideas regarding solidarity and social awareness behind that. Besides, it’s red, close to my left ideas…:))

September 2005
Salam Dari Sanur,

Mas Jabier

September 16, 2005

Kaki Lima

Filed under: SosBud, Umum

Kaki Lima
Memori saya masih menyisakan kenangan kejadian ini.
Jum’at, tanggal dan bulan saya lupa di tahun 1992. Seperti biasa, dipagi hari sekitar jam 9, saya sudah meluncur ke Depok untuk sekedar ‘main’ di tempat komputer, dan mengasah sedikit kemampuan komputer saya. Sepulangnya, sebelum Jum’atan, saya mampir ke Kantor Pos Pasar Minggu untuk menge-poskan surat, ah saya lupa buat siapa. Dan pemandangan inilah yang ada di hadapan saya :

“Bu’, minggir bu’…jangan jualan disini…ayo bubar-semua.” Dengan angkuhnya belasan orang berpakaian satpol PP sibuk mengusir kaki lima di Pasar Minggu, yang waktu itu sudah mulai agak semrawut. Saya melihat ibu ini, dengan berkalungkan cabe, jengkol dan pete, membawa bakul, repot mengurusi dagangannya. “Plak, ..plak..plak.. ” Tongkat-tongkat pun mulai beraksi memukuli mereka. Orang-orang ramai mulai berkerumun dan ada yang berteriak-teriak.

“Astagfirullah, bukan begini cara mengajari mereka, mereka cuman cari makan…” batin saya. Pukulan tongkat makin cepat berayun, saya maju ke depan melindungi ibu pedagang tersebut, dan tangan saya pun secara otomatis memberikan tangkisan karate A-gyu-kee, dan menahan tangan sang durjana dibalik seragam satpol. Terjadi debat kusir, saya cuman minta mereka beri sedikit waktu bagi PKL ini untuk berkemas, dan tidak usah pakai main pukul segala.C’mon, they’re just ladies, and your mothers too.

Episode berikutnya dalam hidup saya adalah awal dari pemihakan saya kepada orang-orang tertindas, dimanapun dan kapan-pun. Seperti pedagang2 PKL tersebut.

Ketika beberapa tahun berikutnya saya mampir lagi ke Pasar Minggu, situasinya sudah jauh lebih semrawut. Bahu jalan tidak lagi terambil 1/4, tapi bahkan sudah mengambil satu jalan tersendiri sehingga hanya ada satu jalan yang semestinya satu arah, menjadi dua arah. Efek reformasi di tahun 1998, menambah parah situasi tersebut karena PKL pun bisa menjadi anarkis.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan mereka. Seperti juga PKL di Pancoran, mereka mulai dengan 1-2 orang, dan ada oknum2 PEMDA yang menikmati jasa ‘kebersihan’, dan belum lagi para preman yang memungut jasa keamanan. Secara formal, yang harus bertanggung jawab adalah PEMDA.

PKL,jelas adalah buah dari sistem ekonomi kita yang carut marut. Yang PEMDA lakukan lebih dari sekedar reaksi, ketimbang sebuah solusi cerdas yang mampu menghilangkan masalah. Beri mereka tempat yang layak, beri aturan yang jelas bagi PKL, dan bersihkan bahu jalan dari apapun yang mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Setelah mereka mendapat tempat yang layak, bukankah nanti pembeli juga akan datang ke lokasi yang telah ditetapkan ? Berikan pemahaman kepada PKL bahwa lokasi yang jauh dari jalan tidak akan mengganggu pendapatan, sebab nanti lama kelamaan ketika masyarakat sudah tahu kemana harus mencari mereka, maka situasinya sama, hanya dipindahkan tempatnya saja.

Apakah PEMDA sudah melakukan langkah tersebut ? Saya yakin tidak, sekali lagi mereka hanya melakukan reaksi, bukan sebuah solusi. Ingat ketika di Bogor, para PKL disuruh libur satu hari karena Presiden mantu ? biar bersih jalan katanya… Atau hanya karena Yang Mulia Presiden akan melintas ?

Saya mungkin bukan orang yang tepat untuk membeberkan solusi atas permasalahan PKL di Jakarta. Banyak orang pintar di BAPPEDA, Tata Kota dan lain-lain, mereka yang punya ilmu dan otorisasi untuk melakukan hal tersebut.

Saya hanya rakyat biasa. Dan tulisan ini hanya mencoba memberikan ilustrasi bahwa permasalahan PKL bukan lah sebuah domain, tapi hanya lintasan dari akar-akar permasalahan yang sudah menggurita sebelumnya.

Salam Dari Sanur,

Mas Jabier






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here