Catatan Sang Petualang

July 20, 2005

a 20-year memory

Filed under: Umum


Have you got a called from someone from your past, and made you a 15 seconds shock ? I am sure you’ve got one.

Kemarin, seseorang menelpon saya, mengaku bernama Mawan. Saya bingung, siapa orang ini, dan spontan bertanya apakah dia kolega saya dari Newont ? Radnet ? old fellas from ITS ? some janc**k thinkers from poor community called Kantin ITS ? A unknown geek from underground community that I used to have ? or somebody else ?

Bukan semuanya. Sampai dia cerita bahwa dia adalah anaknya Tante Pop dan Om Iwan. Ah tante Pop, ya saya ingat. Jadi mawan yang ini, dan kemudian memory otak saya berputar ke 15,..tidak 20 tahun yang lalu.

Saya ingat namanya sekarang : Hermawan. Betul dia anaknya Tante Pop (yang kebetulan nama depannya sama dengan nama kakak saya Poppy) dan Om Iwan, yang tinggi besar. Yak, dia memang yang sering kita panggil Mawan, punya kakak perempuan bernama Nana (yang seumuran dengan Poppy kakak saya, tapi jauh lebih jangkung pada waktu itu dan dapat julukan “Galah” di tempat kami karena postur tingginya). Dan dia punya adik perempuan bernama Hera, yang dulu waktu kecil kami sering jodoh2kan dengan adik saya Franky.

Oh, Mawan yang itu. Kami sering bermain kelereng bersama (dan dia harus mengakui keunggulan saya dalam hal ini), layangan, badminton dan lain-lain permainan anak kecil lainnya. Yang masih saya ingat adalah kami pernah berebutan sepotong bambu, saling tarik menarik sampai terluka, sementara orangtua kami tertawa-tawa memperhatikan sampai kami menangis. Well, children never takes revenge (and don’t have that), as we were better friends after that.

Kami berpisah, kalau tidak salah, beberapa saat setelah saya masuk SMP. Om Iwan mendapat pekerjaan baru entah dimana, dan mereka pindah ke daerah lain. So here it comes, he will come to Bali (and meet me of course). Akan sangat banyak cerita yang bisa dishared.

For 20 years memory, that would be a lot
.

Salam,

Mas Jabier

Kiri, Jalan Terus !

Filed under: Politik, Agama, SosBud

islamic revolution
Jod, pandangan-pandanganmu koq kiri banget sih !
Jan***k, sosialis tulen koen !

Begitu ungkapan beberapa kawan kalau melihat beberapa pandangan saya atas berbagai permasalahan dalam bidang sosial dan politik. Bahkan, Agus Subhan, sahabat saya di ITS juga sempat menanyakan kenapa saya begitu “kiri” dan “agak merah.”

Ya, jawaban-jawaban sudah saya berikan. Mungkin blog ini akan menjadi jawaban terakhir saya, karena kalau ada orang yang bertanya, saya tinggal sertakan link posting ini sebagai jawaban. Enteng kan hehehehehehe….

Saya akan menjawab dari dua sisi : sisi sejarah, dan sisi teologis. Dari sisi sejarah, mari kita luruskan dulu bahwa Kiri itu identik dengan Komunis, Otoriterianisme, Totaliterisme, Marxisme dan Atheisme. Semuanya jelas salah besar, walaupun memang banyak dari mereka yang berkecimpung dalam gerakan kiri memilik ideologi seperti diatas. Kiri, pada awalnya, dinisbatkan kepada sekelompok orang dalam parlemen Perancis diawal Republik ke-IV (sekitar 1920-1944) yang menolak ikut dalam pemerintahan, yang akhirnya disebut sebagai oposisi. Kiri, menjadi sebuah ideologi perlawanan, terhadap ideologi mapan pada saat itu, yang dinilai tidak membawa semangat Revolusi Perancis.

Tuan-tuan hanya mewarisi abu dari revolusi Perancis, sedangkan kami, mewarisi apinya ! ” demikian teriak Jean Jaures, tokoh (kiri) Perancis pada waktu itu. Apa sih semangat Revolusi Perancis itu ? Jawabnya hanya 3 : pembebasan (liberte), kesetaraan (egalite) dan persaudaraan (fraternite).

Jadi kalau kita merujuk pada prinsip historis, Kiri adalah sebuah ideologi gerakan yang berupaya mengambil 3 nilai dari Revolusi Perancis : pembebasan dari semua penindasan, semangat kesetaraan yang diaplikasikan dalam hukum yang adil bagi semua orang dan persaudaraan. Pada akhirnya, dalam proses evolusinya, Kiri menjadi sebuah ideologi anti-penindasan dan perlawanan.

Dari sisi teologis, sebagai seorang muslim, secara pribadi saya memandang Islam juga sebagai sebuah ideologi pembebasan dan anti penindasan. Lihatlah dalam Qur’an, begitu banyak ayat-ayat yang menyatakan bahwa semua manusia adalah sama dimana Tuhan, yang membedakan adalah amal ibadahnya saja. Lihatlah juga, bahwa disamping seorang Nabi, Muhammad SAW juga adalah seorang revolusioner yang merombak sistem yang ada pada saat itu (sistem politik, budaya, agama dll) menjadi sebuah sistem yang sesuai dengan semangat Islam.

Saya sejalan dengan pandangan-pandangan Muhammad As-Sanusi (pendiri tarekat Sanusiyah di Yaman), Hassan Hanafi, Rasyid Ridha yang memandang Islam sebagai sebuah ideologi pembebasan. Dan itulah yang saya tafsirkan sebagai nuansa kiri dalam Islam (Hassan Hanafi, “Kiri Islam”).

Apakah saya salah kalau saya meletakkan kaki saya dan menaruh tangan saya di sisi mereka yang tertindas ? Apakah saya salah jika saya menyebutkan dzikir saya untuk mereka-mereka yang dianiaya ? Apakah kemudian menjadi tidak benar jika saya menafsirkan ucapan Kanjeng Nabi untuk selalu membela mereka2 yang tertindas dan teraniaya ?

Semangat pembebasan, kesetaraan dan persaudaraan itulah yang saya tafsirkan dalam Islam. Anda bisa berargumentasi mengenai salah benar dalam kerangka teologis-fiqh-hadits-ushul dll, tapi inilah yang menjadi ijtihad saya. Mungkin salah mungkin benar, tapi paling tidak saya mendapat 1 pahala.

Jadi Kiri ? Jalan terus…!!

Salam,

Mas Jabier






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here