Catatan Sang Petualang

August 17, 2005

Kita (masih 1/2) Merdeka !

Filed under: Politik, Umum

Proklamasi
Seperti layaknya sebuah ritus, –yang diagung-agungkan–, kemudian menjelma menjadi tradisi dan kemudian rutinitas, peringatan kemerdekaan tahun 2005 ini mencatat beberapa hal yang baru : 60 tahun, enam dasawarsa, sebuah usia yang tidak lagi muda; sebuah konsep politik baru yang melahirkan presiden yang dipilih langsung oleh rakyat; dan lembaran baru untuk Aceh.

Tidak semua hal baru saya sebut diatas, dan tentu saja tidak selalu hal yang baru itu baik. Memperingati Hari Kemerdekaan sebuah bangsa haruslah menjadi sebuah oase bagi pemenuhan semangat kebangsaan, yang dirintis oleh para founding fathers kita : Soekarno, Hatta, Sjahrir, Dokter Sutomo, Wahidin, Ki Hajar Dewantara dan lain-lain.

Apa sebenarnya makna kemerdekaan yang sejati ?
Merdeka (terambil dari akar kata bahasa Sanskrit ma-har-dhi-ka), bermakna sebuah kondisi atau keadaan dimana seseorang bebas dari segala ikatan yang memasungnya, baik ikatan yang bersifat sosio-kultural, maupun ikatan yang bersifat fisik. Bebas menentukan ke arah mana dia berjalan, menghirup udara bebas yang diberikan oleh Tuhan, dan terbang kemana saja dia suka. Karena itulah, banyak lambang negara yang diasosiasikan dengan burung; entah burung Elang (seperti Amerika), atau Garuda (seperti yang kita miliki). Burung elang yang gagah, terbang dengan cepat kemana saja dia suka; dan memiliki mata tajam ; semuanya analog dengan budaya pembebasan dan kemerdekaan.

Apakah kita sudah merdeka ?
Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu kita definisi kemerdekaan diatas harus sedikit direvisi agar klop dengan identitas negara : Sebuah negara yang mandiri, tidak terikat dengan ancaman dan ketakutan yang mengharuskannya melakukan sesuatu yang memalukan; sebuah negara yang tidak didikte oleh siapapun; sebuah negara yang mampu mencukupi segala kebutuhan warga negara dan memanage semua resource-nya dengan baik; tanpa rasa takut, khawatir dan lain-lain.

Indonesia masih 1/2 merdeka.
Kita lihat saja apa yang dilakukan oleh Indonesia ketika kedaulatannya dicabik oleh tetangga jiran (yang selalu berlindung dibalik “British rules the waves”) ketika terjadi class fisik seperti tahun 60-an. Tidak ada bluffing, tidak ada action yang menunjukkan sebuah dignity sebagai sebuah nation. Apa yang dilakukan Indonesia ketika salah satu nelayannya ditangkap dengan semena-mena di Australia dan kapalnya dibakar ? Nothing, at least I can say that. Australia yang jumlah penduduknya kurang dari 10% penduduk Indonesia, dengan tentara yang pas2an, berani melakukan pelecehan seperti itu. Lihatlah apa yang dilakukan Amerika terhadap warganya : walaupun sudah terbukti bersalah di Singapura dan dikenakan pasal hukum cambuk, mereka teriak dan bluffing dan melakukan segala cara untuk meniadakan hukum cambuk tersebut. But Singapore kept tough, and says no. Itu yang harus kita contoh; baik dari Amerika, maupun sikap Singapura yang tegas dan kokoh pada pendiriannya.

Apa yang kita lakukan pada Singapura yang “menyimpan” belasan koruptor buronan dari Indonesia ? Bagi saya tidak ada jalan lain; ultimatum Singapura bahwa jika mereka melindungi koruptor (yang adalah musuh negara), menahan asset mereka, maka they declare a war against us. Tidak usah berlindung dibalik konvensi ekstradisi yang belum kita tanda tangani; Just give those outlaw bastards to us !

Kita masih setengah merdeka.
Mari kita penuhi yang setengah lagi dengan tegak berdiri dan berkata : “Aku ingin kemerdekaan yang sesungguhnya.”

Entah kenapa, saat-saat seperti ini saya rindu dengan figur Soekarno. Adakah semangatnya menitis dalam jiwa salah seorang pemimpin kita ? Saya ingin mendengar kembali ucapan William Wallace, pahlawan Skotlandia :
They may take our lives,
 But they can’t take our freedom……

teresonansi pada ucapan Indonesia pada Singapura (atau Amerika, atau Malaysia, atau negara lain yang berlagak jago) :
You can take out our bastards, but you can’t take our dignity.”

Indonesia,
Sungguh darah ini adalah darahmu,
Disana mengalir air yang kuminum dari bumimu,
Didadaku, kuhirup udara dan memandang biru langitmu,
Mataku memandang bumi-mu yang indah, seindah zamrud khatulistiwa,

Dan jika sampai ajalku,
‘Kuingin tulang dan darah ini kembali ke bumimu,
menyirami tanahmu yang subur,

Di hari ini, aku ingin berteriak,
MERDEKA !!
untuk yang kedua-kalinya

Salam dari Sanur,
17 Agustus 2005

Mas Jabier
-Indonesia, sungguh darah ini adalah darahmu..

August 15, 2005

Keponakan Baru

Filed under: Uncategorized


Gw agak telat hari ini. Baru sampai kantor sekitar jam setengah sebelas siang, waktu Denpasar,..ck..ck..ck..coba kalau gw di Jakarta,udah dipecat bolak-balik tuh.

Seperti biasa, kegiatan awal adalah membuka lock screen Mandrake v10 (liat pail-pail dari daftar download yang udah selesai, atau check notes baru dari Kontact). Begitu liat mailing list, ada kabar bagus :

> \+—–Original Message—–
> \+From: Kusno Mudiarto
> \+Sent: Saturday, August 13, 2005 7:49 AM
> \+To: c0a@yahoogroups.com
> \+Subject: [c0a] Kabar
> \+
> \+
> \+Halo semua,
> \+
> \+Mau bagi-bagi berita aja .. akhirnya sesudah
> bertahun-tahun berjuang,
> \+keluar juga anak kita :-) , nambah daftar keponakan
> C0A & C0B, dan calon
> \+angkatan C28 deh kira-kira ;-)
> \+
> \+Philip Indra Mudiarto
> \+Lahirnya di San Diego, 8/8/2005, Jam 06:25 PST
> \+Beratnya 3.5 kg, tingginya sekitar 50 cm
> \+
> \+Kalo mo ngliat beberapa photonya bisa disini :
> \+http://www.esthersnc.com/philip
> \+
> \+Kusno Mudiarto & Thresencia Sulistio
>

Hmm, ternyata kawan lama saya, Mudi, yang merantau di negerinya Bush itu baru mendapat kebahagiaan baru dengan lahirnya putra pertama mereka, Phillip.

Selamat, Mud.


I still remember about 11 years ago, as Gundulwan at TC ITS,we both drove around Kertajaya to find some warung for eating. And also I still remember when I rode an old bicycle (very old indeed, took me much of stability and balance) went to your place for some mambo jambo code in Pascal.

Congrats… Sekalipun di Amerika, semoga engkau tetap Indonesia, Mud.
Oh, ya foto-foto Phillip bisa dilihat di http://www.esthersnc.com/philip

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

August 12, 2005

Suantika Gets Married, Who’s next ?

Filed under: Umum

Jum’at malam (tanggal 22 Juli 2005 lalu) saya menghadiri resepsi perkawinan one of my first Balinese friends here in Bali, Made Suantika. Maka bersama Newmont Oracle keeper, kang Robert, dan GM i-Connect Bali, Bli Widiana, kami pun meluncur ke sana after office hours.

Ya, suasana sangat meriah. Saya mengenal both the bride and the groom. Yang perempuan (Trisna) malah lebih dulu saya kenal, pada saat saya masih awal di Bali sekitar Desember 2004 lalu.

Seperti layaknya sebuah seremoni di Bali, unsur tarian selalu ada. Disuguhi dengan sebuah tarian (sayang saya lupa judulnya), tapi tetap mengemas sebuah culture funky yang menjadi trends dengan menghadirkan sebuah band : Capsule, yang cukup punya nama di Bali dan sering manggung di cafe-cafe, sebagai stage band yang mengiringi resepsi perkawinan.

Ya, sebuah mixed-culture, just like Bali itself.
So here, I present you the bride and the bridegroom…


With The Bride Gung Wid & Indah Jody  Widi With The Bride Dua Bromocorah

Klik gambar untuk memperbesar

Salam dari Sanur,

Mas Jabier






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here