Soe Hok Gie

“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…” - Soe Hok Gie, Zaman Peralihan
Ada beberapa kesamaan antara Soe Hok Gie, dengan saya. Kami sama-sama berbintang Sagitarius, sama-sama menyukai petualangan dan mendaki gunung, sama menyukai dan mempelajari sosialisme, sama-sama memiliki jiwa pemberontak dan eks-demonstran.
Dan sama-sama anti penindasan dan selalu berpihak pada mereka yang tertindas. Hanya saja, Soe Hok Gie, sama seperti Ahmad Wahib, menjadi mereka yang disebut sebagai intellectual abortus,– para intelektual cerdas yang mati muda sebelum sempat melakukan banyak kerja besar dari hasil pemikiran mereka. Gie meninggal karena asap bercaun
Kalau anda membaca profil tentang saya, anda akan melihat bahwa Soe Hok Gie adalah salah seorang yang saya kagumi. Kecerdasannya, kejujurannya, dan terutama keberaniannya, untuk melakukan perubahan. Rekan-rekannya berujar “Gie, lurus tanpa ampun menerjang siapa saja yang harus dia terjang..“. Saya membaca dengan penuh antusias buku-buku Soe Hok Gie : Catatan Seorang Demonstran Zaman Peralihan, Orang-orang di Persimpangan Sejarah. Tulisan-tulisannya persis seperti yang saya bayangkan : lugas, apa-adanya, kadang-kadang satir, dan tajam dalam analisa.
Saya menanti dengan tak sabar selesainya film “Soe Hok Gie” yang dibintangi Nicholas Saputra dan Wulan Guritno, and bet me, I’ll be the first watcher and reviewer when it’s already in. Semoga film ini bisa memotret dengan cukup baik kehidupan Soe Hok Gie dengan segala kelebihan dan kelemahannya sebagai manusia biasa, orang yang berada dibalik perjuangan mahasiswa di tahun ‘66, dan tokoh kunci mahasiswa pada waktu itu.
Izinkan saya mengakhiri artikel ini dengan mengutip tulisan Soe Hok Gie (And The Sixth Rider is The Fear) dalam Zaman Peralihan mengomentasi tentang rasa takut, : ” Manusia, adalah apa yang dipikirkannya. Jika anda adalah seorang yang berani dan jujur, dan itu yang anda pikirkan, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya.”
Denpasar, 24 Juni 2005
Salam dari Sanur,
Mas Jabier

Tentang pembuatan movie: Soe Hok Gie , apa casting untuk pemeran Soe Hok Gie itu benar-benar dijalani dengan research yang seksama for the sake of “history”? Bila ingin mempersembahkan seorang tokoh pahlawan pada masanya, mengapa tidak memilih seseorang yang lebih mendekati sang pahlawan? Soe Hok Gie adalah seorang keturunan cina, mengapa memilih bintang muda yang sama sekali tidak mencerminkan dia? Apakah bila seorang etnis cina yang memainkan film itu tidak lebih cocok? Apakah ini masih ada kaitannya dengan racial issue yang tetap bertahan sebagai major hinder untuk pembangunan di Indonesia?
Mas Jabier comments :
Saya rasa tidak demikian. Hanya saja, jika saya setuju dengan anda, bahwa akan jauh lebih baik jika mendekati dengan sisi realitas, dan bukankah ada beberapa aktor yang berasal dari etnis Cina yang juga cukup handal, seperti Ferry Salim ? Mungkin produser dan sutradara memiliki pertimbangan sendiri, lebih pada masalah popularitas dari Nicholas Saputra dan kepiawaian-nya berakting yang memang tidak diragukan. (kalau Wulan Guritno, saya masih sangat meragukan..). Ingat film Troy ? Troy orang Yunani, dan banyak aktor keturunan Yunani di Amerika yang cocok memerankan Troy selain Brad Pitt. So to speak, can we just wait for the movie, mi_lan ??
Salam,
Comment by Milan — June 25, 2005 @ 4:09 pm
dalam movie gie, apa tetap scripnya diambil langsung dari buku catatab harian seorang demonstran, yang sangat menarik dalam buku itu dalam bab iv, antara cinta, politik dan pesta.
Mas Jabier replies : Betul sekali, Mas Ovank. Hal itu mengedepankan sisi yang paling manusiawi dari seorang Gie.
Comment by ovank — October 11, 2005 @ 5:38 am
Itulah seni film, watak, pemikiran, tutur kata, make up dsb. dibuat mendekati tokoh aslinya. Yang dikhawatirkan adalah jika wujud tampilan mirip tapi pewatakan, tutur kata, mimik dsbnya jauh dari aslinya.
Comment by Jay — October 12, 2005 @ 12:38 pm
Bukanlah sesuatu yang aneh hal-hal yang dipikirkan dan dilakukan oleh Soe Hok Gie. Karena setelah level pemikiran kita telah sampai pada poin ini, pasti dan sangat mutlak kita juga akan menjadi pemberontak.
Dapat dimaklumi jika Soe Hok Gie lebih memilih keterasingan daripada harus menyatu bersama dunia buram yang sangat samar untuk dapat dibaca dan dipahami. Kemunafikan, yang seringkali kita dengar sebagai ‘kebijakan’, hanyalah dalih yang sengaja dibuat-buat oleh lembaga pemerintah untuk dapat terus mencengkeram dan membelenggu kebebasan rakyatnya.
Dan di zaman seperti sekarang ini, tentu saja banyak sekali Soe Hok Gie yang berkeliaran di sekujur wajah Nusantara ini. hanya saja, memang sulit untuk mengungkapkan kebenaran di zaman yang serba global dan mengada-ada ini. Toh paling juga divonis sebagai orang gila, mungkin… dan kata-kata yang diungkapkan para Soe Hok Gie zaman sekarang ini hanyalah “PEDULI SETAN!!!”
Neraka, 23 November 2100
Comment by The Betrayer — November 23, 2005 @ 5:25 am
saya mengenal gie setelah menonton film,, emang agak terlambat sih tapi saya benar-benar kagum dengan perjuangannya… yang ingin saya tanyakan dimana bisa didapat buku-buku gie khususnya catatan seorang demonstran tapi covernya fersi wajah gie bukannya wajah nicho,, kan bukan catatan seorang nicholas saputra…..
Jabier’s reply :
Buku Gie, –yang pernah saya baca–, “Orang-orang di persimpangan kiri Jalan” dan Catahan Harian Seorang Demonstran tidak memuat sama sekali gambar Gie. Entah di cetakan-cetakan yang terakhir. Saya akan coba chek di Gramedia dan toko-toko buku yang lain…:)
Comment by nia — February 18, 2006 @ 10:53 am
hi…
gw mahasiswa jurusan politik, dan gw sedang menyelesaikan paper tentang Gie, spesifikasi tentang pemikirannya dia..
can u help me,pliezzzzz?????
karena sebagai orang yang kagum ama dia, gw yakin lu tau banyak ampe ke pemikirannya dia….
thx b4…
Comment by anita — March 11, 2006 @ 6:07 am
saya seorang pengagum soe hok gie. Sebagai seorang pengaggum berat saya ingin mencari tulisan2/artikel2 gie tapi tak pernah dapat..bisakah dimuat seluruh tulisan2 atau artikel gie yang pernah di muat di beberapa surat kabar pada masa itu
Comment by ABEW — March 31, 2006 @ 10:23 am
Sehabis nonton film “Gie” gw jadi berpikir apa masih ada pemuda Indonesia yang berjuang untuk kemajuan orang-orang disekitarnya…Semoga akan lahir lagi sosok Gie yang lain,yang bisa membawa negeri ini pada kemajuan & keadilan yang sebenarnya.
Comment by AMIN SUHERMAN — April 18, 2006 @ 7:20 am
saat ini baru buku “Catatan Sang Demontran” yang berhasil saya peroleh, untuk buku mengenai pemikiran Gie, dimana saya bisa mendapatkan, mohon informasi…
Comment by Naskar Wandi — May 3, 2006 @ 2:48 pm
Jelek banget.!! Kalau bisa yang lengkap dong tentang Gie… Siapa yang bilang Soe Hok Gie mirip kamu..?? DASAR GAK TAHU DIRI…!!!
Jabier’s reply :
Lha, yang bilang ya saya sendiri…hhehehehehe..kan sudah diterangkan kemiripannya apa : Sagitarius, ex-mountain hiker, sosialis dan anti penindasan. Mungkin juga mirip sama situ..?? Take it easy..
Comment by Vivi — May 6, 2006 @ 9:25 am
KALAU KAMU EMANG MENGAKU MIRIP DENGAN GIE , COBA BUKTIIN JANGAN CUMA MAMER AJA! KLO JABARIN KESAMAAN ATAU KEMIRIPAN DARI PERBINTANGAN ATAU HOBI , BERARTI BANYAK DONG GIE-GIE PADA ZAMAN MODERN INI , TAPI KENAPA MASIH BANYAK AJA KORUPT TUA YANG BER MUKA TEBAL TAPI GAK ADA SATU PUN YANG BERANI KRITIK! “GIE” DI KENANG BUKAN UNTUK MENCARI SIAPA YANG MIRIP DENGANNYA TAPI DIA MENCARI SIAPA YANG BERANI UNTUK MELANJUTKAN TULISAN-TULISAN NYA YANG KRITIS DAN TAJAM UNTUK PEMERINTAH. THANKS
Reply : Deuh…full capitals..kesannya teriak2 dan kasar banget ya..no problem.. I just posted this comment in its original form. I’ll take that as good criticism.
Comment by VICTORIA — July 11, 2006 @ 5:39 am
hiiiiiii…..
gw aurora baru kmaren nonton gie….. wah filmnya two thumbs bgd…
dari bsitu gw mikir….. klo gie itu punya smangat dan pemikiran yang wahhh bgd untuk nak seusia dia khususny waktu dia masa2 sma,,, duh pengen dhe punya kepribadian kya gie…. hoply….heuuuuuu
Comment by aurora — September 30, 2006 @ 8:41 am
soe hok gie.. aku tak menyangka akan membaca buku yang berjudul Catatan Seorang Demonstran, jujur aku sangat terkesan dengan perjuangan SHG.. tapi satu yang membuatku agak kesal, mengapa nama Soe Hok Gie tak pernah dicantumkan dalam pelajaran sejarah di sekolah terutama masalah pada saat Demokrasi Terpimpin?? apakah semua yang ia tulis ditakuti oleh birokrat-birokrat pada saat itu?? kenapa suatu kebenaran malah di sembunyikan
Comment by irwan — October 6, 2006 @ 12:57 am