Catatan Sang Petualang

April 19, 2005

Simbolisme dan Formalisme dalam Kehidupan Spiritual

Filed under: Agama, SosBud


"Tuhan, Engkau tahu aku seorang illiterate, buta huruf dan tidak mengerti bagaimana seharusnya berdo’a kepadamu dengan benar. Karena itu, aku serahkan kumpulan huruf dalam surat ini, aturlah sesuka-Mu menjadi do’a yang terbaik, karena Engkaulah Sang Maha Indah. Padamu hanya kuserahkan ketulusan dan kepasrahan.."

Sebuah penggalan dari kisah Do’a Sang Katak, karangan Pater De Mello, yang saya kagumi karena esensinya yang mendalam.

Semangat simbolisme (baca:formalisme) dalam beragama, sudah dimulai jauh-jauh hari, bahkan ketika suatu bentuk budaya yang bernama agama, lahir ke muka bumi ini. Semangat ini ditandai dengan menguatnya unsur-unsur puritanisme, lembaga yang memiliki kekuasaan yang sangat besar, dan aturan-aturan kaku yang hanya berbicara benar dan salah, tanpa memahami hubungan sebab akibat dan kondisi yang berlaku.

Tradisi agama-agama besar juga pernah (dan mungkin) masih dipenuhi dengan kuatnya simbolisme dan formalisme dalam kesehariannya.  Kristen Katolik dengan lembaga kepausan, doktrin-doktrin Nicea (yang kemudian di-revisi dalam kaitannya dengan wanita dan ilmu pengetahuan), Islam pada masa kekhalifahan Abbasiyah yang menjadi ajang perseteruan antara Sunnah-Syiah yang sebenarnya lebih bertendensi politis ketimbang teologis, Budha pada masa awal pembentukan Aliran Zen Mahayana di Cina dan lain-lain.

Kekakuan dalam menerima doktrin tanpa mau melihat perkembangan kehidupan manusia, dan penghormatan berlebihan terhadap simbol, menjadikan prinsip formalisme ini menjadi sebuah kekuatan politik, –yang dengan demikian–, memiliki kekuatan untuk menghukum, siapa saja yang dianggap tidak sealiran,..dus tidak sesuai dengan pesan yang tercantum dalam kitab suci.

Kita sekali lagi dihadapkan dengan insiden simbolisme ini pada band Dewa, yang menggunakan kaligrafi sebagai cover, versus FPI yang mewakili sisi formal dalam agama.  Kejadian yang sama pernah juga dialami Iwan Fals pada cover kaset dan CD-nya.

Saya pernah bertanya kepada seorang rekan : "Ketika engkau memandang salib, apa yang kamu pandang paling penting, simbol salib, Yesus yang disalibkan, atau nilai-nilai universal yang dibawa oleh orang yang disalibkan (Yesus) ?" . Teman saya menjawab yang terakhir, yang artinya dia telah ada pada tahap diatas formalisme dalam beragama, dia sudah mencapai esensi dalam beragama.

Sama seperti Maulid Nabi yang kita peringati setiap tahun, jika kita melakukannya sekedar sebagai sebuah ritus, maka kita terjebak dalam formalisme agama. Sudah sepatutnya kita memperingatinya untuk meneladani kepribadian Muhammad SAW, dan yang lebih penting, menggapai esensi ajaran-ajarannya.

Semangat formalisme dan simbolisme yang berlebihan dalam beragama, hanya mengantarkan kita untuk menjadi fanatik tanpa makna. Dalam "Kiai Sudrun Gugat", Emha Ainun Nadjib menafsirkan simbolisme ini sebagai sebuah pendangkalan akidah, yang berujung pada fanatisme buta, dan politisasi agama. Hassan Hanafi, dalam "Kiri Islam" memandang formalisme agama adalah hal sempit yang harus dihindari, karena sesungguhnya agama, sebagai sebuah ajaran moral, harus ditempatkan dalam sebuah kerangka pengajaran dan kearifan universal. Sebagai sebuah ajaran universal, dialah yang harus membatasi nilai-nilai lain yang akan selalu berubah dari waktu ke waktu, bukan terjebak dalam sebuah bingkai formalisme dan simbolisme yang kaku.

Jadi, mari lepaskanlah simbol dan baju formal kita, dan mari kita mencari esensi dari simbol-simbol atau kaidah2 formal yang ada dalam agama kita masing-masing. Schimmel, dalam "Mysticism in Islam" mengasumsikan, dan saya sependapat dengan beliau, kita akan sampai pada titik yang tidak terlalu berbeda,– atau bahkan sama–, ketika mencari esensi ini.

Salam,

Denpasar, April 2005
Mas Jabier

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://jabier.blogsome.com/2005/04/19/simbolisme-dan-formalisme-dalam-kehidupan-spiritual/trackback/

  1. zaman postmodern sekarang ini, manusia2 instan mempunyai keyakinan hanya pada simbol dan formal keagamaan, jauh dari esensi agama itu sendiri. berbagai macam fatwa agama dikeluarkan untuk hal-hal yang sepele, sedangkan masalah besar disepelekan. aneh memang para pemimpin agama kita.kita manusia tidak bisa kreatif lagi, tidak bisa mengoptimalkan akal (anugerah Tuhan yang paling besar kedua setelah keimanan) karena telah dikekang dan dibakukan oleh simbolisme dan formalisme agama. kehidupan religius kita semakin garing tak ber ruh/berspirit, karena yg ada hanya rutinitas belaka. Saya sangat sepakat dengan tulisan anda, kalo anda tidak berkenan sudilah kiranya membagi ilmunya dengan saya yang haus akan nilai-nilai kemanusiawian.

    Mas Jabier replies : Mbak Ie, terima kasih atas perhatiannya. Saya pun juga ingin belajar banyak dari Anda, bukankah akal akan semakin terasah dalam medan diskusi dan perenungan ?

    Salam,

    Mas Jabier

    Comment by iEc#VksZ — October 11, 2005 @ 4:35 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here