Catatan Sang Petualang

September 19, 2004

Mentertawai Kepahitan Hidup dengan Jazz dan Blues

Filed under: Uncategorized

Saya sangat menyukai black music, at least yang diasosiasikan dengan black culture, seperti blues, jazz atau reggae (kecuali rap). Dua yang saya sebut pertama sering mendominasi musical taste saya, sampai saat ini.

Ayah saya, seorang penikmat blues dan jazz (dia yang pertama kali memperkenalkan saya dengan blues melalui lengkingan gitar Jimmy Hendrix), selalu bicara bahwa blues adalah sebuah soul music, the real soul music. Saya tak membantahnya, terlepas bahwa segala jenis musik tentu lahir dari sebuah pemicu di hati (what can I say?), tapi tentu kadang-kadang kita bisa menilai mana lagu dan melodi yang benar-benar membuat kita bergetar dan merinding, dan mana yang biasa-biasa saja.

New Orleans sering disebut-sebut sebagai tempat cikal bakal lahirnya musik Jazz, dimana para budak kulit hitam memainkan musik untuk mengisi waktu senggang mereka selepas bekerja di ladang-ladang kapas yang kering. Dengan native mereka sebagai orang Afrika yang kaya akan bunyi-bunyian dan musik ritmis, muncullah musik jazz yang begitu kaya dan unik. Ketika para budak kulit hitam ini mulai bebas dan menyebar di seantero Amerika setelah era Perang Sipil dan Emansipasi, maka mereka mulai mencari nafkah dengan memainkan musik, yang kemudian berkembang menjadi blues music.

Mengapa disebut blues ? Ya, benar perkiraan anda. Musik dan lirik blues benar-benar dihasilkan dari suasana hati yang meradang, meratap, berteriak tentang situasi sehari-hari. Berbeda dengan kita yang mengistilahkan masa-masa kelam dengan istilah ‘kelabu’, maka orang Barat mewarnai kesedihan dan kepahitan dengan warna biru, ‘blue. Apakah anda bisa membayangkan ketika seorang budak kulit hitam di masa lalu, teringat akan kepedihannya jauh dari kampung halaman dan tertindas, di tengah ladang-ladang kapas, kemudian meneriakkan semua perasaannya dalam sebentuk musik yang getir, magis, namun sangat indah ? Itulah blues, kata ayah saya, dan itulah jazz, lanjutnya lagi. Mendengar melodi-melodi blues dari gitar yang saling susul menyusul, meraung dan mengerang, seperti lirik salah satu lagu blues tertua yang berkata :

Two nineteen done took my baby away,
Two nineteen took my babe away,
Two seventeen gonna bring her back some day.

Sebuah musik yang benar-benar berasal dari hati ! Itulah yang saya sukai dari Blues dan Jazz, disamping rasa egaliter yang kental dalam musik ini. Kalau kemudian dalam perkembangannya, jazz dan blues menjadi (seolah-olah) konsumsi high-class, yang kemudian dibungkus dengan canggih oleh industri musik menjadi sebuah komoditi yang eksklusif, ya itu sah-sah saja di mata saya. Tapi kembali lagi, menikmati musik jazz & blues dan membaca native yang ada di dalamnya, yang kita temukan adalah sebuah soul music yang kental dengan nuansa egaliter dan semangat pembebasan. Semangat pembebasan dalam jazz ditandai dengan adanya session improvisasi dalam setiap lagu, dimana seorang pemain memainkan penafsirannya terhadap lagu (dengan alat musiknya tentu saja), tetapi tetap dalam koridor permaian bersama. Semangat egaliter adalah ketika setiap pemain saling berkomunikasi melalui alat musiknya. Itulah nuansa-nuansa jazz yang tidak dimiliki oleh jenis musik lain, dan setiap orang berhak menikmati nuansa-nuansa tersebut dalam musik ini.

Jazz adalah musik rakyat Amerika, disamping country. Bisa sedikit dianalogikan dengan musik dangdut buat orang Indonesia. Jazz sangat lentur dan fleksibel, dan mudah untuk berinteraksi dengan jenis musik lain. Karenanya kita sering mendengar istilah jazz rock, acid jazz, cuban jazz, hip-hop, mainstream dan lain-lain dengan tokoh-tokoh seperti Dizzie Gillespie, Louie “Si Terompet Maut” Armstrong, Chick Corea, Nat Cing Cole, All Jarreau, Bob James, Lee Ritenour, hingga ke era Diana Krall dan Norah Jones. Untuk Indonesia, kita bisa menyebut beberapa diantaranya seperti almarhum Jack Lesmana, Karimata, Krakatau, Indra Lesmana, Syaharani dan si bakat besar dunia jazz Indonesia, Andien.

Nama yang terakhir, kebetulan, saya ingat, karena sempat berkorespondensi dengan email beberapa tahun lalu, karena Andien adalah user di RAD-Net (salah satu ISP terbesar di Indonesia) waktu itu dan saya adalah salah satu webmaster di RAD-Net.

So, rilleks-kan pikiran anda, nikmati secangkir kopi kental, dan buang keluar semua keruwetan dunia sambil tersenyum dengan jazz dan blues ! Bukankah hal yang paling indah dan mengasyikkan adalah tersenyum dan tertawa atas semua kegetiran dan kepahitan yang telah singgah di hidup kita ?

Jadi, sambil meneguk sisa-sisa espresso, saya harus tutup tulisan ini sambil mendengar My Funny Valentine yang dinyanyikan oleh Andien. Di track berikutnya sudah menunggu Diana Krall dan Norah Jones J

Batu Hijau, Medio September 2004

Jody Ananda

GOLPUT, sebuah pilihan ?

Filed under: Politik

Kepada teman-teman yang sering menanyakan pilihan saya pada PEMILU putaran dua nanti, saya kerap menyatakan kalau saya GOLPUT, alias tidak memilih. Sebagian besar menyalahkan saya, sebagian kecil menyayangkan, dan sebagian kecil (lagi) diam, tapi ikut pula menyayangkan.

Salahkah orang-orang, yang seperti saya, memilih untuk tidak memilih, alias GOLPUT ?

Tidak ada norma salah dan benar dalam politik, apalagi dalam sebuah koridor demokrasi. Di Amerika Serikat, jumlah partisipasi politik warga negara dalam PEMILU tidak pernah melebihi 50%, bahkan cenderung kurang. Ini tercermin dalam betapa sulitnya untuk mencari juri-juri dalam pengadilan, karena juri-juri dipilih dari citizen yang namanya terdaftar dalam daftar pemilih, dan tentu saja ikut memilih. Dus, sebagai negara kampiun demokrasi seperti itu saja, demokrasi tetap berjalan dengan mulus di negara adidaya tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia ? Memang, kita masih belajar dalam berdemokrasi. Ibarat bayi, kita masih dalam tahap merangkak, belum sampai tahap berjalan. Dalam praktek budaya kita pun, hak untuk tidakmemilih juga dihormati. Pemilihan kepada desa atau lurah misalnya. Jika warga tidak sependapat dengan calon lurah yang ada (dan tidak mau memilihnya), maka ada bumbung kosong sebagai tempat aspirasi warga.

Saya mengkategorikan pilihan GOLPUT menjadi 3 bagian, golput karena acuh tak acuh (apatis), golput karena tidak ada pilihan yang sesuai, dan golput karena aspirasi politik tidak tersalurkan karena kekecewaan terhadap sistem yang ada. Menunjuk pada definisi ini, maka Gus Dur dapat dikategorikan dalam tipe yang terakhir.

So, terlepas dari kelebihan dak kekurangan dari Mega ataupun SBY, dengan rendah hati saya mengatakan untuk tidak memilih mereka. Bukan pada tempatnya disini jika saya membahas apa-apa saja kekurangan Mega maupun SBY sehingga saya tidak memilih mereka. Tapi tentu saja, saya tetap menghormati siapapun nanti yang keluar sebagai pemenang, dan menjadi presiden Republik tercinta ini.

Jadi, kepada rekan-rekan yang memilih besok, saya ucapkan selamat memilih ! Semoga pilihan-pilihan kita (termasuk GOLPUT) sesuai dengan apa yang terbersit di hati nurani kita.

Selamat memilih !

Mataram, 19 September 2004

Jody Ananda






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here