GOLPUT, sebuah pilihan ?
Kepada teman-teman yang sering menanyakan pilihan saya pada PEMILU putaran dua nanti, saya kerap menyatakan kalau saya GOLPUT, alias tidak memilih. Sebagian besar menyalahkan saya, sebagian kecil menyayangkan, dan sebagian kecil (lagi) diam, tapi ikut pula menyayangkan.
Salahkah orang-orang, yang seperti saya, memilih untuk tidak memilih, alias GOLPUT ?
Tidak ada norma salah dan benar dalam politik, apalagi dalam sebuah koridor demokrasi. Di Amerika Serikat, jumlah partisipasi politik warga negara dalam PEMILU tidak pernah melebihi 50%, bahkan cenderung kurang. Ini tercermin dalam betapa sulitnya untuk mencari juri-juri dalam pengadilan, karena juri-juri dipilih dari citizen yang namanya terdaftar dalam daftar pemilih, dan tentu saja ikut memilih. Dus, sebagai negara kampiun demokrasi seperti itu saja, demokrasi tetap berjalan dengan mulus di negara adidaya tersebut.
Bagaimana dengan Indonesia ? Memang, kita masih belajar dalam berdemokrasi. Ibarat bayi, kita masih dalam tahap merangkak, belum sampai tahap berjalan. Dalam praktek budaya kita pun, hak untuk tidakmemilih juga dihormati. Pemilihan kepada desa atau lurah misalnya. Jika warga tidak sependapat dengan calon lurah yang ada (dan tidak mau memilihnya), maka ada bumbung kosong sebagai tempat aspirasi warga.
Saya mengkategorikan pilihan GOLPUT menjadi 3 bagian, golput karena acuh tak acuh (apatis), golput karena tidak ada pilihan yang sesuai, dan golput karena aspirasi politik tidak tersalurkan karena kekecewaan terhadap sistem yang ada. Menunjuk pada definisi ini, maka Gus Dur dapat dikategorikan dalam tipe yang terakhir.
So, terlepas dari kelebihan dak kekurangan dari Mega ataupun SBY, dengan rendah hati saya mengatakan untuk tidak memilih mereka. Bukan pada tempatnya disini jika saya membahas apa-apa saja kekurangan Mega maupun SBY sehingga saya tidak memilih mereka. Tapi tentu saja, saya tetap menghormati siapapun nanti yang keluar sebagai pemenang, dan menjadi presiden Republik tercinta ini.
Jadi, kepada rekan-rekan yang memilih besok, saya ucapkan selamat memilih ! Semoga pilihan-pilihan kita (termasuk GOLPUT) sesuai dengan apa yang terbersit di hati nurani kita.
Selamat memilih !
Mataram, 19 September 2004
