Kita (masih 1/2) Merdeka !

Seperti layaknya sebuah ritus, –yang diagung-agungkan–, kemudian menjelma menjadi tradisi dan kemudian rutinitas, peringatan kemerdekaan tahun 2005 ini mencatat beberapa hal yang baru : 60 tahun, enam dasawarsa, sebuah usia yang tidak lagi muda; sebuah konsep politik baru yang melahirkan presiden yang dipilih langsung oleh rakyat; dan lembaran baru untuk Aceh.
Tidak semua hal baru saya sebut diatas, dan tentu saja tidak selalu hal yang baru itu baik. Memperingati Hari Kemerdekaan sebuah bangsa haruslah menjadi sebuah oase bagi pemenuhan semangat kebangsaan, yang dirintis oleh para founding fathers kita : Soekarno, Hatta, Sjahrir, Dokter Sutomo, Wahidin, Ki Hajar Dewantara dan lain-lain.
Apa sebenarnya makna kemerdekaan yang sejati ?
Merdeka (terambil dari akar kata bahasa Sanskrit ma-har-dhi-ka), bermakna sebuah kondisi atau keadaan dimana seseorang bebas dari segala ikatan yang memasungnya, baik ikatan yang bersifat sosio-kultural, maupun ikatan yang bersifat fisik. Bebas menentukan ke arah mana dia berjalan, menghirup udara bebas yang diberikan oleh Tuhan, dan terbang kemana saja dia suka. Karena itulah, banyak lambang negara yang diasosiasikan dengan burung; entah burung Elang (seperti Amerika), atau Garuda (seperti yang kita miliki). Burung elang yang gagah, terbang dengan cepat kemana saja dia suka; dan memiliki mata tajam ; semuanya analog dengan budaya pembebasan dan kemerdekaan.
Apakah kita sudah merdeka ?
Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu kita definisi kemerdekaan diatas harus sedikit direvisi agar klop dengan identitas negara : Sebuah negara yang mandiri, tidak terikat dengan ancaman dan ketakutan yang mengharuskannya melakukan sesuatu yang memalukan; sebuah negara yang tidak didikte oleh siapapun; sebuah negara yang mampu mencukupi segala kebutuhan warga negara dan memanage semua resource-nya dengan baik; tanpa rasa takut, khawatir dan lain-lain.
Indonesia masih 1/2 merdeka.
Kita lihat saja apa yang dilakukan oleh Indonesia ketika kedaulatannya dicabik oleh tetangga jiran (yang selalu berlindung dibalik “British rules the waves”) ketika terjadi class fisik seperti tahun 60-an. Tidak ada bluffing, tidak ada action yang menunjukkan sebuah dignity sebagai sebuah nation. Apa yang dilakukan Indonesia ketika salah satu nelayannya ditangkap dengan semena-mena di Australia dan kapalnya dibakar ? Nothing, at least I can say that. Australia yang jumlah penduduknya kurang dari 10% penduduk Indonesia, dengan tentara yang pas2an, berani melakukan pelecehan seperti itu. Lihatlah apa yang dilakukan Amerika terhadap warganya : walaupun sudah terbukti bersalah di Singapura dan dikenakan pasal hukum cambuk, mereka teriak dan bluffing dan melakukan segala cara untuk meniadakan hukum cambuk tersebut. But Singapore kept tough, and says no. Itu yang harus kita contoh; baik dari Amerika, maupun sikap Singapura yang tegas dan kokoh pada pendiriannya.
Apa yang kita lakukan pada Singapura yang “menyimpan” belasan koruptor buronan dari Indonesia ? Bagi saya tidak ada jalan lain; ultimatum Singapura bahwa jika mereka melindungi koruptor (yang adalah musuh negara), menahan asset mereka, maka they declare a war against us. Tidak usah berlindung dibalik konvensi ekstradisi yang belum kita tanda tangani; Just give those outlaw bastards to us !
Kita masih setengah merdeka.
Mari kita penuhi yang setengah lagi dengan tegak berdiri dan berkata : “Aku ingin kemerdekaan yang sesungguhnya.”
Entah kenapa, saat-saat seperti ini saya rindu dengan figur Soekarno. Adakah semangatnya menitis dalam jiwa salah seorang pemimpin kita ? Saya ingin mendengar kembali ucapan William Wallace, pahlawan Skotlandia :
“They may take our lives,
But they can’t take our freedom……”
teresonansi pada ucapan Indonesia pada Singapura (atau Amerika, atau Malaysia, atau negara lain yang berlagak jago) :
” You can take out our bastards, but you can’t take our dignity.”
Indonesia,
Sungguh darah ini adalah darahmu,
Disana mengalir air yang kuminum dari bumimu,
Didadaku, kuhirup udara dan memandang biru langitmu,
Mataku memandang bumi-mu yang indah, seindah zamrud khatulistiwa,
Dan jika sampai ajalku,
‘Kuingin tulang dan darah ini kembali ke bumimu,
menyirami tanahmu yang subur,
Di hari ini, aku ingin berteriak,
MERDEKA !!
untuk yang kedua-kalinya
Salam dari Sanur,
17 Agustus 2005
Mas Jabier
-Indonesia, sungguh darah ini adalah darahmu..

mas, katanya sih gini :
Comment by andry — August 17, 2005 @ 4:11 pm
merdeka! merdeka! merdeka!
Comment by Imponk — August 17, 2005 @ 5:13 pm
setuju. cuma masih banyak yg merasa udah merdeka, contohnya saudara imponk itu…teriak-teriak merdeka…:P seharusnya ya: “setengah merdeka! 3x”
Comment by naga — August 18, 2005 @ 10:34 am