Catatan Sang Petualang

February 27, 2006

Blog Moving

Filed under: Umum

From now, I have managed to move this blog to a more ‘real’ and serious (of couse, does not mean that using a free service like blogsome is not serious) address at http://www.jodyananda.com

Welcome !

Salam dari Sanur

Jody Ananda aka Mas Jabier

February 8, 2006

Kevin’s Birthday

Filed under: Umum, English Section

Today is my son’s birthday. Kevin is getting 2 years old now, you can not imagine the speed of time when you just get there. Simply, just get into the situation.

He was born 2 years ago on this date, on Sunday. I still remembered that day. I was sitting in my father-in-law berugaq (a small sitting are with alang-alang roof made) , doing a chit chat with my wife talking and waiting for our transport driver that would take me to Sumbawa. My lovely wife had already take her maternity leave a week before.

Suddenly she shouted, and the first process of giving birth begin. Kevin was born around 7 o’clock PM.
We name it Kevin, from a Gaelical-AngloSaxon word, which means : handsome and blessed. While Torvaldi comes from my adoration to Linus Torvalds, the Linux creator. (Somehow, when I look at Ubuntu Linux Distribution today, which also cover the Edubuntu, a special project specific to Education using Linux, I saw several attractive educational programs. Maybe I’ll get my Ubuntu for Kevin, later.)

Happy Birthday, Kevin ! We’ve just bought you a new Laptop for you, and Ubuntu will be next :)
Here, you can find some of his pics !

Gitaris On his 1st birthday celebration Sambutan Artis Smiling with his Mom Having a bath With Daddy

Salam dari Sanur,

Jody Ananda

February 6, 2006

God. Redefined.

Filed under: English Section

If you know yourself, then you will find God.” - Arabic Proverbs

There is a long road journey of mankind to find the absolute, the Divine Energy & Power that move the universe. Simply we call it God.

That roads and paths sometimes make conflicted with themselves, or the others. Then there comes religions and prophets. Lao Tze, Kong Fu Tze, Budha, Krishna, Moses, David, Jesus, Mohammed.

From religions came sects. Another called Ordo. Others call it sub-religion or sub-faith.

Why do we have to fight and insult others, if we have one destiny to be completed ?

Why do we have to kill each others, if God, in return, always gives hope and life to this world ?

Somehow, I hear my old wise friend voice : “Try to know about you. Knowing yourself, then you will find Him in you.”

Salam dari Sanur,

Jody Ananda

(Lagi) Tentang Ahmadiyah

Filed under: Agama, SosBud, Umum

My Wife
Saya membaca dengan seksama peristiwa pembakaran rumah-rumah warga penganut Ahmadiyah di Lingsar, Kodya Mataram Lombok karena dua hal : kebetulan lokasi kejadian masih dalam domain tempat tinggal saya, — dan saya pernah menulis mengenai Ahmadiyah.

Apa yang saya khawatirkan, bahwa nanti pasti terjadi tindakan anarkis dari masyarakat ternyata menjadi kenyataan. Dan sayangnya, pemerintah tidak pernah belajar dari kasus ini (ini sudah kali ketiga, sejak penyerangan Kampus Ahmadiyah di Parung).

Sekali lagi saya tekankan, saya tidak akan membahas Ahmadiyah dari sisi teologis, karena itu bagi saya itu sudah final .(lihat pembahasan saya disini)

Tentu, kita sama-sama menyayangkan aksi pembakaran ini. Agama adalah hak dasar dan asasi dari manusia, dan ketika umat Islam bisa berlaku baik kepada umat beragama lain (Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, atau bahkan orang ateis), mengapa tidak bisa bertindak yang sama terhadap Ahmadiyah, yang notabene masih menjalankan shalat, zakat dan puasa ? Terlepas dari keyakinan i’tiqadiah yang berbeda, bisakah kita memperlakukan mereka sebagai agama yang berbeda ?

Mungkin ini yang seharusnya menjadi peran pemerintah. Berikan tawaran kepada Ahmadiyah jika masih ingin mendapatkan hak-hak seperti agama lainnya :

  • Lepaskan baju Islam dari Ahmadiyah
  • Jadikan Ahmadiyah sebagai agama baru (sama seperti Kong Hu Cu, dll, dan menegaskan bahwa tidak ada kaitan sama sekali antara Islam dan Ahmadiyah

Saya yakin, dua hal ini juga akan memuaskan Ahmadiyah, dan juga bagi warga yang merasakan aktivitas dakwah Ahmadiyah yang mengkhawatirkan akan menggerogoti sendi-sendi dasar Islam.

Labelled enemies are easier to be kept.

Salam dari Sanur,

Jody Ananda

February 2, 2006

Kisruh Kartun Nabi Muhammad SAW

Filed under: Agama, SosBud

soe
Beberapa hari terakhir, terjadi situasi yang ‘panas’ di Eropa sana, terutama mereka yang berkecimpung dalam pers dan/atau dunia kartun. Sebuah surat kabar terbitan Denmark, Jyllands Posten, memuat 12 karikatur politik yang sangat menyinggung umat Islam, dengan mengkarikaturkan Nabi Muhammad SAW.

Pemerintah Denmark, secara resmi melalui Mentri Luar Negeri sudah meminta maaf kepada umat Islam seluruh dunia, apalagi jika dikaitkan dengan aksi penutupan kedutaan besar Libya karena masalah ini.

Tapi yang sangat,–dan karena itulah blog ini saya tulis–, adalah komentar dari pihak oposisi Denmark atas nama kebebasan berekspresi dan media (saya kutipkan langsung buat anda disini) :

Opposition politicians reacted to this message with indignation. Jon Lilletun, the spokesman on foreign policy for the Christian-democrat Kristelig Folkeparti, points out that it is not the ministry’s task to express an opinion on the content of the cartoons. Carl I. Hagen, the leader of the Progress Party, fears that freedom of expression is being swept under the carpet.” - Brussel Journal

Mungkin Herr Kristelig lupa bahwa wilayah agama adalah hal yang sangat sensitif. Jangankan wilayah agama, bagaimana perasaan Herr Kristelig kalau saya mencoba mengkarikaturkan orang tuanya dengan tulisan : “Wow, we have a lot of virgins here in Danish village (fictious state)..!” atau gini aja deh, Herr Kristeligg saya gambarkan sebagai buronan nomor satu, lengkap dengan senjata & anting-anting di sebelah kanan ?

Anda bisa melihat kartun-kartun tersebut di alamat blog berikut : http://face-of-muhammed.blogspot.com/

Tersinggung ? Tentunya, kalau dia normal (dan kita normal) pasti akan berteriak dan memaki-maki. Kalau enggak, …well, don’t know what to say !

Islam tidak pernah mengekang kebebasan berekspresi, so there’s nothing swept away, Sir,..or buried under the carpet, though !

Saya yakin dengan kebebasan berekspresi dan kebebasan mengutarakan pendapat. Dua hal tersebut adalah pondasi dasar dari demokrasi modern.

Hanya saja, ekspresi dengan niat sengaja menyinggung orang lain, –dan dalam kasus kartun Nabi Muhammad ini, bahkan secara vulgar–, keyakinan agama orang lain sungguh suatu hal yang sangat tidak pantas dilakukan.

Tentu lain sifatnya jika kita mengkaji secara kritis dalam sebuah forum dan wacana ilmiah, bukan kartun-kartunan. Nabi adalah juga manusia biasa, dan dalam salah satu haditsnya yang terkenal adalah “Antum a’lamu biumuri dunyakum“. “Engkau lebih tahu dengan urusan duniamu “, ucapan ini terlontar ketika salah seorang sahabat menanyakan pada beliau tentang sesuatu masalah yang tidak diketahuinya. Pada perang Tabuk, bahkan Nabi menerima usul salah seorang sahabat, ketimbang pendapatnya sendiri. Intinya adalah, dalam wilayah dunia, peran Nabi adalah sama seperti manusia lainnya. Hanya saja, beliau SAW diberi wahyu dan risalah oleh Tuhan.

Allahumma shalli ‘ala rasuulika sayyidina Muhammad al-Musthafa, wa ‘ala aalihi washahbihi ajma’in.
Tuhanku, sampaikan salamku kepada utusan-Mu yang mulia, Muhammad SAW sang Pilihan, kepada segenap kaum keluarganya, dan sahabat-sahabatnya.

Salam dari Sanur,

Jody Ananda

February 1, 2006

Soe Hok Gie : Beberapa Sketsa Pemikiran (Bagian II)

Filed under: Politik, SosBud

soe
Lanjutan dari Bagian I

Humanisme
Dalam bukunya “Zaman Persimpangan”, nuansa humanisme dari Soe Hok Gie dapat kita baca dari beberapa sketsa tulisan yang ada. Kekecewaanya karena ikannya yang mati, dan Gie juga seorang penyayang binatang. Walau demikian ada yang sedikit paradoksal dalam dalam diri Soe Hok Gie (dan tentunya juga beberapa pemikir lain dalam sejarah) dengan cap sedikit anarkis. Mungkin kita bisa menyebutnya sebagai humanisme anarkis, dimana kadang-kadang kita terpikir untuk “menghancurkan saja isi dunia ini beserta seisinya” agar segala wabah penyakit, perang, dan lain-lain bisa hilang dari dunia ini.

Progressif Revolusioner

Gie adalah pemikir progressif, dan juga revolusioner. Walaupun dalam bidang sosial budaya dapat dikategorikan sebagai pemikir yang evolusioner, tapi dalam bidang politik pemikiran-pemikirannya sangat progresif, dan revolusioner.


Beberapa Kritik terhadap Soe Hok Gie

Mencoba mencermati pemikiran Soe Hok Gie tanpa melihat alur benang merah sejarah yang terjadi di tahun 1960-an sangatlah tidak mengena. Kondisi aktual yang terjadi saat itu justru dapat diambil sebagai dasar untuk memahami beberapa pemikirannya. Tahun 60-an ditandai dengan ciri humanisme universal, dalam bentuk gerakan anti perang (Vietnam, di Amerika), anti apartheid dan rasisme (Marthin Luther King, Malcom ‘X’ — juga di Amerika), teologi pembebasan model Freirie (Amerika Latin), Gerakan Gypsi di Amerika (dalam bidang kebudayaan), dan lain-lain. Pemikiran inilah yang membentuk suasana kebatinan yang dihadapi oleh Gie pada waktu itu.

Beberapa kritik yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut :

  • Beberapa pemikiran Soe Hok Gie kurang mendapat landasan pemikiran yang komprehensif. Ini bisa dimaklumi karena Gie, –karena usianya pendek–, tidak pernah menghasilkan sebuah buku khusus yang membahas pemikirannya secara lebih komprehensif dan terstruktur.
  • Kita kurang menemukan banyak pemikiran Soe Hok Gie yang langsung menyentuh tataran aplikasi atau level yang lebih operasional. Kebanyakan pemikirannya langsung berkutat ‘le grande design’, tataran konsep kenegaraan dan/atau humanisme universal.
  • Karena banyaknya bidang yang disinggungnya, mulai dari sosial, budaya, politik , maka pemikiran Soe Hok Gie menjadi agak kabur, tidak fokus pada mainstreamnya, yaitu pemikiran politik. Hal ini barangkali juga akan bisa dipecahkan jika saja Gie tidak mati muda.

Lepas dari itu semua, pemikiran-pemikiran Soe Hok Gie pantas mendapatkan decak kagum. Di kurun waktu itu, –dengan semangat pembebasan dan lainnya–, tidak dipungkiri, Gie adalah icon pada zamannya.

Salam dari Sanur,

Jody Ananda

Playboy van Indonesie

Filed under: Agama, SosBud, Umum

Demo BBM
Anda sulit mencari majalah Playboy ? Kalau perlu blusukan dulu –mungkin di jalan-jalan daerah Bronx New York sana–, sambil toleh kiri kanan ? Dan si penjual cuman senyum-senyum liat face kita yang Asia banget, dan kalau dia agak curious dia paling bilang “Got any ID, Sir..?? “.

Kalau enggak, ke Singapur, jalan ke Orchad road sana. Atau ya nitip teman yang di Amrik dan beli online di www.playboy.com.

Nah, beberapa waktu lagi, kita beli Playboy di toko pinggir jalan di Indonesia. Luar biasa kan ??

Saya tidak akan bicara polemik mengenai masalah Playboy disini, baik dari sisi teologi maupun fiqh (tafsir-hadits-ushul-dst), maupun sosial budaya. Anda tentu sudah mengerti peta dan pendapat dari kedua sisi tsb, dan itu tidak usah diperdebatkan lagi. Secara fiqh sudah final, jangankan melihat aurat ataupun ’separo’ aurat, memandang muka bukan muhrim dengan syahwat saja sudah masuk kategori haram. Jika anda kaum Adam (normal seperti saya, –maaf buat yang tidak normal) ada yang yakin ketika melihat lekuk tubuh Luna Maya atau Sarah Azhari di Popular — tanpa melibatkan syahwat ? Gak mungkin la yaww.

Dari sisi sosial dan atas nama kebebasan berekspresi pun sudah jelas. Saya tidak akan bicara itu. Saya akan bicara dari sisi sejarah.

Hugh Heffner, sang kreator Playboy –edisi pertamanya keluar di tahun 1953–, adalah seorang pria yang bisa melihat peluang bisnis atas sesuatu yang sudah berjalan ribuan tahun di bumi ini : sebuah pelarian seksual. Oasis. Dengan memuat gambar-gambar syur di majalah tersebut , langsung memantapkan brand image-nya sebagai majalah pria yang paling ‘most wanted’. Tulisan-tulisan di Playboy sendiri, merupakan tulisan-tulisan yang bagus (tidak melulu seks, ada cerpen, report, features, etc), dan bahkan beberapa writer terkenal Amerika pun pernah menulis di Playboy seperti Alex Haley dan Alvin Toffler. Ha ?Alvin Toffler yang nulis “Third Wave” itu ? Ya, iya lah. Do we have another Toffler ?

Heffner hanya memanfaatkan instink purba para pria (yang normal, tentu saja), dan kemudian membungkusnya dengan kemasan yang bagus dan taktik marketing yang oke. Kita masih ingat statemen Sigmund Freud yang terkenal : “libido seksual adalah faktor utama penggerak hidup ini“. Silakan sepakat dan tidak sepakat.

Playboy hanya memanfaatkan sesuatu yang memang sudah ada, dan berjalan ribuan tahun di bumi ini. Anda tahu apa profesi tertua di dunia ini (at least, kalau sempat mendengar, tentu tahu maksud saya ) ? Semuanya berujung pada sebuah kata : seks. Salah satu tafsir kitab suci yang pernah saya baca pun mengatakan bahwa ‘pengetahuan‘ (atau dalam istilah lain “pohon Khuldi” yang dimakan oleh Hawa) yang dilanggar Adam ketika di Surga adalah ‘pengetahuan regeneratif‘ (metode untuk melestarikan spesies), dan dalam kasus manusia itu hanya kembali pada satu kata : seks.

Needles to say, Playboy hanya memanfaat wacana sejarah yang sudah ada.
Jadi Playboy van Indonesie ? Kalau anda punya uang dan suka dengan cover edisi pertama ini, ya silakan beli saja.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

January 23, 2006

Surat Terbuka untuk Rektor ITS

Filed under: Politik, SosBud, Umum

Kepada Yth.
Bpk. Dr. Ir. Muhammad Nuh
selaku Rektor ITS
Di - Surabaya

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Mencermati kasus skorsing 14 mahasiswa ITS yang terjadi akhir-akhir ini, sebagai alumni kami tergerak untuk menyatakan sikap kami.

Skorsing terhadap tindakan yang diindikasikan sebagai melanggar, tanpa memberikan peringatan keras dan teguran sebelumnya sungguhlah sangat dzalim. Ditambah lagi apa yang mereka perbuat masih sangat terbuka untuk diperdebatkan sebagai melanggar.

Asas kemandirian organisasi mahasiswa hanya mensyaratkan pertanggungjawaban secara administratif kepada pihak birokrat kampus, baik di tingkatan Jurusan, Fakultas maupun Institut. Pertanggungjawaban mereka adalah kepada konstituen mahasiswa, melalui lembaga-lembaga seperti RUMJ dan atau Rapat Anggota.

Sangatlah tidak masuk akal kalau kemudian pihak birokrat Kampus mencampuri urusan-urusan perekrutan anggota, mekanisme organisasi atau urusan-urusan internal lain. Tindakan ini hanya membalikkan putaran jarum jam kembali ke zaman pra-reformasi, dimana pemerintah bahkan melakukan kooptasi terhadap organisasi pemuda dan mahasiswa.

Jika dahulu kami di tahun 1998 lalu, sebagai mahasiswa kami berteriak dengan kata-kata ‘menuntut’, ijinkanlah kami disini memperhalusnya menjadi ‘meminta’, dengan dilandasi semangat untuk membangun almamater kami,ibu yang luhur ITS.

Pokok-pokok pikiran kami adalah sebagai berikut:

  • Meminta anda, sebagai Rektor ITS untuk meninjau kembali keputusan skorsing yang dijatuhkan kepada 14 mahasiswa ITS dari jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi ITS.
  • Meminta pimpinan ITS untuk membuat aturan yang jelas dalam kaitannya dengan organisasi kemahasiswaan di ITS dan proses kaderisasi di dalamnya dengan melibatkan peran serta penuh mahasiswa dan menghormati asas kemandirian ORMAWA sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku.
  • Meminta pimpinan ITS untuk menghormati kemandirian organisasi mahasiswa ITS, dan sebaliknya mengajak organisasi mahasiswa untuk menjalankan kewajibannya memberikan pertanggungjawaban secara administratif kepada kepada pimpinan ITS, baik di tingkatan Jurusan, Fakultas maupun Institut.
  • Meminta peran aktif Ikatan Alumni ITS untuk dapat menjadi mediator dalam masalah ini. Urusan internal ITS sudah sepatutnya diurus sendiri oleh keluarga besar ITS, bukan oleh orang luar.

Demikian surat terbuka ini kami sampaikan, semoga kita diberi kekuatan oleh Tuhan YME untuk bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik, dalam semangat kekeluargaan dan ke-ITS-an.

Denpasar, Januari 2006

Cc :
Dr. Ir. Achmad Jazidie, PR III ITS
Pimpinan Fakultas Teknologi Informasi ITS
IKA ITS Pusat cq. Bpk. Ir. Kristiono
Media Massa
Milis ITS terkait

Alumni ITS yang memberikan persetujuan dan mendukung Surat Terbuka ini (diurut berdasarkan waktu),

Jody Ananda,S.Kom (T.Informatika ‘94)
Bambang Wiyono,S.Si (Fisika ‘93)
Vivid Devianti,ST,MM (T. Industri ‘92)
Agus Subhan Akbar,S.Kom (T.informatika ‘94)
A. Andi Leon Arkantoro,ST (T. Perkapalan ‘93)
Kurnia KP Pratomo,ST (T. Sistem Perkapalan ‘93)
Heri Setyono,S.Kom (T. Informatika ‘ 95)
Agus Nasruddin, A.Md (D3 T. Kimia ‘ 96)
Dhia M Shahab,S.Kom (T. Informatika ‘96)
Arif Widya,S.Kom (T. Informatika ‘98)
Kusno Mudiarto,S.Kom (T.Informatika ‘94)
Joko Wijoseno WR, S.Kom (T.Informatika ‘94)
Novel S Sidabutar (T. Informatika ‘95)
Teno P Arief, S.Si (Matematika ‘98)
Danang Sumartono, S.Kom (T. Informatika ‘98)
Willi Jensen, S.Kom (T.Informatika 2001)
Nelly Rosidha Arif, S.Si (Kimia ‘99)
Mario CSP, S.Kom (T. Informatika ‘97)
Munawar Kasan, ST (T. Perkapalan ‘92)

October 4, 2005

Jelang Ramadhan

Filed under: Agama, SosBud, Umum

Demo BBM
Saya teringat sebuah baris di puisi-nya KH Mustafa Bisri, ketika mengulas bulan Ramadhan (saya lupa judul puisinya) :

         Ramadhan,
         Orang-orang bilang engkau adalah bulan Suci,
         Tapi apakah aku mengetahu tentang kesucianmu ?

         Ramadhan,
         Orang-orang bilang engkau bulan penuh berkah,
         Tapi seberapa baik aku mengisi hari-harimu ?

Kemudian terjadi monologue di ruang bathin saya :
(Sang Aku-Jody- SAJ) : Engkau tahu makna bulan Suci ?
(Jody-Alter Ego-JAE) : Tentu tahu. Bukankah bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmah, barokah dimana umat Islam melaksanakan kewajiban berpuasa…

(SAJ) : Sebatas itu pengetahuanmu ? Dari teks-teks ayat yang kau baca tanpa makna ? Dari ceramah-ceramah yang kau cerna tanpa kau pahami ?
(JAE) : Tentu, darimana lagi aku dapatkan pengetahuan, kecuali dari yang pernah kubaca dan kudengar ?
(SAJ) : Berarti engkau belum sampai pemahaman yang benar mengenai bulan Suci…
(JAE) : Seperti apakah pemahaman yang benar itu ?
(SAJ) : Pertanyaanmu yang terakhir, dan tindakan-tindakan keseharianmu, membuktikan bahwa engkau belum melihat hakikat bulan Suci.

Astagfirullah.
Kemudian saya berkaca pada sebuah kaca bening, dan disana saya masih melihat betapa diri ini masih diliputi tindakan-tindakan yang tidak rahmah : jarang membaca ‘ayat2′ Allah, masih menyakiti makhluq Allah, masih ‘berbohong’ walaupun dibungkus dengan kemasan professionalisme, tidak mendidik diri untuk lebih baik, masih melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah, etc,etc.

Masihkah saya berani menyebut Ramadhan ini bulan Suci ?

Sebuah ayat muncul di lintasan fikiran saya : “Syahru ramadhaana unzila fiihi ‘l-Qur’an huda ‘lin-naas. ” Bulan Ramadhan dimana (didalamnya) diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi (umat) manusia.

Seberapa besar saya menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk (al-Huda) ? Dan jika kita mengambil skala treshold (batasan) dan saya masuk di 20% saja, masih pantaskah saya menyebut diri dan mengaku-aku diri sebagai bagian orang-orang beriman ?

Lalu saya teringat ujar-ujaran (hadits) Kanjeng Nabi Saw yang mulia : “Man shaama ramadhaana imaanan wah tisaban, gufiralahu maa taqaddama min dzanbihi.” Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan ini dengan (penuh) keimanan dan kesungguhan (perhitungan), diampunkan dosa-dosanya di masa yang lalu.” Dalam ilmu nahwu-sharaf, kata ihtisaban berasal dari akar kata (masdar) hasiba-yahsibu-hisaaban yang artinya (Insya Allah, karena saya sedang tidak memegang kamus al-Munjid) adalah menghitung (verb), menimbang (verb), penuh perhitungan (adj).

Apakah selama ini saya berpuasa dengan penuh perhitungan ? Selama ini, puasa saya baru dalam taklif amal (tindakan), artinya sekedar memenuhi tuntutan syara’, belum sampai pada skema ta’rif (pengenalan) apalagi tafhim (pemahaman).

Saya lalu teringat ujar-ujaran beliau yang lain mengenai Ramadhan, bahwa sepertiga terakhir bulan tersebut, adalah itqun min ‘n-Naar. Sebuah penebusan dari Api Neraka. Duh Gusti, siapa yang tidak takut akan siksa-Mu yang Maha Dahsyhat ? Dan siapa yang tidak ingin mengharapkan surga-Mu, yang Engkau sebutkan dalam Quran : “tidak pernah terpikirkan oleh rasa, budi, daya dan akal manusia ?

Awal dari ibadah adalah kesucian, itulah mengapa bab Thaharah (bersuci) menjadi bab-bab awal pembahasan kitab fiqh manapun. Ijinkan saya dengan rendah hati meminta maaf dari anda sekalian (pembaca, rekan blogggers, saudara, handai taulan, dll) dari segala salah, lupa, khilaf, agar kiranya, mudah2an, dengan kebersihan hati tersebut, bisa memaknai bulan ini dengan lebih baik.

Ilaahi, ahdini wa’fhamni min hadza ’syahrun wa barokati fih.
Tuhanku, beri aku petunjuk dan pemahaman untuk mengetahui keberkatan (kemuliaan) bulan (Ramadhan) ini.
Ditengah cobaan berat yang kami alami : kenaikan BBM, dan tingkah polah makhluq-Mu yang membuat aksi teror di bumi-Mu yang indah;
Ilaahi, Laa tuhammilna, ma la qaatala nabihi, warhamna, wa’fuanna, wansyurna biquwwatika
Tuhanku, janga beri kami cobaan, yang tidak kuat kami menanggungnya; kasihanilah kami, ampunkan dosa-dosa kami, dan berilah kami kekuatan-Mu untuk menghadapinya.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

September 29, 2005

Hanya ada satu kata : lawan ..dan nge-Blog!!

Filed under: Politik, SosBud, Umum

Demo BBM
Mas Wiji Thukul mungkin saat ini sedang bersenda gurau dan berpuisi dengan Tuhan di alamnya, dan dikuburnya yang entah dimana.

Menyikapi kenaikan BBM, saya memperhatikan dan mengamati dengan cermat. Termasuk aksi 40.000 orang (saya dengar sih begitu) dari berbagai komponen masyarakat yang direncanakan hari ini.

Pertamina memang sudah bangkrut, bangkrut dalam artian secara manajemen dan kultur. Dan walau Widya Purnama, eks-Dirut yang kena kick-off, satu almamater dengan saya, saya menganggap memang dia harus turun dari Pertamina, dengan berbagai kasus yang menggelikan kalau tidak memalukan : kelangkaan BBM, korupsi, pencurian minyak, dan menangnya Exxon di ladang Cepu. Tidak fair kalau saya menyebut ini sebagai kesalahan dia seorang, tapi at least, sebagai CEO, tentunya dia yang harus bertanggung jawab. Kalau bukan dia, lalu siapa ?

Kita bisa melihat website berikut, yang mengklaim sebagai FAQ mengenai kenaikan BBM. Setidaknya sebagai referensi anda sebelum berdemo.

Memang sudah terlalu banyak rakyat Indonesia di-tepu oleh penguasa. Jadi, hanya ada satu kata : Lawan !!

Kalau saya tambah satu : ..dan Nge-Blog.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

Membahas Ahmadiyah

Filed under: Agama, SosBud

My Wife
Kali ini tulisan saya agak serius sedikit, membahas beberapa fatwa yang dikeluarkan MUI (yang saat ini menjadi hot news), salah satunya adalah mendakwa bahwa Ahmadiyah, yang kita sebut saja salah satu aliran dalam Islam, sebagai sesat dan menyesatkan.

Sama dengan agama-agama lain yang jauh lebih tua (Hindu, Budha dan Kristen), Islam juga berkembang secara evolutif, dan terjadilah sekte-sekte atau aliran-aliran yang terbentuk karena beberapa hal sebagai berikut :

  • Kondisi geografis dan genealogis budaya setempat; contoh beberapa aliran tasawuf di India (Chistiyah), Rumi, Islam Kejawen, dll.
  • Perbedaan penafsiran atas teks. Kondisi ini menyebabkan timbulnya beberapa aliran fiqh(Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali). Yang menarik, perbedaan fiqh ternyata sangat dipengaruhi kondisi geografis dan struktur budaya masyarakat. Tapi kita akan mengkaji hal ini di tempat lain
  • Perbedaan politik. Ini menggagas beberapa paham seperti Wahabi di Arab Saudi, Syiah , Khawarij, dll.
  • Campuran dari ketiga faktor diatas

Munculnya sebuah aliran selalu ditandai dengan salah satu faktor diatas, ditambah dengan kuatnya posisi sang tokoh aliran.

Ahmadiyah dicetuskan pertama kali oleh Mirza Ghulam Ahmad di Pakistan. Sebagai sebuah aliran dalam Islam, Ahmadiyah, harus diakui, sebagai aliran yang paling banyak melakukan proses konversi (pendakwahan kepada agama lain, yang akhirnya masuk Islam) dan tradisi berpikir ilmiah. Karena itu jangan salah, tafsir dan terjemah Qur’an untuk bahasa-bahasa yang kita tidak pernah tahu (Swahili, Mambusto dll) dilakukan oleh orang-orang Ahmadiyah. Sebagai sebuah organisasi, Ahmadiyah sangat solid, dengan cabang di berbagai negara. metode dakwah dan basis keuangan yang besar.

Lalu dimana letak kesalahannya ?

Salah satu diktum dalam Ahmadiyah adalah pengakuan bahwa ada nabi setelah Muhammad SAW, dan itu adalah Mirza Ghulam Ahmad sendiri, sebuah pandangan yang dalam teks-teks muhkamat (pasti) Islam jelas salah. Qur’an, Hadits, dan teks-teks sirah (sejarah) Islam telah menuliskan beberapa nabi palsu setelah Muhammad SAW, yang semuanya diperangi karena merusak aqidah dasar umat Islam.

Perbedaan ini pun terjadi di Ahmadiyah, yang mengakibatkan mereka terpecah menjadi dua aliran besar : Qadiani dan Lahore. Qadiyani masih mengakui Mirza sebagai nabi, sementara Lahore menjadi lebih moderat, hanya mengakui Mirza sebagai mujaddid (pembaharu) Islam, tidak sebagai nabi. Pun begitu, kedua aliran ini disepak dari Pakistan, hingga sekarang berlokasi di London, Inggris.

Saya miris menyaksikan penghancuran aset-aset Ahmadiyah di media massa.Tidak adakah jalan dialog ? Kalau memang Ahmadiyah dihukum sesat, tidak perlu kemudian menghancurkan rumah, masjid dan universitas milih Ahmadiyah. Bahkan seorang Salahuddin Al-Ayyubi, meletakkan kembali salib ke tempatnya semula, ketika memasuki Yerusalem.

Saya sendiri secara paham, jelas menghukum sesat untuk aliran Ahmadiyah. Itu soal i’tiqadi, masalah mu’amalah yang kita pakai adalah etika Islam. Dan tidak pernah saya baca etika Islam yang memperlihatkan perlakuan masyarakat kita kepada rekan-rekan dari Ahmadiyah.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

Tentang Ulil

Filed under: Politik, Agama, SosBud

My Wife
Setelah digebuk berulang kali dari berbagai kalangan Islam di Indonesia, kini Ulil digebuk lebih hebat lagi. Dan seperti biasa, tanggapan Ulil selalu khas Ulil. Lihatlah tanggapannya ketika 14 fatwa MUI –yang diantaranya mengharamkan pluralitas, dan Ahmadiyah –, “Fatwa MUI itu konyol dan tolol. ” katanya. “Jadi KH Sahal Mahfudz dan Prof Din Syamsuddin itu tolol ya Mas Ulil..?? ” kata wartawan. “Iya, tolol..” Ulil menjawab sambil nyengir tidak karuan. Padahal KH Sahal Mahfudz adalah guru Ulil di pesantren.

Sebagai seorang putra NU (ini kalau dia masih menganggap diri sebagai putra NU), saya yakin Ulil pasti telah khatam kitab Ta’limul Muta’alim, kitab standar di pesantren yang diberikan di saat-saat awal, yang mengajarkan bagaimana etika belajar dan menghormati guru. Kata-kata Ulil diatas, dan beberapa perkataannya yang lain sangat jauh dari isi buku tersebut.

Saya sebenarnya menyukai gagasan dasar dari Islam Liberal, dan nuansa kiri Islam (yang digagas Hassan Hannafi) yang menjadi pondasi dari beberapa pemikiran-nya memang sesuai dengan pandangan saya. Tapi itu tidak menjadikan saya, by default, menjadi tidak kritis dan taqlid kepada Islam Liberal. Ulil yang saya kenal adalah seorang cendekiawan muda NU (dulu dia ketua Lakpesdam NU, sekarang tidak tahu) bersama Masdar F Mas’udi dengan pemikiran-pemikiran yang segar dan kritis terhadap NU. Tapi menjadi kritis dan berdialektika seharusnya tetap tanpa menghilangkan etika. Cuman beberapa lama sejak bergabung dengan Islam Liberal, beberapa pandangannya menjadi ngawur : kawin campur beda agama, sholat dengan wanita sebagai imam, masalah pakaian yang katanya public decency, dll.

Laisa ‘l-fiqh illa bil khilaf”, begitu sebuah teks dari kitab-kitab standar fiqih, hukum Islam. Jika tidak siap untuk berbeda pendapat, tidak usah belajar fiqih.

Saya dibesarkan dan hidup dalam tradisi kultur NU, bahkan nenek saya almarhum pernah menjadi anggota DPR utusan dari Muslimat NU. Ketika melihat tingkah polah Ulil sekarang, sungguh saya tidak melihat bekas-bekas dari didikan NU kepadanya.

Jika Ulil membaca ini, semoga ini menjadi tausiyah kepadanya.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

September 28, 2005

Soe Hok Gie : Beberapa Sketsa Pemikiran (Bagian I)

Filed under: Politik, Review

soeBagi anda yang telah membaca tulisan saya sekelumit tentang Soe Hok Gie, maka tulisan ini lebih serius untuk mengungkap sisi-sisi pemikiran dari Soe Hok Gie, satu contoh dari apa yang disebut sebagai intelllectual abortus,–orang-orang yang terlalu cepat mati muda sebelum sempat melakukan kerja besar dari pemikiran-pemikirannya.

Soe Hok Gie, sebagaimana intellectual abortus yang lain (Ahmad Wahib, Ada Augusta di Inggris, atau …) tidak sempat meninggalkan sebuah karya yang berisi kompilasi pemikirannya, hanya beberapa catatan2 tentang kehidupannya : “Buku Harian Seorang Demonstran”, an “Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan”, sebuah skripsi untuk menyelesaikan studi sejarahnya di FSUI. Buku kedua, walaupun masih agak prematur, sedikit banyak bisa kita ambil sebagai pijakan untuk meletakkan posisi pemikiran Soe Hok Gie, paling tidak secara ideologis.

Sosialisme
Soe Hok Gie jelas adalah seorang sosialis tulen. Sebagai aktivis dari GM Sos (Gerakan Mahasiswa Sosialis), dia akrab dengan tulisan-tulisan dan pemikir-pemikir sosialis seperti Jean Jaures, Rosa Luxemburg, Gramsci, Sjahrir dan lain-lain. Dia selalu berharap agar setiap asset yang dimiliki negara digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (Pasal 33 UUD ‘45), tapi tanpa melakukan peniadaan kelas yang agresif dan agitatif layaknya aksi kaum Marxis-Leninis.

Sekuler
Pemikiran-pemikiran Gie, jelas berusaha memisahkan antara Agama dan Negara. Jika dia masih hidup sekarang ini, mungkin Gie sudah masuk dalam TO (target operasi)-nya FPI Rizieq Shihab.

Mari kita lihat dalam kerangka bagaimana Gie merumuskan sekularisme-nya.
Beberapa tulisannya dalam “Zaman Persimpangan” (Gie berkesempatan mengunjungi Amerika dan Australia), dia melihat langsung fenomena kaum hippies, anti-establishment dan semacamnya pada waktu itu. Saat itu, issue agama menjadi tidak menarik sama sekali bagi Gie, dan paham sekularian jauh lebih menarik dan sexy bagi orang-orang muda seperti Gie.

Dalam kaitan ini pula kita bisa memahami thesis Nurcholish Madjid di awal 70-an : Islam Yes, Partai Islam No. Ketika label-label agama dilekatkan pada sebuah organ non agama (partai, institusi dan lain-lain) maka dia menjadi kehilangan makna tematis dan historisnya. Bahkan dalam beberapa kasus, hal ini menjadi beban bagi organ yang dilekatkan dengan label agama, untuk selalu bertindak sesuai dengan ‘rules‘ yang terdapat dalam kitab suci.

Evolusi Budaya
Gie percaya, bahwa budaya (dan dalam range tertentu ini juga menyangkut agama, yang dalam kajian sejarah dipandang sebagai sebuah bentuk kebudayaan manusia) bersifat evolutif; selalu bergerak dan berubah sesuai dengan tuntutan jaman. Dalam hal ini, Gie percaya adanya sebuah ‘mixed-for-good‘, adagium bahwa pergesekan antar budaya akan menghasilkan sebuah kebudayaan baru yang lebih baik dari kebudayaan sebelumnya. Karena itu, dalam tataran implementasinya, Gie mendukung kebijakan kawin-campur bagi etnis Tinghoa waktu itu (dan etnis-etnis lainnya juga) agar sebuah nation-state bernama Indonesia ini menjadi sebuah entitas yang plural dan inklusif.

Saya akan membahas lebih lanjut di bagian selanjutnya untuk membedah secara kritis pandangan-pandangan Soe Hok Gie dalam lapangan ideologis dan budaya.

Salam dari Sanur,

Mas Jabier

September 20, 2005

It’s my wife on the paper !!

Filed under: Uncategorized

My Wife
Kira-kira 1 bulan lalu, isteri saya, Idayani, mendapat kesempatan untuk di-profilkan dalam sebuah majalah. Ya, sebagai PR Media Newmont yang sering melakukan relasi dengan wartawan, ternyata diantara wartawan itu ada yang ‘kepincut’ dengan isteri saya yang cantik, dan kemudian memprofilkan dalam sebuah kolom khusus.


IdayaniScanned Image for Article (larger version)

Great. At least at Newmont stand point, it will give benefit knowing that tailing can be a new cosmetics (joking), or even as a new category in newspapers (again,..joking).

I love you, honey…

Mas Jabier

September 18, 2005

Sebuah Gelang, sebuah Kepedulian

Filed under: Umum

Gelang Solidaritas

Simple things, simple ideas combined with hardworking can become an energy of success.” - Anonymous

Kita sering melihat, bahwa sebuah kerja besar, yang nantinya melahirkan sukses dan menimbulkan perubahan yang sangat berarti, sering dimulai dengan ide-ide yang simpel. Bahkan kita harus bersyukur bahwa vending machine tempat para peneliti ARPA mengambil minuman terletak di lantai bawah, dan itulah yang akhirnya membuat mereka mencari solusi agar mereka tahu apakah vending machine itu masih ada isinya atau tidak, …. dan akhirnya dari sanalah Vinc Cerf menemukan TCP/IP protocol, yang menjadi tulang punggung Internet yang kita nikmati sekarang ini.

Gelang adalah sebuah aksesori simple, dan yang saya pakai ini dikeluarkan oleh Tunas Cendekia, sebuah yayasan yang bergerak untuk membantu pendidikan bagi anak-anak di Indonesia. Ide sederhana, dan seratus ribu perak yang kita sumbangkan akan sangat membantu buat mereka.

Lihat saja gambar saya memakai gelang ini ya, cool enough kan ??


Gelang Solidaritas

Thanks for my friend, Ngurah, for giving me this cool stuff. Not only the stuff, but the great ideas regarding solidarity and social awareness behind that. Besides, it’s red, close to my left ideas…:))

September 2005
Salam Dari Sanur,

Mas Jabier






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here