Sekilas Tentang Penulis
Penulis bernama lengkap Jody Ananda, dilahirkan lebih kurang 30 tahun lalu di Dusun Besar Jakarta, pada November 1975. Akrab dipanggil Jabier atau Mas Jabier, penulis menghabiskan masa kecil sampai dengan SMA di Jakarta, sebelum kemudian hijrah ke Surabaya untuk melanjutkan kuliah di ITS, Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Jurusan Teknik Informatika.
Sejak SMP sudah hobi membaca dan menulis, baik puisi dan tulisan ilmiah. Salah satu karangannya dengan tema “Produksi Indonesia” berhasil memenangkan peringkat pertama dalam Lomba Karya Tulis yang diadakan oleh BPPT. Disitulah, dia, untuk pertama kali, bertemu dengan sang Putera Mahkota Sains Indonesia, BJ Habibie, yang sampai saat ini dikaguminya sebagai orang Indonesia yang cerdas dan berani melakukan perubahan. Kesenangannya akan kehidupan organisasi membuatnya berkiprah dalam berbagai kegiatan dan aktivitas organisasi, dari mulai OSIS SMP, SMA, hingga jabatan puncak dalam lingkup mahasiswa ITS sebagai Senator Senat Mahasiswa ITS. Di ITS juga, hobinya berteater dan berdiskusi mendapat tempat : mendirikan UK Teater ITS dan mementaskan beberapa naskah dan aktif dalam embrio pergerakan mahasiswa ITS yang sering disebut sebagai GPK (Gerakan Penghuni Kantin) ITS. Beberapa puisinya dikumpulkan dalam antologi “Sajak-sajak dibawah Telapak”, “Antologi Tiyang Alit”, dan beberapa tercecer di website Cybersastra. Penulis juga adalah owner/moderator dari milis puisi-indonesia, sebuah milis untuk berdiskusi dan memposting karya-karya puisi dalam bahasa Indonesia.
Pada awalnya bercita-cita menjadi pilot, yang kemudian berubah menjadi dokter. “I will heal the whole word if I have just one, just one wish to God,..“. Kepekaan sosialnya yang tinggi menjadikannya sangat “merah”, kiri, dan anti-penindasan. Masa kecilnya juga diwarnai dengan diskusi-diskusi politik kecil yang kerap terjadi dirumahnya yang kecil, dan pendapat-pendapat ayahnya dalam masalah politik kerap mempengaruhinya dalam langkah selanjutnya. Ada seorang figur, Bang Ujang, dalam diskusi-diskusi itu, yang sering diingatnya sebagai seorang yang memiliki wawasan yang sangat dalam dan pengalaman hidup yang beragam. Dalam masa pencarian jati dirinya, sempat menjadi sangat agnostik dan atheis, walaupun akhirnya kembali ber-syahadat yang diakuinya tidak lagi dengan lisan, tapi dengan hati. Ibundanya tercinta kerap berujar sebuah sitiran dari ucapan Bung Karno : “tidak boleh ada l’explotation de’l home par l’homme.” Atas nama apapun, penindasan di atas dunia ini harus dihapuskan.
Mengagumi Muhammad SAW sebagai patron, Muhammad Iqbal, Khalil Gibran, Soekarno, Tan Malaka, dan Soe Hok Gie. Sedang Che Guevarra, selalu mendapat tempat di hatinya sebagai seorang pejuang pembebasan feodalisme dan penindasan.
Karier IT-nya dimulai di Surabaya, bekerja pada sebuah konsultan PT PELNI, kemudian dilanjutkan ke Jakarta (RAD-Net), Newmont Nusa Tenggara di Sumbawa dan terakhir ini di Bali.
Penulis menutup sekilas bio ini dengan mengutip sebuah quote : “Sepercik tentang dirimu, membuatku tak keliru menilaimu.”
Salam,
Jody Ananda aka jabier aka poetic_adv
Email : poetic_adv@yahoo.com
