Catatan Sang Petualang

June 24, 2005

Soe Hok Gie

Filed under: Politik, Umum

soe
“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…” - Soe Hok Gie, Zaman Peralihan

Ada beberapa kesamaan antara Soe Hok Gie, dengan saya. Kami sama-sama berbintang Sagitarius, sama-sama menyukai petualangan dan mendaki gunung, sama menyukai dan mempelajari sosialisme, sama-sama memiliki jiwa pemberontak dan eks-demonstran.

Dan sama-sama anti penindasan dan selalu berpihak pada mereka yang tertindas. Hanya saja, Soe Hok Gie, sama seperti Ahmad Wahib, menjadi mereka yang disebut sebagai intellectual abortus,– para intelektual cerdas yang mati muda sebelum sempat melakukan banyak kerja besar dari hasil pemikiran mereka. Gie meninggal karena asap bercaun

Kalau anda membaca profil tentang saya, anda akan melihat bahwa Soe Hok Gie adalah salah seorang yang saya kagumi. Kecerdasannya, kejujurannya, dan terutama keberaniannya, untuk melakukan perubahan. Rekan-rekannya berujar “Gie, lurus tanpa ampun menerjang siapa saja yang harus dia terjang..“. Saya membaca dengan penuh antusias buku-buku Soe Hok Gie : Catatan Seorang Demonstran Zaman Peralihan, Orang-orang di Persimpangan Sejarah. Tulisan-tulisannya persis seperti yang saya bayangkan : lugas, apa-adanya, kadang-kadang satir, dan tajam dalam analisa.

Saya menanti dengan tak sabar selesainya film “Soe Hok Gie” yang dibintangi Nicholas Saputra dan Wulan Guritno, and bet me, I’ll be the first watcher and reviewer when it’s already in. Semoga film ini bisa memotret dengan cukup baik kehidupan Soe Hok Gie dengan segala kelebihan dan kelemahannya sebagai manusia biasa, orang yang berada dibalik perjuangan mahasiswa di tahun ‘66, dan tokoh kunci mahasiswa pada waktu itu.

Izinkan saya mengakhiri artikel ini dengan mengutip tulisan Soe Hok Gie (And The Sixth Rider is The Fear) dalam Zaman Peralihan mengomentasi tentang rasa takut, : ” Manusia, adalah apa yang dipikirkannya. Jika anda adalah seorang yang berani dan jujur, dan itu yang anda pikirkan, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya.”

Denpasar, 24 Juni 2005
Salam dari Sanur,

Mas Jabier

June 18, 2005

Selamat Jalan, Indri !

Filed under: Umum

Selamat Jalan, Indri,

17 Juni 2005. Sebuah email masuk ke mailing list Kantin ITS dari Cicha, senior saya dari Teknik Lingkungan. Seperti biasa, dengan subject kabar duka, saya pun was-was membukanya, entah siapa yang meninggal, dosen-kah ?? sesepuh ITS kah ? atau orang tua kawan mahasiswa ?? atau yang lain.

Sampai saya membaca baris-baris berikut dari email tersebut.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun
Indriati Mulia, A32 mahasiswi Arsitektur ITS Angkatan 1997 pada hari Kamis 16 Juni 2005,
telah berpulang ke hadirat Nya
.

Indri, hmm,..ya ada sih dulu saya kenal dengan Indri, dan kalau tidak salah juga angkatan 97 Arsitek. Tapi apakah Indri yang itu ? Saya masih belum bisa memastikan.

Indri, yang sempat aktif di kantin dan KAMI ? Indri, yang asal Kediri, dengan potongan rambut pendek dan ide-ide feminis yang cukup kental ? Apakah Indri yang itu ?

Sampai saya membaca condolences dari teman-teman lain, yang ternyata memang menguatkan bahwa itu adalah Indri yang saya kenal. Saya sampai men-sms juragan blog kantin its, Andry, untuk memastikan, walaupun tidak dibalas sms saya (Ndri, koen ganti nomer, ato hp mu wis out of coverage area ?).

Memang benar Indri yang itu. Indri yang asal Kediri, yang aktifis KAMI, yang berambut pendek. Indri yang dulu sempat saya kenal selalu berjalan dengan 2 orang rekannya (sehingga kita selalu memanggil mereka bertiga trio kwek-kwek). Ah, Indri…begitu cepat Tuhan memanggilmu.

Indri tewas dalam kecelakaan di Jalan Raya ITS, jalan yang dulu saya bersama teman-teman Senat Mahasiswa ITS menentang pelebarannya. Lihat saja, baru sehari dibuka setelah ditutup dalam rangka berkabung atas kematian Indri, sudah makan korban lagi. Jalan dimana dulu kami beserta almarhumah melewatinya dalam berbagai aksi demonstrasi. Dan penabraknya, jelas seorang bajingan, saya tidak peduli dengan apa warna kulit dan agamanya, tapi jelas seorang bajingan jika anda membaca reaksi si bajingan di artikel ini.

Selamat Jalan, Indri !
Semoga amal ibadahmu, perjuanganmu yang tulus untuk membebaskan mereka yang teraniaya dan tertindas, mendapat tempat di sisi-Nya. Dan dengan itu semua, engkau mendapatkan pengampunan dari-Nya.

Mas Jabier






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here