Mister President !

Hari ini, KPU telah menetapkan seorang presiden baru untuk Indonesia, setelah melalui pesta demokrasi yang dimulai 6 bulan lalu. Presiden pertama yang benar-benar dipilih oleh rakyat secara langsung, bebas dan tanpa melalui perantara apapun.
“Mister President !” . Ya, begitulah mungkin panggilan yang akan diberikan kepada SBY di negeri Paman Sam sana. Kita mungkin akan menggelarinya “Bapak Presiden “ atau mungkin sambil berlagak melankolis mengenang tahun-tahun menyebutnya dengan “Bung Presiden !” , merujuk pada panggilan yang diberikan kepada presiden pertama republik ini, Soekarno.
Sungguh, begitu banyak PR yang harus dikerjakan oleh SBY dan tim-nya. Keterpurukan ekonomi, politik, budaya, dan tentunya musuh nomer satu negeri ini yang telah memberikan andil bagi ketimpangan sosial di negeri ini dalam segala bidang : korupsi. Ada satu agenda yang tidak bisa dilepaskan dari korupsi, yaitu penegakan hukum yang tegas dan konsisten.
Tanpa penegakan hukum (disegala aspek tentunya), para koruptor hanya akan melenggang dan menjadi praktek yang diamini oleh perang-perangkat yang seharusnya bekerja jujur dan adil. Tanpa penegakan hukum yang tegas, seorang Tommy Winata bisa dengan seenak perutnya memerintahkan pemukulan musuh-musuh yang tidak disukainya, dan bahkan merusak gedung yang ditempati oleh orang atau perusahaan manapun yang dianggap mengancam, dan kemudian melenggang bebas. Lucunya, sistem hukum di negeri ini malah memberi bonus pada Tommy : vonis bersalah atas Bambang Harymurti (BH), pemred Tempo, yang justru merupakan korban dari aksi Tommy.
Saya mengusulkan agar vonis pengadilan terhadap BH dan Tempo ini, kalau bisa, dimasukkan ke dalam Musium Rekor Indonesia (MURI) sebagai vonis terlucu dalam sejarah !
So, mister president, it’s really hard, isn’t it ? Motto “Bersama Kita Bisa !” tentu akan dilantukan ke hadapan saya jika nyerocos menanyakan ini kepada beliau. Lagian, tugas presiden memang berat koq, tidak sekedar diam saja, ya kan Bu Mega ?
Pak SBY, walaupun saya tidak memilih anda pada pemilihan presiden lalu, sebagai seorang demokrat, tentunya ucapan selamat lah yang keluar dari seorang rakyat kecil seperti saya. “Selamat !” karena anda mendapat kepercayaan yang begitu luar biasa dari rakyat negeri ini melalui sebuah proses yang bisa dibilang sangat demokratis, dan tentunya “Selamat Bekerja !” untuk bekerja bagi kemajuan, kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat.
Selamat bekerja, mister, eh,..Bapak Presiden !
Batu Hijau, 4 Oktober 2004
Jody Ananda
