Catatan Sang Petualang

September 30, 2004

Dan Kata-kata pun tak Mampu Melukiskan

Filed under: Puisi

Bom Kuningan

Ada saat,
Dimana kata, hanya sekedar kata,
Diam, tak mampu mengusung makna,
Atas sebuah peristiwa,
Yang terjadi di depan mata.

Ada saat,
Dimana hati, –tak bisa bicara–,
Ketika menyaksikan kebiadaban yang kelewat batas,
Dipertontonkan bagai sebuah kisah sandiwara,
Hanya saja sandiwara ini tak kan mungkin berulang,
Dan para pelakon menjadi mayat-mayat,
Yang tak ’kan bangkit kembali membuka mata.

Ada kata-kata yang terdengar : ”Manuela,..”
Hatiku tak mampu membisikkan nama-mu,
Yang tenggelam dalam tawa sang Rahwana,
membiru dendam, menghanguskan keceriaan,
di pagi yang cerah.

Ada ratap tangis, dan jutaan mata basah oleh airmata,
”Haruskah kembali ledakan, demi ledakan, menghancurkan
negeri ini ?” jerit batinku,
Sang Iblis berpesta di angkasa,
Hatiku masih saja meneriakkan ”Manuela, ”,
Ketika kutatap sosokmu yang lemah dan berdarah,
Digotong sang penolong yang perkasa.

Manuela,
Sungguh aku tak mampu melukiskan,
Dengan kata-kata yang biasa ’ku jalin,
Kata-kata yang biasa kujadikan sahabat,
Kata-kata bersayap yang membumbung tinggi di angkasa,
Ketika berbicara cinta dan kebahagiaan,
Dan terperosok dalam kehampaan,
Ketika berbicara tentang luka dan derita.

Manuela,
Sungguh aku tak mampu melukiskan,
Dengan kata-kata ataupun ungkapan,
Iblis yang telah merenggut senyummu,
Di pagi yang kelabu.

Untuk : Elisabeth Manuela Bambina Musu, dan para korban Bom Kuningan 9 September 2004

Batu Hijau, 10 September 2004
Jody Ananda

September 25, 2004

Filsafat dan Dian Sastro

Filed under: SosBud, Umum


Kalau anda membaca judul diatas, mungkin bertanya dalam hati, ”Memang ada hubungan antara filsafat dan Dian Sastro ? ”. ”Ada !”, kata beberapa orang yang mungkin pernah membaca mengenai riwayat si pelakon sinema AADC ini dan mengetahui bahwa si cantik ini memang mahasiswa filsafat di Universitas Indonesia. Terlepas dari ”aneh dan uniknya” pilihan jurusan yang di ambil Dian, kita acungi jempol atas kegairahannya untuk menjelajahi basis-basis pemikiran rumit dari sebuah ilmu yang bernama filsafat, yang orang-orangnya mungkin tidaklah fotogenik (he..he.. saya membayangkan kalau Dian bersanding dan mewawancarai model-model orang seperti Marx, Hegel atau mungkin Gramsci, hmm..must be pretty much weird !).

Saya tertarik dengan filsafat sejak kelas 2 SMA (ini memang diawali dengan hobby saya yang gemar membaca dari sekolah dasar dulu) di pertengahan 1992 (jadi jauh sebelum Dian Sastro terkenal ya, kalau ada anggapan bahwa saya tertarik dengan filsafat karena Dian Sastro, lol). Dari mulai yang ringan-ringan seperti teologi pembebasannya Paolo Frerie, Sartre, Freud, al-Banna, Hassan Hanafi, sampai dengan yang ”berat-berat” seperti Marx, Hegel, Ibnu Rusyd dan Ibnu Arabi. Yang saya maksud dengan berat adalah resiko atas keyakinan yang bisa berubah (dari sisi iman dan akidah), yang tentu dalam pandangan saya sangat berat. Dus, mana ada sih bagian filsafat yang dianggap ringan ? Ada juga seorang rekan yang saya masih ingat sampai sekarang, Guswandi, yang juga tertarik dengan filsafat pada waktu itu, dan kita bisa menjadi teman diskusi yang sama-sama ”gila” J

Maka dari pengembaraan pemikiran saya sekian lama itu, bahkan pernah saya menjadi ”atheis” secara pemikiran (ketika waktu SMP saya membaca novel ”Atheis” karangan Achdiat Kartamiharja, saya masih belum bisa menangkap idea ketika Hasan sang tokoh utama yang tadinya sangat religius, akhirnya menjadi atheis). Sampai saya bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran dari Marx dan Feurbach. Untunglah periode itu tidak berapa lama, karena ada rekan-rekan yang akhirnya ”menyelamatkan” pemikiran saya yang sempat mereka bilang gila. Salah seorang, kalau boleh saya sebut disini, adalah sahabat saya Agus Subhan Akbar, yang punya kajian cukup mendalam terhadap filsafat sufistik Al-Ghazali dan Ibnu Arabi.

Gila ? Yes, you’re damn right ! Jika anda masuk ke dalam filsafat, anda akan bisa ”gila” (at least secara pemikiran). Kalau tidak, pasti rekan-rekan anda yang akan bilang anda gila ! (Dalam kasus Dian Sastro, dia sendiri mengakui bahwa pilihannya terhadap filsafat adalah pilihan yang ”gendheng” alias gokil alias gila, dan dalam kasus ini Dian sempat ”menyalahkan” bahwa itu adalah penyakit turunan dari almarhum ayahnya,..ha..ha..ha.. bisa aja Dian !). Tapi kalaupun begitu, kita bisa bilang Dian Sastro adalah orang gila yang cantik !

Ketika berkunjung ke markas LkiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial, salah satu tokohnya waktu itu Mas Sastro Ngatawi, sekarang ditulis Al-Zastrouw biar lebih keren katanya) di Jogja, saya pun menemukan sebagian orang-orangnya adalah orang-orang ”gila”. Syafiq, rekan saya yang Ketua Senat IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 1996-an, bisa berjam-jam menguraikan filsafat materialisme historis-nya Marx dengan sangat baik dan ahli, mungkin kalau Marx masih hidup dia pun akan tercengang-cengang, dan mungkin akan bingung karena semua itu keluar dari mulut seorang eks santri Gontor !

Sederhananya, filsafat adalah sebuah proses dialektika (baca : proses untuk mempertanyakan sesuatu secara terus menerus), yang berusaha menemukan tesa, mengkritiknya dengan anti-tesa, yang kemudian menjadi sintesa. Sintesa ini kemudian diulang kembali prosesnya melalui rantai dialektika yang lain.

Hey, are you still there ? Semoga tulisan saya tidak menjadi terlalu berat, karena memang bukan itu maksud tujuan tulisan ini. By the way, ketika menjadi pemred Swara Mahasiswa di ITS, saya sempat menulis beberapa artikel untuk menjelaskan filsafat secara populer, yang saya beri nama Pojok Filsafat.

Oke kita lanjut lagi. Salah satu alat dalam filsafat adalah logika, logics. Saya tidak mengatakan bahwa kalau anda tidak suka dan emoh dengan filsafat, anda berarti tidak memiliki logika. Tentu tidak. Logika sudah sering kita pakai sehari-hari untuk menjelaskan hubungan sebab akibat. (Pernyataan paling umum mungkin adalah ”tidak ada asap, jika tidak ada api”, ”benda yang dilempar keatas, pasti jatuh kebawah”, dll, walaupun rekan saya dari Jurusan Fisika mengatakan asap bisa timbul tanpa api, tapi melalui fried ice).

So, dalam filsafat, logika anda nanti akan dikembangkan lebih lanjut dengan metodologi yang tentunya beraneka ragam. Dari sini, nantinya, kita akan lebih mudah untuk memahami alur pemikiran-pemikiran besar dalam sejarah, yah paling tidak walaupun tidak sampai 100 persen, tapi cukup untuk memahami streamline dari pemikiran tersebut.

Kadang, beberapa rekan bertanya, ”Jod, elu mahasiswa Teknik Informatika atau Filsafat ? ”. Bukan, saya bukan mahasiswa filsafat, Dian Sastro yang mahasiswa jurusan Filsafat. Saya hanya ”penikmat” Dian Sastro (jangan berpikiran macam-macam, maksudnya saya pun menikmati dan memuji aktingnya yang bagus di AADC), dan juga ”penikmat” dan pemerhati sebuah ilmu yang bernama filsafat. Jadi saya sarankan anda untuk bertanya ke Dian dalam masalah filsafat, bukan ke saya ! (Saya membayangkan bagaimana rupanya Dian kalau berbicara filsafat ya ?Ah, it’s just the same absolutely, the same Dian. Right, Dian ? )

Toh, filsafat juga tidak membuat Dian dan saya menjadi bertampang seperti Plato atau Marx yang serius dan ”garang” ! Ha..ha..ha..lihat saja Dian yang selalu cool dan funky ketika membawakan Panasonic Cinema. Dan saya ? Ah, kalau saya segarang Marx, tentunya sudah lama polisi menangkap saya, dan saya tidak bisa menikmati suara seraknya Sarah Vaughan yang jazz banget, karena jazz adalah produk kapitalis.

Saya hanya merasa beruntung pernah sempat mempelajari filsafat, dan itu membuat pisau analisa saya, paling tidak, lebih tajam ketika menganalisa persoalan-persoalan hidup ini, baik pribadi maupun umum. Saya yakin , Dian punya pendapat yang sama.

Well, suara mendayu-dayu Diana Krall menyanyikan ”Stop This World” sudah mulai habis, and I have to stop these words !

Selamat berfilsafat ria !

Mataram, 25 September 2004
Jody Ananda

September 19, 2004

Mentertawai Kepahitan Hidup dengan Jazz dan Blues

Filed under: Uncategorized

Saya sangat menyukai black music, at least yang diasosiasikan dengan black culture, seperti blues, jazz atau reggae (kecuali rap). Dua yang saya sebut pertama sering mendominasi musical taste saya, sampai saat ini.

Ayah saya, seorang penikmat blues dan jazz (dia yang pertama kali memperkenalkan saya dengan blues melalui lengkingan gitar Jimmy Hendrix), selalu bicara bahwa blues adalah sebuah soul music, the real soul music. Saya tak membantahnya, terlepas bahwa segala jenis musik tentu lahir dari sebuah pemicu di hati (what can I say?), tapi tentu kadang-kadang kita bisa menilai mana lagu dan melodi yang benar-benar membuat kita bergetar dan merinding, dan mana yang biasa-biasa saja.

New Orleans sering disebut-sebut sebagai tempat cikal bakal lahirnya musik Jazz, dimana para budak kulit hitam memainkan musik untuk mengisi waktu senggang mereka selepas bekerja di ladang-ladang kapas yang kering. Dengan native mereka sebagai orang Afrika yang kaya akan bunyi-bunyian dan musik ritmis, muncullah musik jazz yang begitu kaya dan unik. Ketika para budak kulit hitam ini mulai bebas dan menyebar di seantero Amerika setelah era Perang Sipil dan Emansipasi, maka mereka mulai mencari nafkah dengan memainkan musik, yang kemudian berkembang menjadi blues music.

Mengapa disebut blues ? Ya, benar perkiraan anda. Musik dan lirik blues benar-benar dihasilkan dari suasana hati yang meradang, meratap, berteriak tentang situasi sehari-hari. Berbeda dengan kita yang mengistilahkan masa-masa kelam dengan istilah ‘kelabu’, maka orang Barat mewarnai kesedihan dan kepahitan dengan warna biru, ‘blue. Apakah anda bisa membayangkan ketika seorang budak kulit hitam di masa lalu, teringat akan kepedihannya jauh dari kampung halaman dan tertindas, di tengah ladang-ladang kapas, kemudian meneriakkan semua perasaannya dalam sebentuk musik yang getir, magis, namun sangat indah ? Itulah blues, kata ayah saya, dan itulah jazz, lanjutnya lagi. Mendengar melodi-melodi blues dari gitar yang saling susul menyusul, meraung dan mengerang, seperti lirik salah satu lagu blues tertua yang berkata :

Two nineteen done took my baby away,
Two nineteen took my babe away,
Two seventeen gonna bring her back some day.

Sebuah musik yang benar-benar berasal dari hati ! Itulah yang saya sukai dari Blues dan Jazz, disamping rasa egaliter yang kental dalam musik ini. Kalau kemudian dalam perkembangannya, jazz dan blues menjadi (seolah-olah) konsumsi high-class, yang kemudian dibungkus dengan canggih oleh industri musik menjadi sebuah komoditi yang eksklusif, ya itu sah-sah saja di mata saya. Tapi kembali lagi, menikmati musik jazz & blues dan membaca native yang ada di dalamnya, yang kita temukan adalah sebuah soul music yang kental dengan nuansa egaliter dan semangat pembebasan. Semangat pembebasan dalam jazz ditandai dengan adanya session improvisasi dalam setiap lagu, dimana seorang pemain memainkan penafsirannya terhadap lagu (dengan alat musiknya tentu saja), tetapi tetap dalam koridor permaian bersama. Semangat egaliter adalah ketika setiap pemain saling berkomunikasi melalui alat musiknya. Itulah nuansa-nuansa jazz yang tidak dimiliki oleh jenis musik lain, dan setiap orang berhak menikmati nuansa-nuansa tersebut dalam musik ini.

Jazz adalah musik rakyat Amerika, disamping country. Bisa sedikit dianalogikan dengan musik dangdut buat orang Indonesia. Jazz sangat lentur dan fleksibel, dan mudah untuk berinteraksi dengan jenis musik lain. Karenanya kita sering mendengar istilah jazz rock, acid jazz, cuban jazz, hip-hop, mainstream dan lain-lain dengan tokoh-tokoh seperti Dizzie Gillespie, Louie “Si Terompet Maut” Armstrong, Chick Corea, Nat Cing Cole, All Jarreau, Bob James, Lee Ritenour, hingga ke era Diana Krall dan Norah Jones. Untuk Indonesia, kita bisa menyebut beberapa diantaranya seperti almarhum Jack Lesmana, Karimata, Krakatau, Indra Lesmana, Syaharani dan si bakat besar dunia jazz Indonesia, Andien.

Nama yang terakhir, kebetulan, saya ingat, karena sempat berkorespondensi dengan email beberapa tahun lalu, karena Andien adalah user di RAD-Net (salah satu ISP terbesar di Indonesia) waktu itu dan saya adalah salah satu webmaster di RAD-Net.

So, rilleks-kan pikiran anda, nikmati secangkir kopi kental, dan buang keluar semua keruwetan dunia sambil tersenyum dengan jazz dan blues ! Bukankah hal yang paling indah dan mengasyikkan adalah tersenyum dan tertawa atas semua kegetiran dan kepahitan yang telah singgah di hidup kita ?

Jadi, sambil meneguk sisa-sisa espresso, saya harus tutup tulisan ini sambil mendengar My Funny Valentine yang dinyanyikan oleh Andien. Di track berikutnya sudah menunggu Diana Krall dan Norah Jones J

Batu Hijau, Medio September 2004

Jody Ananda

GOLPUT, sebuah pilihan ?

Filed under: Politik

Kepada teman-teman yang sering menanyakan pilihan saya pada PEMILU putaran dua nanti, saya kerap menyatakan kalau saya GOLPUT, alias tidak memilih. Sebagian besar menyalahkan saya, sebagian kecil menyayangkan, dan sebagian kecil (lagi) diam, tapi ikut pula menyayangkan.

Salahkah orang-orang, yang seperti saya, memilih untuk tidak memilih, alias GOLPUT ?

Tidak ada norma salah dan benar dalam politik, apalagi dalam sebuah koridor demokrasi. Di Amerika Serikat, jumlah partisipasi politik warga negara dalam PEMILU tidak pernah melebihi 50%, bahkan cenderung kurang. Ini tercermin dalam betapa sulitnya untuk mencari juri-juri dalam pengadilan, karena juri-juri dipilih dari citizen yang namanya terdaftar dalam daftar pemilih, dan tentu saja ikut memilih. Dus, sebagai negara kampiun demokrasi seperti itu saja, demokrasi tetap berjalan dengan mulus di negara adidaya tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia ? Memang, kita masih belajar dalam berdemokrasi. Ibarat bayi, kita masih dalam tahap merangkak, belum sampai tahap berjalan. Dalam praktek budaya kita pun, hak untuk tidakmemilih juga dihormati. Pemilihan kepada desa atau lurah misalnya. Jika warga tidak sependapat dengan calon lurah yang ada (dan tidak mau memilihnya), maka ada bumbung kosong sebagai tempat aspirasi warga.

Saya mengkategorikan pilihan GOLPUT menjadi 3 bagian, golput karena acuh tak acuh (apatis), golput karena tidak ada pilihan yang sesuai, dan golput karena aspirasi politik tidak tersalurkan karena kekecewaan terhadap sistem yang ada. Menunjuk pada definisi ini, maka Gus Dur dapat dikategorikan dalam tipe yang terakhir.

So, terlepas dari kelebihan dak kekurangan dari Mega ataupun SBY, dengan rendah hati saya mengatakan untuk tidak memilih mereka. Bukan pada tempatnya disini jika saya membahas apa-apa saja kekurangan Mega maupun SBY sehingga saya tidak memilih mereka. Tapi tentu saja, saya tetap menghormati siapapun nanti yang keluar sebagai pemenang, dan menjadi presiden Republik tercinta ini.

Jadi, kepada rekan-rekan yang memilih besok, saya ucapkan selamat memilih ! Semoga pilihan-pilihan kita (termasuk GOLPUT) sesuai dengan apa yang terbersit di hati nurani kita.

Selamat memilih !

Mataram, 19 September 2004

Jody Ananda






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here