Catatan Sang Petualang

May 30, 2004

MAK, ANAKMU DISINI

Filed under: Puisi


MAK, ANAKMU DISINI….!!
(I)

Mak, anakmu disini,
Mencoba meraih segenggam harapan,
Yang selalu engkau hembuskan,
Dari hari ke hari.

Mak, anakmu disini,
Jauh dari sisimu, mencoba menatap mentari,
Dan menempuh malam-malam panjang yang sunyi,
Sambil menunggu, apakah mentari besok ‘kan kembali,
Dan selaksa pagi seolah-olah bergema dan menari-nari,
Di hadapan diri ini.

Mak,
Aku selalu rindu sinar matamu yang teduh,
Saat cahaya hidupmu masih terang benderang,
Bersinar-sinar terangi hidupku, Mak,

Aku selalu ingat saat kau berpeluh,
Bergerak dengan sigap laksana perwira perang,
Mengurus kami yang seolah tak bosan untuk minta perhatianmu.

Mak, kini cahaya hidupmu mulai memudar,
Seiring usia dan zaman yang akan terus berputar,
Dan Sang Waktu yang tersenyum sinis, kaku dan bisu.
Andai mampu,
Aku ‘kan membeli seisi dunia, Mak,
Dan menukarnya dengan cahaya hidup,
yang akan kuberikan padamu.

Mak, anakmu disini,
Mencoba mencari cahaya hidup,
Yang selalu kau berikan padaku.

*jabier*
Batu Hijau, May 2001

- Untuk Ibunda.


MAK, ANAKMU DISINI….!!
(II)

Mak, anakmu disini,
Bersembunyi dibalik jubah mentari,
Dan menghitung, –hari demi hari–,
Untuk bisa berjumpa denganmu kembali.

Mungkin engkau bertanya,
Kapankah waktu itu..??
Dan aku pun bertanya hal yang sama.

Maka biarkanlah Sang Mentari,
Yang mengatakannya padamu.

*jabier*
Batu Hijau, Juli 2001

Sajak Untuk Ibunda

Filed under: Umum, Puisi

Banyak penyair dan penulis berbicara mengenai ibunda mereka,dan mengungkapkannya dalam karya-karya. Sosok ibunda adalah inspirasi yang juga tak kan pernah putus mewarnai hidup kita, sama seperti Cinta itu sendiri.

Ibu saya adalah seorang wanita yang keras dalam mendidik anak-anaknya, penuh disiplin layaknya dalam militer. Semua hal harus dipikirkan dengan masak dan terencana, dan seperti layaknya seorang ahli strategi ulung, beliau selalu punya rencana cadangan terhadap semua hal : waktu piknik, sekolah, bermain (pun ada waktu-nya dan harus on-time), dan lain-lain. Satu hal yang tentu saja, sangat tidak kami sukai pada waktu kami kecil dulu, apalagi pada waktu kami semua ABG dan sudah mulai berani mempertontonkan “pemberontakan” kami..hehehehe :) )

Tapi, siapa yang bisa melawan ibu saya ? Hmm, bahkan kadang-kadang saya berpikir, Tuhan sendiri pun akan kalah berdebat dengan ibu saya :)

Sajak-sajak ini saya tulis ketika dalam masa kesendirian saya di Sumbawa, jauh dari keluarga dan handai taulan. Saya teringat ketika mencium kaki ibu saya sebelum berangkat ke Sumbawa untuk menerima pekerjaan baru di perusahaan tambang Newmont, dan pesan-pesan beliau-lah yang tetap membuat saya bertahan dalam kehidupan yang keras ini.

Inilah sajak-sajak tersebut.

Salam,

Jody Ananda






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here