Catatan Sang Petualang

April 28, 2005

There are people that were born as B*tch*s..

Filed under: SosBud

Bitches
Membaca beberapa episode kehidupan dari orang-orang seperti Azhari’s girls (Ayu, Sarah dan Rachma), SL (Sophia Latjuba) et cetera hanya membuat kita terperangah atas kelakuan (baca:attitude) mereka. Dengan bangganya memamerkan ke-sexy-an dan “keterbukaan” dalam sebuah public appearance, dan dengan mengungkapkan, –dalam bahasa saya–, a brain damn foolish reason.

Kenapa saya bilang begitu ? Saya tidak berusaha menjadi seorang moralis seperti Aa Gym atau Arifin Ilham. Biarlah masalah fatwa de el el menjadi urusan para ulama. Yang saya sikapi adalah masalah attitude yang sedikit nyerempet ke ethics.

Di tahun 1980-an, seorang senator Amerika, Gary Hart, terpaksa mengundurkan diri dari pencalonannya sebagai presiden Amerika karena tertimpa kasus “esek-esek” dengan model Donna Rice, di kapal “Monkey Business”. US, yang kata orang menghalalkan segala bentuk kebebasan (politik, budaya, seks dll), yang menjadi markas penerbit majalah playboy, penthouse, yang menjadi pusat anti-establishment, ternyata berbicara lain ketika menyangkut penampilan publik dan standar moral, apalagi ketika hal itu menimpa calon pemimpin mereka. Dan lihatlah reaksi masyarakat Amerika yang terperangah dan mengecam aksi Janet Jackson dalam acara Superbowl tahun lalu yang melakukan pornoaksi di depan TV.

Aktris Angelina Jolie, –I love this bitch when she played “Girl, Interrupted!”– betapa pun liarnya kehidupan pribadi-nya, tetapi pada saat tampil dalam public appearance, adalah sosok yang sangat keibuan dan mencintai anak angkatnya, Maddox.

So, what’s my point here ?

You have to split between personal and public area. Saya tidak perduli apa yang anda lakukan dalam wilayah personal anda, tapi ketika anda tampil dalam sebuah ruang publik, lakukan hal-hal yang pantas dengan tingkah laku dan ucapan yang cerdas. “Biasa, kan cewek..sexy gitu lho! Semakin sexy, semakin OK “ ungkapan Sarah Azhari hanya mencerminkan perbandingan terbalik on her brain capacity.

Atau seperti ungkapan teman saya, “There are people that were born as bitches.” Saya pribadi menambahkan, “If you are bitch, then do it smart !”. Jangan seperti Paris Hilton, dan orang-orang yang sudah saya sebut di paragraf pertama diatas.

Salam,
Denpasar, April 2005

Mas Jabier

April 27, 2005

Plagiator, Dimanakah engkau ?

Filed under: SosBud

Joe Millionaire. Topeng. xxx Ilahi. xxx Ilahi. Dan lain-lain.

Beberapa hari kita melihat tampilan sinetron-sinetron, reality show dan lain sebagainya, yang bagi saya, banyak nuansa plagiat. Lihatlah Joe Millionaire, acara yang sebaiknya tidak usah ditonton, dan sangat jauh dari versi asalnya di Amerika. Come on guys, be creative ! Apa tidak ada versi lain yang lebih membumi, dan –ini pendapat personal saya–, it’s not good to sell "love" either tragic or comedy, for public consumption.

Indonesia memang aneh. Saat jaman acara-acara berbau magis tampil populer di TV, maka berduyun-duyun TV lain memproduksinya. Gentayangan, Dunia Lain, Pemburu hantu (Ghostbuster), Dunia Ghaib  dll yang cuman memainkan akal2an plus acting pantomim yang bisa diberi acungan jempol kaki. Saat ini, ketika sinetron berbau religius (meskipun masih ada unsur klenik + magic) populer, maka beramai-ramai TV lain memproduseri acara yang sama : Takdir Ilahi, Kuasa Ilahi, TV Legenda, Astagfirullah, dan lain-lain.

Benarkah kita hanya terpaku pada trend, mode, apa yang laku dan tidak, tanpa membuat sebuah modifikasi cerdas dari apa yang ingin kita tiru ? LIhatlah sinetron "Topeng", yang jelas-jelas plagiat dari "The Mask" yang menjadi debut Jim Carrey di tahun 95 ? Saya juga pernah mementaskan naskah "Topeng Bah !" yang saya tulis sendiri bersama Teater Tiyang Alit di tahun 1996, but it’s totally different situation & theme. Lihatlah sinetron itu : seseorang secara tidak sengaja menemukan topeng, memakainya, dan berubah menjadi individu lain dengan kemampuan2 supranatural. Dan bandingkan dengan "The Mask".

Cobalah liat proses kreatif Quentin Tarantino, yang membuat sekuel Kill Bill. Jelas-jelas dia mengakui bahwa karya itu di-ilhami dari film lokal Jepang (saya lupa namanya), tapi dia memodifikasi, –dan bahkan — "menafsirkan" sehingga menjadi khas Hollywood, dan enak dilihat.

Lihat juga acara kontes2, yang dengan cepat diikuti acara kontes Model, Dangdut, AFI Junior (C’mon guys, they’re just kids !), dan lain-lain. Tampaknya, pengekoran, telah menjadi bagian dari budaya kita.

Maaf, bukan berarti saya mewajibkan bahwa kita harus selalu menemukan judul baru, theme baru atau apa lah. Para penyair juga sering melakukan penafsiran atas suatu karya, dan itu bukan plagiat. Kata-kata "inspired by" menjadi sangat populer di beberapa lagu, film atau cerita.

Hanya, kita harus menulis kembali dengan cerdas. Konteks yang berbeda. Konflik yang lebih localized, atau bahkan menambahkan keunikan dari gaya kita masing-masing ke dalam suatu karya. Dan bagi saya, itu adalah suatu proses kreatif yang berdiri sendiri.

Salam,

Denpasar, April 2005

Mas Jabier

April 20, 2005

Bang Ridwan, Kagak Ade Kerjaan nyang Laen ?

Filed under: Agama, Musik, SosBud, Umum

DewaPagi tadi saya menonton sebuah infotainment, ada berita yang cukup mengagetkan : Ridwan Saidi. sang tokoh Masyumi, akan melayangkan tuntutan ke Dewa, karena lirik-liriknya dianggap sebagai membawa ajaran sesat ? “Hmmm..”, saya bergumam dalam hati. “Dewa lagi,..Dewa lagi..”.

Well, I have to tell you this from the beginning. Saya bukan penggemar Dewa, at all, dan dari dulu saya sudah menganggap Dhani is one of the jerks. Tapi berbicara mengenai aliran sesat (Ridwan Saidi menyebut Panteisme) adalah soal lain. Dan berbicara mengenai Dewa sebagai sebuah elemen kreativitas, maka secara natural saya memberikan satu tangan saya untuk mereka. Dukungan, simpati dan empati untuk semua seniman, –tidak hanya DEWA–, yang terpasung atau akan dipasung dalam proses kreativitasnya.

Bang Ridwan,
Saya yakin, penggemar DEWA yang rata-rata masih remaja, tidak tahu apa itu Panteisme, Wihdatul Wujud, Al-Hulul dan lain sebagainya. Mereka cuman tahu mengenai Cinta,..dan biarlah Dhani mencintai siapa saja (termasuk Tuhan) dengan caranya sendiri. Dengan bahasanya sendiri. Bang Ridwan mempersoalkan kata-kata : “Aku ini cinta-Mu, aku ini jiwa-Mu..” Coba sih dipikir dikit gitu lho bang, apa si Dhani menyamakan jiwanya yang kotor dengan jiwa Tuhan yang suci, atau dia hanya mengakui bahwa jiwanya milik Tuhan ? Saya membaca lirik ini satu kali, dan saya bisa langsung tahu bahwa maksud Dhani adalah jiwanya adalah milik Tuhan (aku ini jiwa (kepunyaan)-Mu, dan cintanya adalah juga bagian dari cinta Tuhan (aku ini (adalah bagian dari) cinta-Mu.

Mestinya bang Ridwan bangga kalau seniman kreatif seperti Dhani, sudah sampai pada tahap kontemplasi seperti ini. Kalau saya sampai pada penggalan ayat di Surat Al-Baqarah : “..(Qul) fainni qariib.”, trus pas kebeneran bang Ridwan denger dua kata terakhir, langsung abang nuduh aye ngaku-ngaku Tuhan nyang begitu deket ?? Bang, tulung bedain antare orang yang bercermin (dengan alam, quran, ayat-ayat-Nya di alam semesta ini) dengan orang yang menganggap dirinya adalah cermin itu sendiri. Pan ada tuh, nyang ngaku nabi di Sulawesi Barat, bagusan abang ngurusin entu ketimbang Dhani.

Ape bang Ridwan di Masyumi baru, udeh kagak ade kerjaan lagi ?

Denpasar, April 2005

Mas Jabier

April 19, 2005

Simbolisme dan Formalisme dalam Kehidupan Spiritual

Filed under: Agama, SosBud


"Tuhan, Engkau tahu aku seorang illiterate, buta huruf dan tidak mengerti bagaimana seharusnya berdo’a kepadamu dengan benar. Karena itu, aku serahkan kumpulan huruf dalam surat ini, aturlah sesuka-Mu menjadi do’a yang terbaik, karena Engkaulah Sang Maha Indah. Padamu hanya kuserahkan ketulusan dan kepasrahan.."

Sebuah penggalan dari kisah Do’a Sang Katak, karangan Pater De Mello, yang saya kagumi karena esensinya yang mendalam.

Semangat simbolisme (baca:formalisme) dalam beragama, sudah dimulai jauh-jauh hari, bahkan ketika suatu bentuk budaya yang bernama agama, lahir ke muka bumi ini. Semangat ini ditandai dengan menguatnya unsur-unsur puritanisme, lembaga yang memiliki kekuasaan yang sangat besar, dan aturan-aturan kaku yang hanya berbicara benar dan salah, tanpa memahami hubungan sebab akibat dan kondisi yang berlaku.

Tradisi agama-agama besar juga pernah (dan mungkin) masih dipenuhi dengan kuatnya simbolisme dan formalisme dalam kesehariannya.  Kristen Katolik dengan lembaga kepausan, doktrin-doktrin Nicea (yang kemudian di-revisi dalam kaitannya dengan wanita dan ilmu pengetahuan), Islam pada masa kekhalifahan Abbasiyah yang menjadi ajang perseteruan antara Sunnah-Syiah yang sebenarnya lebih bertendensi politis ketimbang teologis, Budha pada masa awal pembentukan Aliran Zen Mahayana di Cina dan lain-lain.

Kekakuan dalam menerima doktrin tanpa mau melihat perkembangan kehidupan manusia, dan penghormatan berlebihan terhadap simbol, menjadikan prinsip formalisme ini menjadi sebuah kekuatan politik, –yang dengan demikian–, memiliki kekuatan untuk menghukum, siapa saja yang dianggap tidak sealiran,..dus tidak sesuai dengan pesan yang tercantum dalam kitab suci.

Kita sekali lagi dihadapkan dengan insiden simbolisme ini pada band Dewa, yang menggunakan kaligrafi sebagai cover, versus FPI yang mewakili sisi formal dalam agama.  Kejadian yang sama pernah juga dialami Iwan Fals pada cover kaset dan CD-nya.

Saya pernah bertanya kepada seorang rekan : "Ketika engkau memandang salib, apa yang kamu pandang paling penting, simbol salib, Yesus yang disalibkan, atau nilai-nilai universal yang dibawa oleh orang yang disalibkan (Yesus) ?" . Teman saya menjawab yang terakhir, yang artinya dia telah ada pada tahap diatas formalisme dalam beragama, dia sudah mencapai esensi dalam beragama.

Sama seperti Maulid Nabi yang kita peringati setiap tahun, jika kita melakukannya sekedar sebagai sebuah ritus, maka kita terjebak dalam formalisme agama. Sudah sepatutnya kita memperingatinya untuk meneladani kepribadian Muhammad SAW, dan yang lebih penting, menggapai esensi ajaran-ajarannya.

Semangat formalisme dan simbolisme yang berlebihan dalam beragama, hanya mengantarkan kita untuk menjadi fanatik tanpa makna. Dalam "Kiai Sudrun Gugat", Emha Ainun Nadjib menafsirkan simbolisme ini sebagai sebuah pendangkalan akidah, yang berujung pada fanatisme buta, dan politisasi agama. Hassan Hanafi, dalam "Kiri Islam" memandang formalisme agama adalah hal sempit yang harus dihindari, karena sesungguhnya agama, sebagai sebuah ajaran moral, harus ditempatkan dalam sebuah kerangka pengajaran dan kearifan universal. Sebagai sebuah ajaran universal, dialah yang harus membatasi nilai-nilai lain yang akan selalu berubah dari waktu ke waktu, bukan terjebak dalam sebuah bingkai formalisme dan simbolisme yang kaku.

Jadi, mari lepaskanlah simbol dan baju formal kita, dan mari kita mencari esensi dari simbol-simbol atau kaidah2 formal yang ada dalam agama kita masing-masing. Schimmel, dalam "Mysticism in Islam" mengasumsikan, dan saya sependapat dengan beliau, kita akan sampai pada titik yang tidak terlalu berbeda,– atau bahkan sama–, ketika mencari esensi ini.

Salam,

Denpasar, April 2005
Mas Jabier






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here